Pagi Rabu, 21 Januari 2026, sekelompok peziarah datang dengan cangkul, parang, sabit, ke sebuah sudut sunyi di Jorong Batu Tanyuah, Nagari Koto Tangah Batu Ampa. Di sanalah makam seorang ulama tua Minangkabau dikenal sebagai Baliau Batu Tanyuah berada, tersembunyi di balik semak belukar yang lama tak tersentuh. Lokasinya tak jauh dari jalan raya penghubung Batuhampar dengan perbatasan Kabupaten Agam, namun jejaknya nyaris terhapus oleh waktu.
Para peziarah itu bukan datang dari satu jalur tarekat atau satu komunitas tunggal. Mereka berasal dari berbagai latar silsilah sanad keilmuan, disatukan oleh kesadaran yang sama: merawat memori keulamaan yang kerap luput dari perhatian. Aksi pembersihan makam ini berlangsung sederhana, nyaris tanpa seremoni, tetapi sarat makna simbolik sebuah laku adab dalam khazanah tasawuf, menjaga jejak guru sebagai bagian dari etika spiritual.
Rajo Mangkuto Alam, salah seorang penggiat ziarah yang terlibat, menyebut kegiatan ini bukan sekadar kerja fisik. Ia melihatnya sebagai ikhtiar kultural dan keagamaan. “Kami menargetkan setahun kedepan ada 40 makam yang Insya Allah bisa juga untuk dibersihkan, semata-mata untuk menghargai beliau-beliau nan telah berpulang karena berjasa besar untuk kita hari ini, dibuktikan dengan kita merasakan dan memeluk Islam hari ini,” ujarnya.
Warga sekitar menyambut kegiatan itu dengan rasa lega. Herman, pria paruh baya yang tinggal tak jauh dari lokasi makam, mengakui bahwa kawasan tersebut memang telah lama dipenuhi semak. “Biasanya saya yang membersihkan makam-makam yang ada di sini, cuman beberapa waktu ini saya belum sempat, dan alhamdulilah ada yang membantu hari ini,” katanya sambil memerhatikan para peziarah bekerja.
Nama Baliau Batu Tanyuah sendiri hidup lebih kuat dalam ingatan kolektif ketimbang catatan tertulis. Seperti banyak ulama Minangkabau abad silam, riwayat hidupnya tak terdokumentasi secara lengkap. Tradisi penulisan manaqib belum menjadi kebiasaan yang mapan kala itu. Akibatnya, figur-figur penting dalam sejarah transmisi keilmuan Islam hanya bertahan melalui oral history, cerita surau, dan sanad murid ke guru.
Namun posisinya dalam genealogi keilmuan tidak bisa dipandang remeh. Baliau Batu Tanyuah dikenal sebagai guru pertama almarhum Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (w. 1957), tokoh besar pemangku Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Sammaniyyah Khalwatiyyah, yang pengaruhnya meluas dari pedalaman Minangkabau hingga Tanah Malaya. Menurut riwayat yang dituturkan Apria Putra, sebelum Syekh Mudo menimba ilmu syari’at dan tarekat kepada ulama-ulama besar abad ke-19 dan awal abad ke-20, ia terlebih dahulu menerima mukaddimah berbagai disiplin keilmuan dari Baliau Batu Tanyuah.
Nama asli ulama ini hingga kini belum berhasil dilacak. Yang tersisa justru gelarnya: “Baliau”. Dalam tradisi keislaman Minangkabau, penyebutan ulama dengan kata “baliau” merupakan bentuk ta’zhim, penanda penghormatan yang tinggi. Nama pribadi sengaja ditanggalkan, diganti dengan laqab yang dilekatkan pada tempat, surau, atau ciri khasnya.
Tradisi ini melahirkan deretan ulama yang dikenang melalui gelar serupa: Baliau Simabua, Baliau Batuhampa, Baliau Surau Baru, Baliau Kumpulan, Baliau Batubasurek, hingga Baliau Batu Tanyuah. Mereka umumnya dikenal sebagai sesepuh tarekat, figur rujukan dalam disiplin tasawuf, dan penjaga etika spiritual masyarakat.
Pembersihan makam di Batu Tanyuah itu, pada akhirnya, bukan hanya soal merapikan pusara. Ia adalah praktik memorialisasi usaha merawat ingatan sejarah Islam lokal, ketika teks tertulis minim dan sanad keilmuan menjadi jembatan utama. Di tengah modernitas yang kerap melupakan akar, kerja sunyi para peziarah ini menjadi pengingat: sejarah keulamaan tak selalu hidup di buku, tetapi juga di tanah, di ziarah, dan di adab yang terus dijaga.
