Di Minangkabau, Islam tidak tumbuh lewat dentang pedang atau maklumat kekuasaan. Ia meresap perlahan, seperti air yang mencari celah di antara batu. Para ulama sufi memainkan peran kunci dalam proses panjang itu. Sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, surau-surau menjadi pusat denyut keilmuan: tempat tasawuf, fikih, tafsir, qira’at, dan nahwu dipelajari sekaligus dipraktikkan dalam kehidupan sosial. Dari ruang-ruang sunyi itulah terbentuk corak Islam Minangkabau yang berlapis adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.
Para sufi Minangkabau bukan sekadar pengamal wirid atau ahli khalwat. Mereka adalah pendidik, organisator, dan pemimpin sosial. Banyak di antara mereka mendirikan lembaga pendidikan, membangun jaringan tarekat lintas nagari, bahkan lintas wilayah. Reputasi mereka bertahan bukan oleh legenda kosong, melainkan oleh manuskrip, sanad keilmuan, dan jejak murid yang menyebar. Hingga hari ini, makam mereka diziarahi, bukan semata untuk berkah, tetapi sebagai penanda sejarah intelektual Islam di Sumatra Barat.
Tradisi tasawuf di Minangkabau terutama bertumpu pada tarekat syattariyah dan naqsyabandiyah, dengan percabangan ke samanniyah, syadziliyah, dan khalwatiyah. Dari Ulakan hingga Rao, dari Batuhampar sampai Maninjau, jaringan ulama ini membentuk ekologi keilmuan yang padat. Mereka membaca kitab, mengajar akhlak, dan menata masyarakat sebuah kombinasi langka antara spiritualitas dan praksis sosial.
Berikut ini adalah sebagian nama ulama sufi Minangkabau yang dikenal luas dalam ingatan kolektif masyarakat, disajikan tidak berurutan dan tanpa klaim sebagai daftar lengkap. Mereka hidup di zaman berbeda, dengan fokus keilmuan beragam, namun disatukan oleh etos ilmu dan pengabdian.
Di antaranya terdapat Syekh Burhanuddin Ulakan Pariaman, figur sentral syattariyah abad ke-17; Syekh Isma’il Al-khalidi Simabur Al-Makki yang membawa tradisi naqsyabandiyah dan syadziliyah; serta Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang, ulama besar yang kelak dikenal sebagai pendiri organisasi keagamaan modern, yakni PERTI. Ada pula Syekh Tuanku Nan Tuo, Syekh pamansiangan nan tuo, dan Syekh Jangguk Hitam dari Lubuak Ipuh, yang menguatkan jaringan tarekat di pedalaman.
Nama lain muncul dari Batuhampar: syekh Abdurrahman Al-Khalidi kakek dari bapak proklamator Bung Hatta dari pihak ayah, Syekh Muhammad Arsyad, Syekh Dhamrah Arsyadi, hingga syekh darwisy. Dari Maninjau, tercatat Syekh Amrullah Tuanku Kisa’i (Kakek Buya Hamka), Syekh Abdusshamad, dan Syekh Abu bakar Al-Khalidi. Rao melahirkan Syekh Tuanku Mudik Tampang, sementara Silungkang dikenal lewat Syekh Muhammad Shaleh. Dari Barulak, ada Syekh Muhammad Thahir; dari Sungai Pagu, Syekh Mustafa Al-khalidi.
Di pesisir dan rantau, jejak itu berlanjut: Syekh muhammad Jamil Pariaman, Syekh Khatib Ali Padang, Syekh Muhammad Thayyib Padang, hingga syekh Sidi Jumadi Koto Tangah. Di wilayah Luhak Lima Puluh, dikenal Syekh Uwaih Limopuluh Malalo di Tanah Datar bermukim dan di makamkan, Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, dan Syekh Yahya Al-Khalidi Malalo. Dari Pasaman, tercatat Syekh Daud Durian Gunjo; dari Solok Selatan, Syekh Muhammad Arif Sampu dan Syekh Abdul Latif.
Beberapa nama hidup di antara persilangan tarekat: Syekh Abdul Wahid Al-Khalidi Tobek Panjang Ampang Godang Lima Puluh Kota, Syekh Batang Kapeh, Syekh Munaf Bakrin Tuanku Lubuak, dan Syekh Ma’ruf Baliau Bodi. Ada pula tokoh yang dikenal lewat karamah dan pengaruh sosialnya, seperti Syekh Kiramat Surau Tuo Taram, Syekh Baliau Sungai Ameh, dan Syekh Ibrahim Hrun Baliau Bomban.
Selanjutnya, Syekh Mudo Abdul Qadim Balubuih di pedalaman Lima Puluh Kota, Syekh Haji Amin di Taeh Bukik dengan surau nya di perut Gunung Bungsu, ada juga Syekh Sa’ad Mungka di Mungka, ada juga Syekh Ahmad Baruah Gunuang, dan Syekh Sholeh Padang Kandih. Sedang, di Kumango terkenal dengan nama Syekh Abdurrahman Kumango ”Alam Basifat”.
Yang menarik, para ulama ini tidak berdiri berhadap-hadapan dengan adat. Mereka justru merajut kompromi kreatif antara norma lokal dan prinsip syariat. Melalui pengajaran tasawuf sunni berbasis tazkiyatun nafs, adab, dan disiplin suluk mereka membumikan Islam tanpa memutus akar budaya. Dalam istilah keilmuan, mereka memadukan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat sebagai satu tarikan napas.
Hari ini, ketika perdebatan keagamaan sering terjebak pada dikotomi “tradisional” dan “modern”, jejak para sufi Minangkabau menawarkan pelajaran lain. Islam pernah hidup sebagai pengetahuan, etika, dan kerja sosial sekaligus. Di surau-surau tua itu, agama tidak berteriak; ia bekerja. Dan dari sanalah, Minangkabau belajar mengenal Tuhan dengan ilmu, laku, dan tanggung jawab sosial.
