Sudut Payakumbuh

Creative Independent Media

Teh Daun Gambir Lamaza
Kisah

Nela Harizona, Inovasikan Daun Gambir Jadi Teh ‘Lamaza’

Berbicara tentang Gambir, Kabupaten Limapuluh Kota menjadi salah satu daerah di Indonesia khususnya di Sumbar yang memiliki kualitas gambir yang cukup bagus. Namun kondisi ekonomi terutama mata uang rupiah yang anjlok membuat harga gambir yang pada umumnya diekspor menjadi terpengaruh.

Sehingga kebanyakan petani gambir khususnya yang berada di daerah Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota banyak yang mengeluh dan menderita saat harga gambir murah. Melihat fenomena tersebut, Nela Hari Zona yang lahir di Gunuangmalintang, Kabupaten Limapuluh Kota, 14 Juli 1990 ini menangkap sebuah peluang untuk mengembangkan daun gambir menjadi sebuah produk jadi yaitu berupa teh daun gambir.

Saat ditemui SudutPayakumbuh di rumahnya yang terletak di Nagari Gunuangmalintang mengungkapkan ide mengembangkan teh daun gambir saat dirinya masih kuliah di Universitas Sumatra Utara (USU) tepatnya pada tahun 2012. Ia melihat sebuah penelitian dari seniornya yang meneliti daun gambir dan dijadikan teh.

“Setelah dibaca dan dipelajari, teringat bahwa di kampung halaman saya di Gunuangmalintang, banyak terdapat gambir dengan kualitas yang sangat bagus. Kemudian juga melihat nasib petani gambir yang ketika harga gambir murah banyak yang menderita,” ujar Nela sambil menyuguhkan tiga gelas teh daun gambir kepada SudutPayakumbuh.com dan Opin, salah seorang penikmat teh dari Kota Payakumbuh.

Nela Hari Zona, pemilik Teh Daun Gambir Lamaza
Nela Hari Zona, pemilik Teh Daun Gambir Lamaza

Ia menambahkan jelang menamatkan studi, akhirnya dimulai eksperimen 2012 dan mengalami banyak kegagalan. Namun hal tersebut tidak membuat patah semangat hingga akhirnya merasa rasa teh daun gambir yang diracik ini sudah pas dan sesuai.

“Awalnya racikan daunnya sangat pahit dan tidak sanggup untuk diminum. Tapi setelah beberapa kali eksperimen akhirnya saya menemukan cita rasa teh daun gambir yang pas. Sehingga saya pun yakin mendaftarkannya ke dinas kesehatan setempat dan memperoleh ijin P-IRT No 2101308010106-20,” kata Nela anak keempat dari empat bersaudara ini.

Alumni USU jurusan Sosiologi ini mengatakan usaha yang dimulainya dari nol tersebut genap berusia 6 bulan dimana dirinya meluncurkan Teh Daun Gambir LAMAZA pada 10 Maret 2015 lalu. Sedikit bercerita, saat memulai usaha tersebut dirinya langsung turun ke lapangan mengambil daun gambir di lading milik keluarganya.

“Setelah diambil daunnya kemudian dirajang atau dipotong dan dilanjutkan ke proses fermentasi dengan menjemur daun tersebut sampai kadar airnya hilang. Proses ini masih saya lakukan secara manual,” katanya sambil memperlihatkan foto-foto pengolahan dari daun menjadi bentuk daun teh yang siap untuk disajikan.

Aroma gambir yang sudah mulai hilang tapi saat diminum, rasa gambir yang masih terasa membuat teh daun gambir ini menjadi salah satu minuman yang ternyata menyimpan banyak manfaat. Kepada SudutPayakumbuh.com ia menyebutkan ada beberapa manfaat yang didapat setelah mengkonsumsi secara rutin minuman teh gambir ini.

“Salah satunya dapat melancarkan pencernaan, menyembuhkan penyakit tukak lambung atau maag dan juga cocok untuk diet. Selain itu ternyata setelah dicari informasinya teh daun gambir ini juga bisa menetralisir kandungan nikotin yang ada dalam tubuh, ini cocok buat orang yang suka merokok,” ujarnya menerangkan beberapa manfaat dari teh daun gambir.

Awal mula meluncurkan dan memperkenalkan ke publik ia mengundang walinagari dan masyarakat sekitar untuk mencoba rasa teh daun gambir yang diproduksinya. Berbagai macam respon pun diterimanya terkait inovasi daun gambir yang dilakukan oleh anak dari (alm) Zaini dan (alm) Marnis ini.

“Ada yang suka dan mendukung inovasi ini dan ada juga yang tidak suka karena selama ini gambir sendiri jarang dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini juga diterimanya saat melakukan door to door ke rumah masyarakat setelah melakukan launching,” katanya mengenang perjuangannya dalam memperkenalkan produknya ke tengah masyarakat.

Segala upaya terus dilakukannya hingga memanfaatkan media sosial sebagai wadah baginya untuk mempromosikan teh daun gambir Lamaza yang setiap minggunya melakukan produksi sebanyak 300 bungkus atau 15 kg. Saat ini ia pun telah memiliki pelanggan tetap yang memesan teh daun gambirnya yang berasal dari Jakarta, Padangpanjang, dan Rokan Hilir.

“Meskipun ada masyarakat yang menolak kehadiran teh daun gambir ini, tapi saya tidak pernah patah semangat. Padahal daya jual dan manfaat teh daun gambir ini lebih bagus dari gambir yang biasa dijual atau diekspor dan mengakibatkan petani banyak yang tidak beruntung,” katanya menjelaskan keuntungan lain dari teh daun gambir miliknya.

Nela menerangkan selama ini gambir masih dalam bentuk setengah jadi yang diekspor dan banyak petani atau masyarakat yang rugi. Sementara kalau dijual produk jadi akan jauh mendapatkan untung, salah satu contohnya yaitu diolah ke dalam bentuk teh gambir ini.

“1kg daun yang diolah menjadi gambir atau getah kering hanya menghasilkan seperempat kilogram. Sehingga ketika harga gambir 20ribu perkg hanya bisa menghasilkan 5ribu dari 1kg daun. Lainhalnya dengan produk jadi seperti teh ini. Dalam1 kg daun bisa menghasilkan 20 bungkus teh daun gambir yang masing-masing isinya 15gram. Dengan harga Rp 5.000 perbungkusnya, 1 kg daun gambir tadi dapat meraup keuntungan menjadi Rp 100.000 dari 20 bungkus teh daun gambir,” ujarnya.

Terkait nama LAMAZA yang diusungnya dalam teh daun gambir yang diproduksinya, Nela menjelaskan nama tersebut merupakan penggabungan dari namanya bersama kedua orang tuanya. Menurutnya dengan memasukkan nama kedua orang tua dalam usaha yang dirintisnya dapat memberinya semangat dalam berwirausaha.

“LAMAZA ini berasal dari tiga suku kata LA itu berarti Nela atau nama sendiri, MA ini nama Ibu yaitu Marnis, dan ZA itu adalah Zaini sebagai Ayah. Jadi artinya Nela anak dari Marnis dan Zaini. Saya yakin dengan membuka usaha karena orang tua itu dan dilakukan dengan cara yang baik akan memperoleh hasil yang juga baik. Amin,” katanya mengamini.

Seiring berjalan usaha yang dikelolanya tersebut, ia mengaku sudah mengirimkan dan memberikan proposal bantuan kepada berbagai pihak baik pemerintah maupun pihak swasta. Namun hasilnya masih belum bisa terlihat, khususnya proposal yang diberikannya ke Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Limapuluh Kota.

“Saya sempat kecewa karena setelah mencoba gerakan usaha seperti ini, pemerintah terkesan seolah tidak memberikan respon yang bagus terutama dalam hal permodalan. Katanya membantu tapi realisasinya hingga saat ini tidak ada,” katanya.

Menurutnya pemerintah baru membantu dirinya dalam segi mengikuti pelatihan yang ada di beberapa tempat di Sumbar. Namun ia mengatakan kalau hanya mengikuti pelatihan tanpa ada bantuan permodalan akan susah untuk bergerak dan mengembangkan agar bisa menjadi industri yang besar.

“Apa pun itu, saya yakin proses demi proses akan berjalan yang baik. Berbagai upaya juga telah saya lakukan dalam pengembangan produk ini salah satunya mengikuti berbagai iven sekaligus promosi produk. Alhamdulillah baru-baru ini berhasil menjadi best presentation di Bandung dalam kompetisi wirausaha muda,” katanya dengan bangga.

Meskipun tidak bisa lolos ke final, tapi saya cukup bangga bisa lolos dari 6.600 proposal se-Indonesia dan masuk 90 besar sampai babak 30 besar. Tapi sayang dirinya belum bisa lolos ke 10 besar dan mengikuti final di Jakarta.

Ia berharap ke depannya usaha yang dirintisnya tersebut dapat bermanfaat bagi orang lain khususnya kepada petani gambir yang selama ini masih hidup dalam kesengsaraan saat harga gambir turun dan murah. Semoga ini bisa menjadi solusi nantinya terutama bagi lingkungan tempat tinggalnya di daerah di Jorong Bancah Lumpur, Nagari Gunuangmalintang, Kecamatan Pangkalan Kotobaru, Kabupaten Limapuluh Kota.

“Ke depannya saya akan melakukan inovasi rasa daun teh gambir ini dengan campuran rasa lainnya. Kemudian membuat sirup dari ekstrak daun gambir, permen yang bisa menetralisir nikotin dalam tubuh. Intinya akan berusaha berinovasi dalam mengolah gambir ini dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya berharap.

Untuk mendapatkan teh daun gambir ini, Nela mengatakan dapat langsung menghubunginya lewat 0822 8533 8328 atau PIN 7D8306E5 serta dapat mengunjungi blognya di lamaza.blogspot.com. Ia mengimbau bagi masyarakat di Payakumbuh yang ingin  merasakan rasa teh gambir LAMAZA dapat langsung mencarinya di Niagara Swalayan Payakumbuh

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published.