“Mungkin bagi beberapa orang percaya terhadap dukun atau kekuatan jin superstitious gitu enggak apa-apalah. Ya itu bagian dari budaya. Tapi bagaimana jika kepercayaan ini berpotensi membuat hidup-hidup orang seumur hidup menjadi bermasalah dan tidak bisa kembali lagi. Bersama saya dokter Jiemi Ardian spesialis kedokteran jiwa, selamat datang di kelas pakar,” ujar dr. Jiemi Ardian membuka video edukasinya di kanal YouTube MALAKA, yang tayang pada 7 Oktober 2025 dan telah ditonton lebih dari 175 ribu kali.
Kalimat pembuka itu bukan sebatas retorika, tapi sebuah peringatan sosial tentang bagaimana kepercayaan mistis di masyarakat Indonesia kerap berujung pada kehilangan yang tidak perlu, kehilangan kesempatan, harapan, bahkan masa depan seseorang.
dr. Jiemi, seorang psikiater, penulis, sekaligus penulis buku ”Pulih dari Trauma: Berkenalan dengan Trauma Processing Theory”, berbicara dengan nada tenang tapi penuh ketegangan.
Dalam video berdurasi lebih dari 8 menit itu, ia tidak sedang menyerang budaya lokal atau praktik spiritual, tapi ia berusaha menyodorkan kenyataan pahit tentang betapa mahalnya harga dari sebuah kesalahan persepsi terhadap penyakit jiwa. Di tengah masyarakat yang masih memandang gangguan kejiwaan sebagai kesurupan atau kutukan, ribuan pasien kehilangan peluang pulih karena lebih dulu dibawa ke “orang pintar” ketimbang ke dokter.
“Teman-teman, saya pernah tahu sebuah kasus yang saya tangani sendiri. Ada seorang anak yang baik, brilian sebenarnya mungkin, tapi kemudian dia kesurupan jin. Karena kesurupan, dia dibawa ke orang pintar. Bukan saya jelas orang pintarnya. IPK saya lumayan sih di atas 3,5 tapi kayaknya saya kurang pintar bagi keluarganya. Jadi dibawa ke orang yang lebih pintar dulu. 1 tahun pengobatan, 2 tahun pengobatan, 3 tahun pengobatan, uangnya mulai habis. Mereka menjual sawah, menjual ternak, dari yang tadinya cukup berada sampai jatuh miskin. Tapi karena cintanya pada anak ini, keluarga ini berkorban sebisanya agar sang anak kembali menjadi normal. Tidak lagi dirasuki jin. Bertahun-tahun kemudian karena tidak ada progres, akhirnya dia pergi ke orang yang kurang pintar ini. Dan setelah asesmen, orang yang kurang pintar ini menilai bahwa oh ternyata anak ini mengalami skizofrenia. Kabar buruknya, saya tahu 5 tahun kemudian,” tutur Jiemi.
Ia menerangkan kepada kita bahwa kisah itu sebagai contoh klasik dari ironi sistem kepercayaan yang berkelindan dengan minimnya literasi kesehatan mental di Indonesia. Dan sudah tak sedikit keluarga yang sudah kehilangan segalanya uang, waktu, dan martabat sebelum akhirnya tahu bahwa yang mereka hadapi bukanlah “jin yang merasuki”, melainkan gangguan neurobiologis yang bisa ditangani secara medis. Skizofrenia, menurut Jiemi, adalah gangguan otak yang kompleks, tapi bukan akhir dari kehidupan sosial seseorang.
“Pada saat itu kebetulan saya melayani BPJS di sebuah rumah sakit. Yang mana anak ini dan orang tuanya datang, artinya tidak membayar. Pengobatan dilanjutkan dan anak ini bisa sedikit lebih baik. Apa yang membuat saya marah di sini? Teman-teman, apakah teman-teman tahu kalau skizofrenia sebenarnya bisa sekali untuk ditangani dan seseorang berpotensi untuk kembali ke kehidupannya secara normal. Dengan satu syarat, dia perlu ditemukan di awal dan mendapatkan treatment di awal. Jika kemudian penanganan ini terlambat, maka outcome-nya akan berkurang jauh. Semakin lama pengobatan yang ditunda, semakin buruk harapan ke depannya,” lanjutnya.
Nada suaranya terdengar tegas. Dalam dunia psikiatri, diagnosis dini memang krusial. Semakin cepat seseorang mendapatkan intervensi medis, semakin besar kemungkinan ia kembali menjalani kehidupan normal. Namun di banyak daerah di Indonesia, diagnosis semacam itu bisa tertunda bertahun-tahun karena stigma dan keyakinan spiritual yang kuat.
Banyak yang lebih dulu pergi ke dukun, ustaz, atau pengobatan alternatif ketimbang ke dokter jiwa. “Kita sering menganggap sakit jiwa itu soal moral, bukan soal medis,”.
Ia tidak menolak keberadaan dukun sebagai bagian dari kebudayaan, tapi menegaskan bahwa ketika praktik spiritual menggeser penanganan medis terhadap gangguan mental, di situlah masalah bermula. Di Jawa Timur, pengobatan alternatif seperti yang dilakukan Ningsih Tinampi di Pasuruan dan Ida Dayak di Depok pernah menarik ribuan orang. Jiemi menguraikan jika fenomena ini bukan semata kesalahan individu, tapi cerminan dari sistem sosial yang gagal memberi ruang aman bagi orang dengan gangguan jiwa.
Dalam konteks itu, data menjadi penegas. Indonesia, menurut Jiemi, menduduki peringkat kedua dunia dalam disability adjusted life year (DALY) untuk kasus skizofrenia. “Hebat ya, dalam disability adjusted life year pada kasus skizofrenia. Apa maksudnya? Harusnya orang-orang ini enggak perlu hidup disable, tapi jadi disable karena penanganannya terlambat. Kenapa penanganannya terlambat? Tentu faktornya banyak. Misalnya keterbatasan psikiater yang jumlahnya mungkin baru seribuan tersebar di seluruh populasi di seluruh Indonesia ada 270 juta populasi, tentu jumlahnya kurang. Itu salah satu faktornya. Sehingga pemerintah bergerak untuk peningkatan jumlah psikiater agar bisa melayani lebih luas lagi masyarakat sehingga kasus-kasus seperti ini enggak perlu terjadi,” kata Jiemi.
Pernyataannya memperlihatkan kesenjangan serius antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga ahli. Rasio psikiater di Indonesia hanya sekitar 1 banding 270 ribu penduduk. Artinya, satu dokter jiwa harus menangani ratusan ribu orang.
Dalam situasi ini, masyarakat yang tidak memiliki akses atau pemahaman yang cukup tentang kesehatan mental sering kali mencari jawaban di luar jalur medis kepada dukun, paranormal, atau bahkan tokoh agama yang tak memiliki kompetensi di bidang psikiatri.
Padahal, menurut Jiemi, keterlambatan penanganan bukan hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga menambah beban sosial. Banyak pasien akhirnya kehilangan fungsi sosial mereka: tidak bisa bekerja, tidak bisa bersosialisasi, bahkan ada yang harus dipasung seumur hidup karena dianggap berbahaya bagi lingkungannya. “Ini bukan hanya tentang kehilangan uang,” katanya dalam video itu. “Ini tentang harapan yang hilang.”
Jiemi mengajak publik untuk berpikir ulang tentang apa yang disebut “kearifan lokal”. Baginya, kepercayaan terhadap hal-hal mistis tidak selalu salah selama tidak menggantikan logika medis. Namun, ketika kepercayaan itu membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk sembuh, maka yang disebut kearifan itu berubah menjadi kebodohan kolektif. Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat sistem layanan kesehatan jiwa di tingkat primer puskesmas, rumah sakit daerah, hingga layanan konseling sekolah agar masyarakat tidak lagi menganggap pergi ke psikiater sebagai aib.
Bagi Jiemi, perjuangan melawan stigma adalah perjuangan kemanusiaan. Ia tahu bahwa sebagian orang masih menganggap konsultasi ke psikiater sebagai tanda “gila”. Tapi baginya, orang yang memilih pergi ke dokter jiwa justru sedang berani. “Kita ini seringkali lebih takut dianggap aneh daripada menjadi sehat,” ujarnya lirih dalam salah satu sesi wawancara.
Dengan itu, video “Skizofrenia Bisa Pulih, tapi Budaya Kita Menghambat” yang ditayangkan oleh YouTube MALAKA ini jika dicermati bukan sekadar edukasi, tapi adalah kritik tajam terhadap cara berpikir masyarakat.
Sekaligus memperlihatkan bahwa kesembuhan bukan hanya perkara obat, tetapi juga kesediaan untuk mengubah pola pikir kolektif. Di balik humor sarkastik tentang “orang yang lebih pintar” itu, Jiemi sedang mempersoalkan sistem kepercayaan yang sudah terlalu lama membuat manusia kehilangan potensi terbaiknya.
Meski dalam video itu suaranya terdengar datar tapi mengandung makna mendalam: jangan anggap sederhana apa yang kita percayai. Sebab, di antara keyakinan yang tampak sepele itu, sering kali tersembunyi nasib seseorang yang tak akan pernah kembali seperti semula.
