Alek Pacu Kuda Payakumbuh: Riwayat Arena, Tradisi, dan Politik dari Masa ke Masa

Tak ada kalender sosial yang lebih ditunggu warga Luhak Limo Puluah selain hari pacuan kuda di Payakumbuh. Di dataran Payakumbuh yang sejuk itu, pacuan bukan sekadar olahraga ia adalah kalender sosial, pesta besar, arena ekonomi, sekaligus panggung politik yang bertahan lebih dari seabad.

Hari pacuan selalu terasa seperti hari raya; sawah kosong, ladang sepi, tetapi gelanggang penuh sesak oleh manusia dari segala penjuru. Dulu orang datang dari Fort de Kock, Padang Panjang, Tanah Datar, hingga kota-kota di pelosok Sumatra. Kini pun tradisi itu belum benar-benar memudar.

Dalam buku memori kolektif Pajacombo: Literatur Tentang Tanah Payau, Feni Efendi menuliskan kembali salah satu cerita yang paling sering dikisahkan turun-temurun: masa kecil seorang Malik kecil anak parewa, bocah pembangkang yang kemudian kelak dikenal sebagai Buya Hamka. Di usia 13 tahun, ia pernah menunggang kuda di gelanggang ini sebagai joki. Feni mengutip langsung dari sumber bahwa Malik “dipaksa berbohong mengaku berumur 16 tahun oleh pemilik kuda jika ingin berpacu,” karena tuntutan regulasi joki saat itu. Malik tak menang. Lomba hari itu dicurangi, dan itulah sekaligus terakhir ia menjadi joki sebelum kelak ia menjadi seorang penyair dan tokoh tersohor yang petuahnya didengarkan seantero negeri.

Tahun-tahun itu, gelanggang Pajacombo adalah magnet sosial raksasa. Orang termiskin sekalipun rela menguras sisa tabungan demi bisa datang ke hari alek tahunan. Rantang, tikar, kain panjang untuk peneduh, sampai bayi dalam gendongan semua dibawa. Tidak ada yang ingin ketinggalan. Lapak makanan berjejer: nasi kapau, gulai itik hijau, tebu tusuk. Tidak sekadar menonton kuda berlari, gelanggang adalah tempat bersua, tertawa, berjumpa dengan orang dari kampung lain, bahkan kadang menemukan jodoh. Alek pacuan selalu menorehkan wangi romance yang tak bisa dipisahkan dari riuh sorak penonton.

Kini zaman berubah. Para pemudi Payakumbuh, yang dulu menjadi bunga gelanggang sejak siang hingga petang, lebih memilih hadir pada sore hari menghindari terik matahari yang bisa menghitamkan kulit. Namun gambaran klasik itu tak hilang sepenuhnya. Menjelang senja, gelanggang tetap semerbak oleh kehadiran mereka; sejuk, wangi, penuh senyum seolah gelanggang baru saja ditumbuhi bunga-bunga dalam satu kedipan waktu.

Di balik gegap gempita tontonan rakyat, tali kekuasaan juga punya tempatnya. Sejak era kolonial Belanda: Westenenk sebagai penggagas awal, lalu asisten residen, kontroler, tuanku-tuanku lareh, tuanku demang, sampai tuanku regen semua punya kursi kehormatan di bangku khusus. Kini, daftar itu diteruskan oleh gubernur, bupati, walikota, ketua DPRD, serta jajaran kepolisian. Mereka hadir bukan hanya untuk memukul gong pembukaan, tapi sekaligus membangun jejaring, berbagi meja makan malam, membicarakan proyek, dan peluang baru. Seperti yang ditulis Feni Efendi, “Bukan alek pacu kudanya yang utama tetapi bagaimana peluang menciptakan relasi.” Gelanggang, dengan cara yang tak pernah diumumkan, menjadi ruang politik informal paling meriah di Luhak Limo Puluah.

Di hari pembukaan, tradisi selalu dimulai oleh lomba bogi kereta bendi tanpa atap, penuh ornamen kolonial, dinaiki para pejabat. Yang menang bukan yang paling cepat. Para juri menilai keanggunan, keindahan, keserasian, dan performa ukuran yang lebih estetis daripada kompetitif. Namun hadiahnya yang utama bukan piala, melainkan peningkatan status sosial sang pemilik kuda. Ia akan menjadi pembicaraan sepanjang tahun dan langsung naik kelas di mata publik Minangkabau masyarakat yang terkenal lihai berniaga dan menakar gengsi.

Gairah berkuda di Payakumbuh adalah warisan Hindia Belanda, yang menyulap kawasan itu menjadi pusat peternakan kuda ternama. Feni mencatat sebuah data berharga: “Hanya dalam 2 tahun, di Pajacombo (nama ketika zaman Belanda) ini telah menghasilkan 270 kuda dari 20 spesies” merujuk laporan Fransh F. Bernard pada awal 1900-an. Produksi kuda ini bukan hanya industri, tapi wujud kebanggaan identitas masyarakat dataran tinggi Minangkabau.

Pada masa pergerakan kemerdekaan, gelanggang juga punya babak heroiknya. Ketika kolonial sedang sibuk mengawasi kerumunan, tokoh-tokoh pergerakan menjadikan alek pacuan sebagai kedok pertemuan politik. Ribuan orang berkumpul tanpa menimbulkan kecurigaan; rapat bisa berjalan aman di tengah riuh penonton, seolah menyatu dengan gemuruh balapan.

Gelanggang Payakumbuh bertahan karena ia bukan sekadar panggung kompetisi, melainkan layar raksasa tempat watak sosial terbaca: ambisi, gengsi, cinta, ekonomi, dan kekuasaan. Satu arena, tetapi memuat lapisan-lapisan budaya yang bergerak bersama waktu.

Seratus tahun telah lewat sejak Malik kecil mengejar kemenangan di atas pelana, dan gelanggang masih berdiri. Penonton mungkin berganti, bendi mungkin disemir ulang, wajah pejabat dan pemilik kuda mungkin berubah. Tetapi ritme alek pacuan dari sorak penonton sampai kelakar politik di tribun kehormatan seakan menolak usia. Di Tanah Nan Bapayau ini, tentunya sejarah tidak dipajang dalam museum; ia berlari setiap tahun, mengikuti tapak kuku kuda di atas tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *