Buku kumpulan puisi yang berjudul WiFi di Atas Kuburan karya Zikri Almarhum dibedah dalam sebuah diskusi sastra yang berlangsung di Kopi Square, Balai Baru, Koto Nan Godang, Payakumbuh, Minggu sore, 25 Januari 2026. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Tanah Rawa tersebut hadir berbagai kalangan pembaca, mulai dari pelajar hingga pegiat sastra komunitas, yang menjadi penanda lanjutan dari atensi publik yang cukup besar terhadap buku ini sejak akhir 2025.
Buku WiFi di Atas Kuburan diterbitkan oleh Penerbit JBS, dan sempat menjadi salah satu buku puisi yang paling banyak diperbincangkan di Kota Padang, terutama di Toko Buku dan Perpustakaan Arsip Steva, karena menjadi tempat pertama kali buku ini dibedah. Dalam catatan JBS, buku Zikri ini masuk ke jajaran terlaris di bulan Desember 2025, terutama di toko-toko buku independen. Popularitas tersebut tidak lepas dari gaya penulisan Zikri yang dianggap segar, jenaka, namun menyimpan lapisan kegelisahan yang dalam.
Tema-tema yang diangkat dalam buku ini berkisar pada kecemasan hidup, identitas, dan relasi manusia dengan nilai-nilai yang selama ini dianggap mapan. Puisi-puisi Zikri kerap mempertemukan yang profan dan yang sakral, membungkus persoalan serius dalam ungkapan ringan, bahkan lucu. Ironi, sinisme, dan nuansa kelam hadir berdampingan dengan humor, membuat pembaca tertawa sekaligus mengernyit.
Diskusi buku ini menghadirkan Ilham Yusardi sebagai pembedah. Ilham dikenal sebagai penulis puisi, dengan sejumlah karyanya tergabung dalam buku Dua Episode Pacar Merah, antologi puisi Sayembara Puisi Sumatra Barat 2005. Selain menulis, Ilham juga aktif dalam berbagai komunitas teater. Sementara itu, acara dipandu oleh Yeni Purnama Sari, yang juga merupakan penulis puisi.
Dalam pemaparannya, Ilham menyoroti cara Zikri memperlakukan kesakralan dalam puisi-puisinya. Menurutnya, Zikri tidak menghancurkan kesakralan, tapi ia menggesernya ke wilayah yang lebih cair dan dekat dengan keseharian pembaca. “Pusi-puisi Zikri mampu membuat kita telanjang, dan jika ada cermin membuat kita flashback dengan aib-aib yang telah kita perbuat di masa lalu,” ucap Ilham seraya menyebutkan beberapa contoh puisi dalam buku tersebut.
Ilham juga menyinggung judul buku WiFi di Atas Kuburan yang menurutnya menjadi pintu masuk untuk memahami keseluruhan gagasan Zikri. Ia melihat judul itu sebagai permainan simbolik yang berani. “Siapa yang tidak mensakralkan kuburan? Entahkah itu kuburan orang tua kita, keluarga kita tentu itu sangat sakral. Namun, Zikri mencoba mempermainkan itu hingga ia meruntuhkan batas-batas kesakralan,” ucapnya.
Di samping itu, salah satu peserta dari kalangan pelajar, juga memberikan tanggapan. Kepada Sudut Payakumbuh, Hanifah Disastra (16), pelajar SMAN 1 Harau, ia mengaku menemukan perspektif baru dari buku tersebut. “Saya menemukan jika dalam menulis buku itu sebenarnya banyak hal-hal yang simpel dan unik untuk ditarik seperti yang dilakukan oleh penulis (Zikri Almarhum) dia mengambil konsep-konsep yang dekat dengan kita, tapi disajikan dengan unik dan dengan mana yang beragam, seperti ia mengolah ulang kembali puisi Chairil Anwar di dalam bukunya menjadi sebuah puisi baru,” ujarnya.
Hanifah menambahkan bahwa Zikri mencoba keluar dari pola yang sudah lazim dalam penulisan puisi. “Pov lain yang saya rasakan, Zikri anti mainstream salam karyanya, yang ga biasa orang lakukan, ia coba lakukan dengan makna yang dalam, unik dan beda dengan yang lain,” tutupnya kepada Sudut Payakumbuh.
Zikri Almarhum sendiri hadir dalam acara tersebut dan memberikan penjelasan mengenai keterangan singkat soal profil buku yang ia tulis tersebut. Saat diwawancarai usai diskusi, ia menyebut jika karya ini baru saja diterbitkan di akhir 2025, “Oh, buku WiFi di Atas Kuburan ini terbitan JBS, Jogja pada tahun 2025 akhir antara Oktober atau November. Dan di buku ini ada 50 atau 54 puisi,” tuturnya.
Ketika ditanya mengenai motivasi menerbitkan buku ini, alumni MTI Canduang tersebut menjelaskan ada tiga alasan utama. “Hal yang motivasi ada tiga. Yang pertama karena kecenderungan saya pemalas menulis puisi dan mengedit puisi, walaupun saya peram pun tidak akan masak. Jadi saya terbitkan saja supaya akan dikritik oleh banyak orang itu bagian editor alami secara organik bagi saya untuk menerbitkan buku kedua, kalau saya tidak terbitkan, saya merasa terlalu dekat dengan ini dan merasa sudah bagus saja padahal tidak bagus,” ujarnya.
Alasan kedua, menurut Zikri, berkaitan dengan kebiasaan menulis di media sosial. “Kemudian yang kedua karena puisi-puisi ini banyak juga berangkat dari hal-hal yang saya tulis dan saya bagikan di Facebook. Saya ingin mengembalikan puisi itu kepada teks an sich. Maksudnya kalau di Facebook orang yang like puisi saya itu bukan karena hanya puisinya mungkin karena jadi dalam puisi itu ada foto yang saya lampirkan misalnya, entahkah musik, atau font-nya barangkali,” katanya.
Adapun alasan ketiga berkaitan dengan sifat dunia digital yang cepat usang. “Yang ketiga, kalau di Facebook di digital itu kan itu berdasarkan saya merespon hal-hal yang viral terus saya apa dan itu justru jadi kadaluarsa. Jadi sebagai artefak-artefak apalah atau pencatat-pencatatan momen tertentu dalam buku ini bisa dilihat itu. Tapi karena algoritma viral lebih cepat daripada metafora. Jadi kemungkinan puisi-puisi ini bisa jadi klise suatu saat kalau saya tidak diperbaharui dengan gaya bentuk ungkap yang baru cuma mengandalkan yang viral-viral saja,” ungkap Zikri, yang kini tinggal dan berkegiatan di Mentawai.
Soal durasi proses kreatif, Zikri mengakui bahwa penulisan buku ini memakan waktu bertahun-tahun. “Kira-kira dari tahun 2016 sampai tahun 2023-an lah. Itu acak saja saya ambil. Kadang-kadang ada puisi yang 2014 editnya 2023 misalnya. Kadang-kadang ada puisi tahun 2022 dipecah jadi dua,” katanya.
Atensi terhadap buku ini juga terlihat dari peredarannya di toko buku. Di Toko Buku Steva, Kota Padang, WiFi di Atas Kuburan dilaporkan telah habis terjual dan saat ini tengah dipesan ulang. Fenomena yang cukup untuk menandai bahwa buku puisi, dengan segala kegelisahan dan humornya, masih menemukan ruang dan pembaca di tengah lanskap sastra lokal hari ini.
