Sudut Payakumbuh

Creative Independent Media

Nasriati, Abdikan Separuh Usia Demi Kebersihan Kota
Kisah

Nasriati, Abdikan Separuh Usia Demi Kebersihan Kota

SudutPayakumbuh.com—Matahari mulai beranjak keperaduannya, hawa panas siang hari masih terasa menyengat membawa aroma yang tidak sedap di balik tumpukan sampah di Pasar Tradisional Payakumbuh. Air tergenang di jalan dan selokan yang mengelilingi los ikan menambah aroma yang cukup membuat pejalan yang melewati akan menutup hidungnya.

NAMUN hal tersebut tidak berlaku bagi Nasriati (54), wanita paruh baya tersebut malah dengan santai berlalu lalang dengan sebuah sapu dan gerobak tempat sampah dikumpulkan. Memakai baju kebesarannya berwarna orange dan lengkap dengan sepatu boot nya, Nasriati siap bertempur dengan sampah-sampah yang sudah menjadi kegiatannya setiap hari.

“Saat ini mulai bekerja pukul 16.00 hingga 19.00 wib yaitu kurang lebih tiga jam. Setelah shalat Ashar, saya pun mulai bekerja menyapu dan membersihkan sampah yang ada di Pasar Tradisional Ibuh tepatnya di los ikan,” ujarnya membuka pembicaraan di siang itu, Rabu (24/6).

Sebagian orang mungkin tidak mengenal Nasriati yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan di Pasar Tradisional Ibuh Payakumbuh dan telah mengabdikan separuh hidupnya untuk membersihkan Kota Payakumbuh. Nasriati satu di antara 230 petugas kebersihan yang ada di Dinas Tata Ruang dan Kebersihan (DTRK) Payakumbuh dan berperan dalam meraih Piala Adipura bagi Kota Payakumbuh.

Saat ditemui di Pasar Tradisional Ibuh Payakumbuh, ia mengatakan telah menjalani pekerjaan tersebut sejak 25 tahun lalu ketika dirinya masih muda. Dulunya, Nasriati bekerja bersama suaminya Amlismar (alm) yang meninggal dunia pada tahun 2007 dalam usia 55 tahun tapi kini sudah 8 tahun sejak kepergian suaminya, ia kini

“Awal bekerja di sini saya menggantikan salah seorang seorang pekerja di lapangan yang telah tidak sanggup bekerja karena usianya yang sudah tua. Tapi akhirnya saya pun ditawarkan untuk bekerja di sini dan langsung menyetujuinya karena saat itu tidak bekerja,” kata Nasriati mengenang.

Ibu empat anak ini juga menceritakan kisahnya dari yang dulu mengayuh sepeda berdua dengan sang suami hingga mampu membeli sebuah kendaraan bermotor sebagai transportasinya untuk bekerja. Keempat anaknya Akmal, Dewi Susanti, Nofri Hidayat, dan Weni Sofia hidup dari hasil jerih payahnya sebagai petugas kebersihan atau tukang sapu di pasar.

“Kalau dibayangkan mungkin keadaan sekarang lebih baik dari sebelumnya. Anak sekolah dan mengaji dulu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Beda dengan sekarang sudah gratis dan ada jaminan yang bisa meringankan beban. Apalagi dulunya hanya berpenghasilan Rp 30.000 per bulan yang diterima satu kali 15 hari,” ujar Nasriati dengan dialek Balai Rupi, Simalanggang, Kabupaten Limapuluh Kota ini.

Hingga kini, status Nasriati yang telah bekerja selama 25 tahun masih sebagai petugas kebersihan yang diupah per hari. Kepada Padang Ekspres ia mengaku tidak terlalu mengharapkan apa-apa dan yang penting dirinya bekerja dan dibayar sesuai dengan apa yang telah dilakukannya.

“Saya tidak sekolah dan memiliki ijazah apapun. Sebab waktu kecil, kedua orang tua sudah meninggal dunia dan saya pun tinggal bersama saudara. Alhamdulillah salah seorang anak saya saat ini telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu instansi. Walaupun saya tidak sekolah, yang penting keempat anak saya bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.

Nasriati mengungkapkan, waktu 25 tahun bukanlah waktu yang sebentar, separuh dari usianya telah diabdikannya kepada Kota Payakumbuh sebagai petugas kebersihan yang senantiasa memungut dan menyapu beberapa kawasan di kota tersebut.

Bekerja selama tiga jam sehari, ia dengan ikhlas menjalani pekerjaan yang membuatnya bisa menghidupi keluarganya hingga saat ini. Selain sore hari, dulunya ia juga pernah mulai bekerja dari subuh tepatnya pukul 04.00 dinihari hingga pagi pukul 07.00 Wib.

“Saya ikhlas bekerja dan menjalani ini semua serta saya tidak pernah malu bekerja sebagai petugas kebersihan atau kasarnya sebagai tukang sapu di kota ini. Tapi saya akan malu kalau melakukan hal yang mencemarkan nama baik saya dan keluarga seperti mencuri. Semoga pekerjaan yang saya jalani ini dapat menjadi yang terbaik bagi saya dan keluarga,” kata Nasriati berharap aka nada kesejahteraan bagi dirinya dan keluarga nantinya.  (*)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published.

Media Informasi Kota Payakumbuh, Sumatra Barat "Creative Independent Social Media"