“Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mempunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya.” Kalimat Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim dalam Tsabitul Qulub jilid ketiga itu menjadi semacam pintu masuk batin ketika langkah membawa ke Jorong Pauah, Dusun Sungai Dareh, Kamang Mudiak beberapa waktu lalu.
Di sebuah rumah yang sederhana, Buya Sammurni Pakiah Jangguik menerima silaturahmi dengan ketenangan khas seorang salik. Ia bukan sekadar figur pewaris silsilah Tarekat Sammaniyah wa Naqsyabandiyah, tapi juga penjaga ingatan spiritual sebuah tradisi tasawuf lokal yang hidup.
Di suraunya, generasi muda duduk bersila, mengaji, berzikir, dan menyusun disiplin rohani sebuah pemandangan yang jarang ditemui di tengah arus modernitas yang kerap meminggirkan laku suluk.
Buya Sammurni memahami betul habitus tarekat yang diwariskan Oyah Balubuih, Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim. Dalam banyak ranji, jalur silsilah sering kali menempatkan Naqsyabandiyah sebagai pintu awal. Namun, sebagaimana dituturkan Buya, Syekh Mudo justru menegaskan Sammaniyah sebagai fondasi awal riyadhah, terutama bagi kaum muda. Di sinilah tampak posisi Syekh Mudo sebagai mujtahid tarekat, yang menimbang konteks sosial dan psikologi murid dalam menapaki jalan taqarrub ilallah.
Silsilah keilmuan Buya Sammurni berakar kuat. Ia berguru kepada Buya Annas Malik bin Syekh H. Abdul Malik, cucu langsung Syekh Mudo Abdul Qadim, serta Buya Inyiak Bila, putra Syekh Tuanku Jadid Pagadih. Percakapan kami mengalir panjang, menyingkap fragmen-fragmen sejarah para guru, sanad keilmuan, hingga etika adab murid dalam tradisi sufisme Minangkabau.
Setiap Kamis, wirid di surau Buya Sammurni digelar bersamaan dengan tawajjuh praktik konsentrasi batin yang menjadi inti pedagogi tasawuf. Di sana, tarekat tak sekadar diwariskan sebagai ritus, tetapi sebagai ideologi keagamaan yang hidup, defensif sekaligus reflektif, menjawab zaman tanpa kehilangan akar.
Catatan perjalanan ini pun pada akhirnya bermuara pada kegelisahan yang juga disampaikan Apria Putra, Angku Mudo Khalis: tentang orang-orang yang mengatasnamakan warisan keilmuan Balubuih, tetapi enggan menjadikan Oyah Balubuih beserta ajarannya sebagai rujukan hidup.
Nama kerap dijadikan sandaran eksistensi, bukan jalan menempuh ilmu. Menyebut Syekh Mudo Abdul Qadim tanpa pernah menziarahi jejaknya, tanpa menelusuri sanad dan menghidupkan amalannya, menyisakan jarak yang tak cukup dijembatani oleh doa semata. Tarekat, pada akhirnya, menuntut kesetiaan laku bukan sekadar pengakuan.
