Categories Warta

Festival Surau Minangkabau Bakal Dilaksanakan di Nagari Taram

Bagi orang Minangkabau, surau bukan hanya tempat salat. Ia pernah menjadi asrama pendidikan, ruang musyawarah adat, pusat pembinaan karakter, sekaligus tempat kaderisasi kepemimpinan.

Di sanalah nilai Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menemukan bentuk praksisnya. Namun, perubahan sosial pelan-pelan menggeser posisi itu. Surau yang dahulu hidup dalam ritme keseharian warga, kini kerap sepi.

Anak-anak muda tak lagi bermalam di dalamnya. Pendidikan formal, gawai, dan pola hidup yang makin individual membuat surau kehilangan denyut lamanya.

Konteks itulah yang melatari festival ini. Dengan tema “Surau sebagai Titik Temu Islam dan Budaya: Menghidupkan Warisan, Merajut Peradaban Secara Berkelanjutan,” panitia menggabungkan diskusi intelektual, pertunjukan seni tradisi, lokakarya kebudayaan, hingga pemberdayaan ekonomi warga. Salawat dulang, rabab piaman, silek tuo, dan randai akan tampil berdampingan dengan forum kajian yang menggali ulang filosofi surau sebagai institusi sosial-keagamaan.

Program ini berada di bawah koordinasi sejumlah pihak, mulai dari Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, lembaga adat, tokoh budaya setempat, hingga dukungan anggota DPR RI dan DPD RI asal Sumatra Barat.

Principal Investigator kegiatan ini adalah Nurkhalis Muchtar dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.Rangkaian kegiatan disusun berlapis: rapat persiapan panitia, koordinasi dengan dinas dan kepala desa, sosialisasi program, workshop kebudayaan, pelaksanaan festival, penerbitan karya festival, hingga penyusunan laporan akhir.

Tujuan yang hendak dicapai pun jelas: merevitalisasi peran surau, menguatkan identitas kultural-Islami masyarakat Minangkabau, serta mendorong partisipasi komunitas dalam pemajuan kebudayaan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dalam desainnya, festival ini menawarkan sejumlah kebaruan. Surau tidak diposisikan sebagai simbol masa lalu, tetapi direinterpretasi sebagai ruang budaya yang dinamis. Ulama, seniman, budayawan, akademisi, dan generasi muda dipertemukan dalam satu forum.

Bahkan, teknologi digital disiapkan sebagai medium dokumentasi dan pembelajaran, agar warisan surau dapat diakses lintas generasi.Salah satu agenda penting festival akan berlangsung di Nagari Taram, Kabupaten Lima Puluh Kota, pada Ahad, 15 Februari 2026. Kegiatan dipusatkan di Surau Tuo Taram, surau yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon budaya daerah tersebut.

Ulul Azmy, panitia kegiatan, menjelaskan, ”Untuk Rundown Acara di Nagari Taram yang akan dilaksanakan hari Minggu 15 Februari 2026, itu dimulai pukul 08.30 sampai dengan selesaii, diawali dengan diskusi dengan narasumber-narasumber kemudian dilanjutkan dengan penampilan kesenian,”Azmy juga menambahkan,

”Selain itu, ada pemberdayaan UMKM yang kita libatkan untuk menunjukkan siklus ekonomi dan pertumbuhan usaha-usaha yang ada di lingkungan masyarakat Taram,” ucapnya kepada Sudut Payakumbuh.

Pemilihan Surau Tuo Taram, menurut Azmy, bukan tanpa alasan. ”Surau Tuo Taram kami pilih arena Surau Tuo merupakan salah satu surau yang ikonik yang menjadi simbol Kab. Lima Puluh Kota, punya cerita dari berbagai perspektif, sejarah, seni dan kebudayaan nya, kemudian juga Surau Tuo Taram ini salah satu Surau yang masih sangat hangat dan pilihan utama masyarakat ketika berziarah,” tutup Azmy.

Pada forum diskusi itu, Apria Putra, filolog muda yang juga dosen UIN Bukittinggi, akan menjadi salah satu narasumber. Ia menyiapkan paparan yang menelusuri jejak historis surau di wilayah tersebut. ”Ya saya akan menyampaikan sejarah surau, beserta jaringan surau di Lima Puluh Kota, dan juga tentunya yang berkaitan dengan Surau Tuo Taram,” jelasnya.

Apria menilai, persoalan banyaknya surau yang kini terbengkalai tidak cukup dijawab dengan renovasi fisik semata. ”Langkah merevitalisasi itu berangkat dari ruh surau, maksudnya ialah harus dipersiapkan ulama yang mengerti perihal surau dan ini harus didudukkan, serta bagaimana ia mengajak masyarakat ke surau,” ungkap Dosen UIN Bukittinggi tersebut.

Pandangan itu sejalan dengan semangat festival yang ingin menempatkan surau sebagai model Islam yang moderat, damai, dan inklusif, sekaligus sebagai pusat pembentukan karakter masyarakat. Panitia juga melihat potensi ekonomi budaya dan pariwisata berbasis kearifan lokal yang dapat tumbuh dari aktivitas ini, terutama dengan melibatkan pelaku UMKM setempat.

Di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis identitas lokal, Festival Surau Minangkabau mencoba menegaskan kembali bahwa Islam dan kebudayaan Nusantara bukan dua kutub yang saling bertentangan. Keduanya justru bertemu dan menyatu dalam praktik keseharian masyarakat Minangkabau melalui institusi surau.

Festival ini, dengan demikian, bukan sekadar agenda kebudayaan musiman. Ia disusun sebagai langkah strategis untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat warisan intelektual dan spiritual leluhur. Surau dihadirkan kembali sebagai ruang belajar, ruang bertemu, dan ruang bertumbuh bagi masyarakat tempat agama, adat, seni, dan pengetahuan saling menguatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *