Sudutpayakumbuh- Di tengah naiknya harga bahan baku dan cuaca yang tak menentu, usaha kerupuk singkong milik warga Nagari Sarilamak masih bertahan sebagai tumpuan ekonomi keluarga. Selama tiga tahun terakhir, usaha rumahan ini terus berproduksi meski keuntungan kian menipis akibat biaya produksi yang terus meningkat.
Pemilik usaha, Ike, menjelaskan bahwa proses pembuatan kerupuk singkong dimulai dari pengupasan ubi, kemudian diparut, dicetak, dan dijemur hingga kering sebelum siap dipasarkan. Dari satu karung ubi seberat 50 kilogram, usaha ini mampu menghasilkan sekitar 500 buah kerupuk.
Namun, proses penjemuran menjadi tantangan terbesar. Ketergantungan pada cuaca membuat produksi tidak selalu berjalan lancar.
“Kalau cuaca panas, produksi bisa jalan terus. Tapi kalau hujan, seperti kemarin, tidak bisa produksi sama sekali,” ujar Ike saat ditemui sudutpayakumbuh.com, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya aktivitas produksi biasanya dilakukan mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, sementara proses pengeringan dilanjutkan setelahnya. Untuk pemasaran, kerupuk yang telah kering dijual kepada tengkulak yang datang langsung ke rumah produksi setiap dua hari sekali.
Ia menyebut untuk harga jual saat ini berada di angka Rp35.000 per 100 buah kerupuk. Meski demikian, Ike mengaku keuntungan bersih mengalami penurunan akibat kenaikan harga bahan baku.
“Dulu bisa dapat bersih Rp50.000 sampai Rp60.000 sehari. Sekarang paling sekitar Rp45.000,” katanya.
Tak hanya itu, kenaikan harga ubi menjadi salah satu faktor utama. Saat ini, ubi didatangkan dari Dumai dengan harga sekitar Rp22.000 per kilogram, jauh lebih mahal dibandingkan ubi lokal yang dahulu hanya sekitar Rp2.000 per kilogram. Selain itu, ubi lokal jenis sanjai yang dulu banyak digunakan kini sudah sulit ditemukan.
Tidak hanya bahan baku, biaya peralatan juga ikut naik. Cetakan kerupuk yang sebelumnya dibeli seharga Rp15.000 kini mencapai Rp50.000 per unit.
Meski demikian, Ike tetap berharap usahanya dapat terus bertahan dan berkembang.
“Harapannya harga kerupuk bisa naik, supaya sebanding dengan biaya produksi yang sekarang makin mahal,” tutupnya (Gathan/Mg)
