Menjemput Pulang Bacaan Langit: Mengingat Qira’at Syekh Abdul Malik dari Makkah ke Batuhampar

Di Nagari Batuhampar, Kab. Lima Puluh Kota, ada kisah yang lama hidup di antara surau-surau tua dan desir angin dari perbukitan. Di sanalah, di tanah yang sejuk dan penuh hikayat itu, seorang ulama ahli Qira’at menyalakan kembali nyala bacaan al-Qur’an yang nyaris padam. Namanya, Syekh Abdul Malik murid dari garis panjang para penghafal dan pembaca langit yang berakar hingga ke Tanah Suci Makkah.

Kisahnya tak bisa dipisahkan dari satu keluarga yang menanam akar ilmu di Batuhampar. Di awal abad ke-20, seorang tokoh bernama Husein, bergelar Angku Kapalo Koto, bermukim di Makkah. Ia dikenal dekat dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram, ulama asal Ampek Angkek yang disegani di Hijaz. Husein hidup di Makkah dalam lingkar para pelajar Minang yang mengabdi di tanah suci. Namun di kampung halaman, Batuhampar, ia meninggalkan seorang anak bernama Muhammad Nur, dan seorang saudara bernama Hasan.

Husein mengirim kabar dari Makkah: ia ingin agar anaknya, Muhammad Nur, segera menyusul ke Tanah Suci untuk menimba ilmu. Namun, kehendak tak selalu sejalan dengan harap. Muhammad Nur tumbuh dengan jalan yang berbeda; ia tak tertarik mendalami ilmu agama. Kabar itu sampai ke Hasan saudara Husein yang kemudian mengambil keputusan senyap tapi menentukan: ia mengirim anaknya sendiri, Abdul Malik, sebagai pengganti sang ponakan. Dari sinilah perjalanan panjang seorang qari’ dimulai.

Abdul Malik muda berangkat ke Makkah, berbekal restu keluarga dan doa ibunya. Di sana ia menemui pamannya, Husein, dan mulai berguru kepada para ulama besar. Dalam keramaian jemaah dan dentum langkah peziarah di Masjidil Haram, Abdul Malik menemukan gairahnya: ilmu Qira’at al-Qur’an. Di antara para guru yang disegani, ia menuntut ilmu kepada Syekh As’ad bin Abdullah al-Asyi, ulama asal Aceh yang telah sepuh namun tetap teguh mengajar. Dari tangan ulama tua itulah, tradisi Qira’at dari dunia Melayu bertemu kembali dengan nadi keilmuan di tanah Hijaz.

Empat tahun lamanya Abdul Malik menetap di Makkah. Ia belajar, mengaji, dan berkhidmat dalam lingkar para pelajar Nusantara. Namun, di kampung halamannya, seorang ibu menua dalam rindu. Hari-harinya di Batuhampar diisi dengan kenangan dan doa yang ia anyam menjadi senandung lirih:

“Dimalah balam babunyi,
Eten di puncak karambia rondah,
Dimalah si Maliak kini,
Eten di surau Koto Mokah.”

“Di mana balam berbunyi, di sana, di puncak kelapa rendah; di manakah si Malik kini, di sana, di surau Kota Makkah.”
Syair itu bukan hanya rindu seorang ibu, melainkan gema kasih yang menyeberang lautan.

Kabar kerinduan itu akhirnya sampai ke telinga Syekh As’ad. Ulama tua itu menatap muridnya dan berkata lembut, “Pulanglah engkau ke negerimu. Sempurnakan ilmu Qira’at kepada muridku, Syekh Arsyad Batuhampar.” Itu bukan sekadar izin, melainkan wasiat spiritual. Berat bagi Abdul Malik meninggalkan Makkah, tapi doa ibunya yang jauh di Batuhampar telah memanggilnya pulang.

Ketika kakinya kembali menapak tanah kampung, Batuhampar tengah tumbuh sebagai pusat ilmu. Di bawah bimbingan Syekh Arsyad Batuhampar ulama besar yang hidup antara 1849–1924 Abdul Malik melanjutkan pendalaman Qira’at yang tujuh. Ia mematangkan hafalan, memperdalam ragam bacaan, hingga akhirnya memperoleh ijazah Qira’at dan izin mengajar dari gurunya. Sejak saat itu, namanya mulai disebut-sebut di Luhak Limo Puluah sebagai ulama dengan suara yang merdu dan lidah yang fasih melantunkan bacaan langit.

Namun Qira’at bukan sekadar seni membaca, melainkan disiplin ilmu yang ketat, penuh sanad, dan menuntut ketekunan spiritual. Dalam setiap huruf yang keluar dari lisannya, Abdul Malik menghidupkan warisan para ulama terdahulu. Ia menjadi saksi bagaimana suara bisa menjadi jalan ibadah, dan bacaan menjadi jembatan menuju kesucian.

Tak berhenti di situ, ia pun mengambil Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dari Syekh Arsyad. Selama bersuluk, ia menjalani riyadhah dan zikir yang panjang, menyepi di ruang-ruang sunyi, mencari Tuhan di balik diam. Suatu ketika, Syekh Arsyad meminta Abdul Malik mengimami para salik yang sedang bersuluk. Ketika membaca ayat-ayat al-Qur’an, Abdul Malik melantunkan dengan berbagai langgam Qira’at bacaan yang asing bagi sebagian orang. Usai salat, beberapa murid mengadukan hal itu kepada gurunya. Tapi Syekh Arsyad hanya tersenyum. “Abdul Malik telah diizinkan membaca dengan berbagai jenis bacaan,” ujarnya. Sejak hari itu, ilmu Qira’at dikenal luas di Batuhampar.

Syekh Abdul Malik hidup dalam keseimbangan antara ilmu, ibadah, dan kesahajaan. Ia mendirikan Surau Darek, tidak jauh dari Kampung Dagang, yang menjadi pusat pengajaran Qira’at di Batuhampar. Dari surau kecil itu, lantunan murid-muridnya membentuk gema yang terdengar hingga pelosok nagari. Ia mengajar dengan keteguhan seorang hafizh dan kelembutan seorang ayah.

Menurut Buya H. Sya’rani, yang mendengar langsung kisah dari Syekh Abdul Malik pada 1938, sang ulama telah mengajar di Surau Darek selama 21 tahun. Jika dihitung mundur, maka diperkirakan ia mulai mengajar sekitar tahun 1917 masa ketika dunia Islam tengah bergolak dan Hindia Belanda masih berkuasa. Dalam kesunyian surau itu, Abdul Malik justru menghidupkan tradisi ilmu yang melawan kelupaan.

Setelah wafatnya, Surau Darek tidak padam. Anak-anaknya melanjutkan jejaknya. Rajudin Malik, salah satunya, dikenal sebagai penghafal al-Qur’an dengan suara yang merdu, meski di akhir hidupnya menjadi tunanetra. Sementara Mansur Malik, anak lainnya, menapaki jalan akademik hingga pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Imam Bonjol Padang. Keduanya menjadi cermin bahwa ilmu bukan warisan darah, melainkan warisan tekad dan keyakinan.

Zaman berganti, tetapi nama Surau Darek tetap bergaung. Setelah Syekh Abdul Malik wafat menurut berbagai riwayat antara 1967 hingga 1979 surau itu dirawat oleh masyarakat Batuhampar dan murid-muridnya. Di sanalah pula dikenal seorang tokoh lain, Syekh Abdurrahman atau Malin Durrah, murid tarekat yang masyhur karena karamahnya. Cerita tentangnya masih menjadi bisik-bisik di warung dan teras rumah: tentang hari ketika sebuah bukit di Batuhampar terbakar, dan Malin Durrah, dari kejauhan, hanya mengibaskan tangan api itu padam seketika. Entah mitos, entah mukjizat, tapi kisah itu tetap hidup, menjadi bagian dari lanskap spiritual nagari.

Di belakang Surau Darek, dua makam berdampingan di bawah satu bangunan yang disebut Gobah pusara Syekh Abdul Malik dan Malin Durrah. Di sanalah jejak dua pejalan ruhani itu berakhir, tapi ajaran mereka terus mengalir dalam bacaan para santri dan gema azan setiap pagi.

Di Batuhampar, setiap kali suara anak-anak melafalkan al-Qur’an dengan langgam yang khas, orang-orang tua akan berbisik pelan, “Itu peninggalan Syekh Abdul Malik.”
Suara itu, seperti air yang tak habis ditimba, terus mengalir dari Makkah hingga ke surau di kampung, dari seorang guru ke murid, dari lidah ke hati. Sebuah perjalanan ilmu yang panjang dimulai di Tanah Suci, disempurnakan di tanah kelahiran, dan kini abadi dalam bacaan yang tak pernah padam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *