Pagi baru merekah, Pak Iyas telah berdiri menanti pelanggan di depan RSI Ibnu Sina Payakumbuh. Dari sanalah ia berharap, rezeki yang mengalir dapat membiayai kuliah anak-anaknya dan menopang penghidupan sehari-hari.
Wajahnya tidak asing bagi siapa pun yang sering melintasi kawasan itu. Persis di dekat trotoar, di mana tambal ban kecilnya berdiri, tujuh tahun sudah ia mengais rezeki. Pria bernama lengkap Mahdiyasman ini menuturkan bahwa ia memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya berkuliah, satu sudah tamat di UIN Mahmud Yunus Batusangkar dan kini mengajar di salah satu sekolah di Limbanang, sementara yang lain masih menimba ilmu di STAIDA Payakumbuh yang kini berganti nama menjadi Institut Darul Qur’an Payakumbuh (IDAQU).
Orang-orang biasanya memanggilnya dengan nama Buya itu kini telah berusia 55 tahun, semangatnya untuk menguliahkan anak-anak tak pernah padam. Berbagai profesi telah ia jalani. Dua puluh tahun lamanya ia menjadi penjaga sekolah di SDN 03 Payakumbuh, yang ada di Koto Baru Balai Janggo, Kecamatan Payakumbuh Utara. Pekerjaan sebagai kuli bangunan pun ia lakukan bila ada yang memanggil, sebab upah harian dari sana jelas membantu menambah nafkah.
Dari tambal ban, dalam sehari ia bisa membawa pulang 60–70 ribu rupiah. Bila sedang ramai, kadang mencapai 200 ribu rupiah. Pekerjaannya dimulai sejak pukul 05.30 WIB hingga 20.00 WIB. Ketika ditanya dari mana ia belajar menambal ban, ia tersenyum lalu menjawab, “Tembak di ateh kudo seh nyo, alias otodidak,” katanya saat bertemu di SudutPayakumbuh.com.
Namun, sekadar mengandalkan tambal ban tidaklah cukup. Untuk membayar uang kuliah anak, ia mencari langkah alternatif dengan ikut julo-julo. “Kalau indak sarupo itu mungkin caro awak, mungkin anak ko indak lanjuik sakolah do. Jadi yo mode itulah bakumpuan piti ikuik julo-julo, kan,” ujarnya.
Sang istri pun turut berjuang. Dengan tekun, ia berkebun sayur di sekitar rumah demi menambah penghasilan keluarga.
Ketika ditanya apa yang menjadi sumber motivasi hingga sejauh ini, ia hanya berkata pelan namun penuh keyakinan, “Itu kan tergantung dek anak, anak yang ingin manyambuang. Jadi bak mano aka piti bisa dicari, yang jaleh kalau itu permintaan kalian pasti bausahoan.” Begitulah penuturannya, Rabu (17/9/25).
