Sudut Payakumbuh

Creative Independent Media

Irwansyah, Pendiri 5 SLB di Luaklimopuluah
Kisah

Irwansyah, Pendiri 5 SLB di Luak Limopuluah

Tidak banyak yang berfikir untuk memberikan pendidikan layak kepada anak cacat dan berkebutuhan khusus saat itu. Tahun 1980-an menjadi awal bagi seorang Irwansyah yang saat itu baru menamatkan studinya di tingkat pendidikan SMA sebelum melanjutkan pendidikannya.

Usai lulus SMA, Irwansyah yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah Luar Biasa Luak Nan Bungsu Kelurahan Balaijariang, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh melihat sebuah fenomena sosial yang mengantarkan dirinya berkecimpung di dunia tersebut. Saat itu menurutnya belum ada yang berfikir siapa yang akan memberikan pendidikan kepada anak-anak nakal dan berkebutuhan khusus.

“Anak cacat atau berkebutuhan khusus dulunya dianggap menjadi beban oleh masyarakat. Namun saat itu saya merasa terpanggil untuk melanjutkan studi tentang anak berkebutuhan khusus yang dulu berada di Bandung, Jawa Barat. Setelah saran seorang teman, saya pun memutuskan untuk melanjutkan studi di sana,” ujarnya membuka percakapan bersama SudutPayakumbuh.com di ruangannya.

Setelah memutuskan untuk kuliah di Bandung, Irwan tertarik mengambil jurusan untuk anak-anak nakal. Sebab ini menjadi sebuah persoalan yang cukup rumit di dalam keluarga dan menjadi permasalahan yang banyak dijumpai di tengah masyarakat.

“Di sana ada lima jurusan yaitu untuk anak tunanetra, anak tunarungu, anak tunagrahita, dan anak tunadaksa serta untuk anak-anak nakal. Meskipun demikian seiring berjalannya waktu saya pun lebih aktif dalam mengabdi dalam penanganan anak berkebutuhan khusus,” kata suami dari Elya Roza yang juga menjabat sebagai Kepala SLB Sarasi di Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Kota Payakumbuh.

Usai menamatkan studinya di Bandung, ia pun memutuskan untuk mengabdi di Kota Payakumbuh dengan merintis sebuah SLB yang dinamakan SLB Kosgoro tahun 1985. Hingga 1989, ia mendapatkan SK dari pemerintah kota untuk mengabdi di SLB Aur Kuning.

“Di SLB Aur kuning saya mengabdi selama kurang lebih 13 tahun dan kembali mendirikan SLB di Kecamatan Payakumbuh Timur dalam melakukan pemerataan pendidikan untuk semua. Sekolah yang dulunya tidak layak untuk ditempati dan dijadikan tempat belajar akhirnya berubah menjadi SLB Luak Nan Bungsu yang kini bisa dijadikan tempat menimba ilmu bagi 161 anak berkebutuhan khusus di Kota Payakumbuh,” ujar Irwansyah yang berasal dari Solok tersebut.

Seiring ditunjuknya Payakumbuh sebagai Kota Inklusif di Indonesia dan adanya pemekaran di Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, ia memanfaatkan kondisi tersebut dengan kembali mendirikan SLB yaitu SLB Sarasi sebagai upaya pemerataan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di daerah itu.

Alhamdulillah, sekarang sekolah tersebut telah berjalan baik dengan jumlah anak sebanyak 30 orang,” ujarnya bersyukur bisa membantu memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Hingga saat ini, ada lima SLB yang telah didirikannya dengan tambahan satu panti yaitu Panti Sosial Bina Rungu Wicara-Peduli Kasih. Meskipun ada yang sudah tidak beroperasi lagi, ia mengaku sangat peduli terhadap masa depan ABK yang harus mendapatkan perlakuan sama dengan anak pada umumnya.

“Kalau bukan kita siapa lagi yang peduli dan mau berbuat demi anak-anak yang seharusnya mendapatkan penanganan lebih daripada anak biasa lainnya,” ujar Irwan yang memiliki motto Bekerja Keras, Bekerja Cerdas, dan Bekerja Ikhlas ini.

Selama menjalani pengabdian sejak 1987 hingg sekarang ini salah satu pengalaman yang berkesan adalah ketika awal merintis banyak anak-anak yang belum mendapatkan pelayanan seperti saat sekarang ini. Sebuah kejadian yang cukup membuat malu pada waktu itu ternyata tidak saya pedulikan.

“Saat itu ada ABK berumur 18 tahun yang tidak mau belajar di kelas dan kalaupun belajar harus dengan guru laki-laki. Saat itu hanya saya yang laki-laki dan saya pun harus menggendongnya dan dibawa ke dalam kelas. Setelah itu ternyata anak tersebut sedang dalam masa haidnya dan membuat baju yang saya pakai terkena dan ada bercak darah,” katanya.

Namun hal tersebut tidak dipedulikannya karena terlalu bersemangat dalam mengajar dan mendidik ABK saat awal-awal merintis SLB di Kota Payakumbuh. Sehingga ia mengaku menjadi bahan olok-olokan oleh anak-anak saat itu.

“Saya tidak sadar saat itu tapi yang jelas saya hanya memikirkan bagaimana mendidik dan mengajarkan pendidikan kepada anak-anak tersebut agar di masa depannya bisa berguna dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya,” kata Irwansyah.

Kemudian, ia mengaku sejak menjalani pengabdian terhadap pendidikan ABK ini banyak kemudahan dan pertolongan yang diterimanya. Salah satunya yaitu saat mengikuti jambore tingkat nasional pada tahun 1990-an dimana dirinya bersama rombongan berangkat dengan modal pas-pasan.

“Dalam perjalanan di atas kapal, ternyata kami mendapatkan rezeki setelah anak-anak berkebutuhan khusus yang akan mengikuti jamboree nasional melakukan pertunjukan di atas kapal. Sehingga banyak penumpang yang memberikan bantuan, padahal saat itu kami berangkat hanya dengan modal pas-pasan,” kata Irwansyah sambil mengenang saat-saat berkesan dalam karirnya.

Ia berharap dengan adanya SLB di beberapa daerah baik itu Kota Payakumbuh maupun Kabupaten Limapuluh Kota ini, anak-anak berkebutuhan khusus dapat mendapatkan pendidikan yang layak. Kemudian dukungan seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah juga diharapkan membantu anak-anak tersebut untuk masa depannya yang cerah.

“Kepada orangtua saya berharap ke depannya dapat melakukan hal yang tepat kepada anak-anaknya yang berkebutuhan khusus dalam memberikan pendidikan. Hal ini dikarenakan ketepatan pilihan dan sasaran pendidikan anak sangat berpengaruh kepada masa depan anak,” ujar bapak dua anak tersebut mengakhiri. (*)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Media Informasi Kota Payakumbuh, Sumatra Barat "Creative Independent Social Media"