Nun jauh di pedalaman Luhak Nan Bungsu, di balik bukit-bukit hijau yang menyimpan keteduhan, berdiri sebuah nagari bernama Baruah Gunuang, Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota. Udara di sana sejuk, sawah membentang, dan rumah gadang berjajar rapi seperti saksi bisu kejayaan Minangkabau tempo dulu. Di antara keelokan alam itu, tersimpan riwayat seorang ulama besar yang kini hanya tinggal nama di ingatan orang-orang tua, Syekh Ahmad Abdul Latif, tokoh yang pernah menjadikan Baruah Gunuang pusat pendidikan Islam di zamannya.
Dalam catatan sejarah, Syekh Ahmad dikenal sebagai ulama yang bersahabat karib dengan Maulana Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dari Candung (1871–1970). Keduanya termasuk di antara para pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), organisasi keagamaan yang lahir pada 5 Mei 1928 dan teguh mempertahankan Mazhab Syafi’i serta prinsip Ahlussunnah wal Jamaah di tengah derasnya arus pembaruan Islam kala itu. Nama Syekh Ahmad kerap muncul dalam kisah tentang masa awal PERTI, meski rekam jejaknya tak selengkap sahabat-sahabatnya yang lain.
“Sedikit sekali fakta dan data yang dapat dikumpulkan di lapangan mengenai pribadi Syekh Ahmad ini,” ujar Apria Putra, akademisi yang meneliti sejarah ulama Minangkabau. “Selain masanya yang telah lewat lebih dari setengah abad, penulisan tentang beliau tidak digalakkan sejak dahulu, sehingga sosoknya menjadi kabur.”
Namun di tengah kaburnya dokumentasi sejarah, pengaruh sang ulama masih tercium di udara Baruah Gunuang. Warga setempat tetap memegang teguh ajaran Islam sebagaimana yang diwariskan Syekh Ahmad. Di tengah nagari itu, berdiri megah Masjid Raya Baruah Gunuang tempat beliau mengajar, berdakwah, dan akhirnya dimakamkan. Masjid yang kini berkeramik dan bertembok rapi itu menjadi penanda bahwa daerah ini dahulu pernah menjadi semacam kota santri di ranah Minang.
Jejak kelahiran dan masa kecil Syekh Ahmad memang tak tercatat. Tidak pula jelas kepada siapa ia mula-mula menimba ilmu. Namun dari riwayat lisan, disebutkan bahwa ia pernah berguru kepada Syekh Muhammad Sa’ad Mungka (1859–1922), ulama besar yang dikenal dengan sebutan “Beliau Surau Baru.” Syekh Sa’ad adalah guru dari banyak tokoh penting Minangkabau: Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Arifin Batuhampar, Syekh Abdul Wahid Tobek Godang, hingga Maulana Syekh Sulaiman Ar-Rasuli.
Dalam satu riwayat, diceritakan bahwa Syekh Ahmad pernah berpesan kepada muridnya agar mengambil tarekat ke Mungka, tepatnya ke surau Syekh Sa’ad. Wasiat ini menegaskan adanya hubungan spiritual yang kuat antara keduanya. Bahkan, dalam sebuah sya’ir berbahasa Arab yang ditulis Syekh Sa’ad Mungka, nama Syekh Ahmad disebut secara khusus:
“Kepada seorang yang mempunyai kesungguhan dan kepahaman, yaitu Ahmad al-Latief dari kampung Baruah Gunuang, semoga Allah mengampuninya.”
Bagi masyarakat Minangkabau yang sangat menghormati sanad keilmuan, pujian dalam sya’ir itu menjadi bukti kedalaman ilmu dan akhlak Syekh Ahmad.
Anak bungsunya, Annisa (82 tahun), masih menyimpan kenangan samar tentang ayahnya. “Baba dulu tinggi, jubahnya putih, sorban di kepalanya melilit rapi, di dagunya ada sedikit jenggot,” ujarnya pelan, seperti berbicara pada masa silam. Menurut Annisa, ayahnya sempat menuntut ilmu di Makkah al-Mukarramah dan bahkan mengajar di sana selama beberapa tahun sebelum kembali ke kampung halaman. Sekembalinya dari Tanah Suci, ia membuka pengajian besar di Baruah Gunuang yang ramai didatangi urang siak dari berbagai penjuru.
Pada masa itu, surau bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat pendidikan dan pembentukan karakter. Syekh Ahmad dikenal tegas dalam ilmu, namun lembut dalam bimbingan. Para muridnya diajarkan adab sebelum ilmu, disiplin dalam ibadah, dan istiqamah dalam amal. Ia percaya bahwa ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kekosongan, dan akhlak tanpa ilmu akan menumbuhkan kesesatan.
Ketika PERTI berdiri sebagai wadah ulama-ulama tua yang menolak gelombang modernisme keagamaan yang melanda Minangkabau, Syekh Ahmad menjadi salah satu tokoh yang ikut merumuskan arah gerak organisasi itu. Persahabatannya dengan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli tak sekadar hubungan ulama, melainkan ikatan ideologis untuk mempertahankan tradisi Islam ala surau.
Riwayat menyebut, pada masa agresi militer, Syekh Sulaiman sempat diminta ulama Suliki untuk pindah sementara ke Baruah Gunuang demi alasan keamanan. Ia pun segera berangkat, sebab nagari itu telah dikenal sebagai tempat yang aman bagi ulama dan murid-muridnya, terutama karena pengaruh dan jasa Syekh Ahmad di masa sebelumnya.
Syekh Ahmad wafat pada 1933. Jenazahnya dimakamkan di dalam Masjid Raya Baruah Gunuang, di dekat mihrab tempat ia dulu mengimami jamaah. Di antara masyarakat setempat, kisah wafatnya masih diceritakan dengan kesyahduan. Sebagian percaya, tanah yang menaungi makamnya sering memancarkan aroma harum setiap kali mereka membaca surah Yasin di sekitarnya.
Warisan terbesar Syekh Ahmad bukan berupa harta, melainkan ilmu yang tertanam dalam diri murid-muridnya dan kitab yang pernah ia tulis. Salah satunya adalah naskah berjudul al-Dzikr wa al-Du’a, kumpulan doa dan zikir yang dahulu digunakan dalam wirid harian. Kini kitab itu hanya tersisa dalam segelintir salinan yang disimpan beberapa tokoh di nagari itu.
Ia juga menyampaikan bahwa banyak kitab Baba,” kata Annisa lirih. Tapi setelah beliau wafat, banyak yang tak terurus, akhirnya hilang entah ke mana.
Dari kisah hidupnya yang bersahaja, masyarakat Baruah Gunuang belajar arti istiqamah dalam pengabdian. Ia bukan ulama yang haus panggung atau gemar berdebat, tetapi guru yang menuntun murid-muridnya dengan kesabaran. Di suraunya, ilmu diperlakukan seperti cahaya: tak menyorot untuk membakar, melainkan untuk menerangi jalan.
Namun pesan terakhirnya, sebagaimana dituturkan Annisa, terdengar seperti nubuat yang perlahan menjadi nyata:
“Kini kalian yang lain cieknyo, lah poi den bisuak kalian bacarai-carai ma.”
Artinya:
“Sekaranglah kalian masih bersatu, nanti kalau aku sudah tiada, kalian akan bercerai-cerai.”
Kalimat itu menjadi peringatan pahit. Setelah kepergiannya, masyarakat Baruah Gunuang memang mulai terpecah oleh berbagai aliran dan pandangan keagamaan baru. Tradisi surau melemah, sebagian anak muda lebih tertarik pada gemerlap modernitas. Tapi di antara kabut perubahan itu, nama Syekh Ahmad tetap bergema.
Setiap kali azan dikumandangkan di Masjid Raya Baruah Gunuang, setiap kali surau kecil kembali ramai dengan zikir, orang-orang seolah memanggil kembali semangatnya: semangat seorang alim yang hidupnya diabdikan untuk ilmu, yang mengajarkan bahwa kemakmuran sejati tak datang dari ladang subur atau emas di tanah, melainkan dari hati yang tercerahkan oleh ilmu dan iman.
Dan mungkin, di balik heningnya nagari itu kini, roh pengabdian Syekh Ahmad masih berkelana bersama angin yang meniup lembah-lembah Bukik Barisan mengajarkan sekali lagi bahwa kejayaan sebuah kaum selalu berawal dari ilmu yang dihidupkan dengan cinta.
