Maghrib belum lama turun pada 28 Agustus 2018 ketika kabar itu datang. Apria Putra baru saja pulang mengajar, masih berkutat dengan pelajaran bahasa Arab yang siang tadi ia sampaikan di kampus, ketika pesan duka singgah di layar gawai: Abuya Drs. H. Ahmad Zaini telah berpulang. Mantan Dekan Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang itu bukan sekadar dosen senior. Ia adalah lautan ilmu, guru dari banyak guru, murid ulama-ulama besar Minangkabau Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Buya H. Muhammad Dalil Dt. Maninjun, hingga Prof. Mahmud Yunus yang kini diabadikan menjadi nama sebuah kampus Islam negeri di Kab. Tanah Datar itu.
“Jiwa tersentak. Hati menjadi pilu,” tulis Apria mengenang detik itu. Pelajaran bahasa Arab yang ia ajarkan hari itu seolah kembali berjejak ke masa lalu: bahasa yang dulu disampaikan Abuya dengan ketekunan, kesabaran, dan keluasan makna. Kabar wafat itu bukan hanya berita kehilangan, tetapi juga penanda putusnya satu mata rantai keilmuan yang panjang.
Dalam ingatan Apria, Abuya Ahmad Zaini adalah sosok yang hidupnya dipenuhi pituah dan pengabdian. Malam, pagi, dan sore hari, rumah beliau tak pernah sepi dari tamu yang datang “mengepit Kitab Kuning”. Di sana, ilmu tidak diajarkan dengan tergesa. Abuya dikenal hafal Alfiyah Ibnu Malik “makanan” beliau sejak belajar di Jaho pada 1950-an juga Munjid fil Lughah wal A’lam. Di lingkungan Fakultas Adab, namanya identik dengan Ilmu Alat. Murid-muridnya kelak menjadi guru besar. Alm. Prof. Satria Efendi M. Zein, pakar Ushul Fiqih, adalah salah satu di antaranya.
Pertemuan Apria dengan sang guru bermula dari arahan almarhum Buya Nasri Bey Padang Kandih. Saat itu, Abuya Ahmad Zaini telah purna bakti dan tak lagi mengajar di kampus. Sore hari, Apria memberanikan diri mendatangi rumahnya. Sambutan hangat menjadi awal sebuah perjalanan intelektual yang panjang. Mereka memulai dengan Qawa’id al-Lughah karya Hifni Bek Nashif, berlanjut ke al-Durr al-Farid dalam ilmu tauhid, lalu Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali.
Setelah lulus S1, Apria tetap datang. Di sela waktu luang, ia meminta Abuya mensyarah Syarah Ibni Aqil atas Alfiyah dan Syarah al-Hikam. Satu kalimat, kenangnya, bisa dijabarkan lebih dari satu jam meliputi makna leksikal, gramatikal, hingga isyarat batin teks. Di situlah tradisi keilmuan klasik bekerja: sabar, mendalam, dan penuh adab.
Pertemuan terakhir terjadi selepas Ramadan setahun sebelum wafat. Abuya tak lagi mampu bersuara lantang karena penyakit. Namun sambutannya justru lebih riang. Dengan berbisik, ia bercerita panjang. Air mata Apria jatuh. Saat pamit, ia memeluk dan mencium pipi gurunya. Abuya mengantar hingga ke pinggir jalan, masih melambaikan tangan ketika mereka menjauh. “Inilah lambaian tangan perpisahan,” tulis Apria.
Satu petuah Abuya yang paling melekat di ingatan disampaikan di mimbar Jumat, beberapa hari pascagempa Padang: “Kemana kita lari? Lari ke bukit, bukit akan runtuh. Lari ke laut, air akan menghantam. Lari ke padang yang datar, tanah akan ‘toram’. Kalau bukan kepada Allah kita lari.” Kalimat itu kini tinggal gema namun bagi murid-muridnya, gema yang tak pernah benar-benar padam.
