Apria Putra: ”Syekh Mudo Abdul Qadim Adalah Mujtahid dalam Bidang Tarekat”

Di sebuah Jorong di Nagari Sungai Talang, Kec Guguak, Luhak Limo Puluah, berdiri sebuah surau tua yang menyimpan jejak spiritual panjang: Surau Belubus. Dari tempat ini, nama Syekh Mudo Abdul Qadim melesat menjadi figur berpengaruh dalam lanskap tasawuf Minangkabau. Ia bukan sekadar guru tarekat, tetapi juga seorang mujtahid yang berani memformulasikan praktik zikir dan tertib amalan dengan basis pengalaman ruhani yang mendalam.

Syekh Mudo yang nama kecilnya Nabi-ulah ini mendapat gelar kehormatan itu dari wali besar, al-‘Arif billah Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah Batuhampar, kakek dari Bung Hatta. Gelar “Mudo” bukan semata menunjuk usia muda, tetapi lebih kepada ketajaman ilmunya dalam urusan batin dan makrifat. Syekh Mudo, juga mewarisi tradisi keilmuan yang berpadu antara syariat dan hakikat.

Setelah menimba ilmu di berbagai surau dan berguru pada mursyid-mursyid terkemuka, Syekh Mudo Abdul Qadim kembali ke kampung halamannya di Belubus. Di sana, ia mendirikan surau yang berkembang menjadi pusat khalwat Tarekat Naqsyabandiyah dan tempat pengajaran Tarekat Sammaniyah serta Silat Kumango.

Surau Belubus segera menjadi magnet bagi para penuntut ilmu tasawuf dari seantero Minangkabau. Banyak di antara muridnya yang kelak dikenal luas sebagai ulama besar, seperti Syekh Beringin di Tebing Tinggi Medan, Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, Syekh Tuanku Jadid di Pagadih Kab. Agam, Syekh Sayuri Angku Dukun Koto Tinggi, Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah Batu Tanyuah, hingga Buya H. Muhammad Dalil Dt. Manijun di Jaho.

Syekh Mudo dikenal disiplin dalam mendidik salik. Ia memulai pengajaran dengan Tarekat Sammaniyah sebagai jalan latihan awal, lalu memantapkan muridnya dalam Naqsyabandiyah Khalidiyah. Dalam pandangannya, Sammaniyah menjadi pijakan menuju maqam yang lebih tinggi: pengenalan diri sejati di hadapan Allah. Prinsip itu pula yang membuatnya menolak segala bentuk pemujaan terhadap guru; bagi beliau, tarekat bukanlah kultus, melainkan disiplin ruhani untuk menemukan kesejatian makna taqarrub ilallah.

Ulama yang meninggal pada November 1957 itu meninggalkan warisan spiritual yang dalam, juga karya-karya tulis yang kini menjadi literatur penting bagi ahli tarekat di Minangkabau. Salah satunya Al-Manak, kitab pusaka yang diwarisi dari ayahnya dan dikenal juga sebagai Bintang Tujuh. Isinya mencakup ilmu falak, perhitungan waktu baik dan buruk, hingga pengetahuan pertukangan rumah adat Minangkabau sebuah perpaduan unik antara pengetahuan kosmos dan budaya lokal.

Selain itu, ia menulis Risalah Tsabitul Qulub, literatur langka yang mengulas panjang tentang Tarekat Sammaniyah. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid, dan hingga kini baru tiga juz yang berhasil diidentifikasi. Ada pula As-Sa’adatul Abdiyah fima ja’a bihin Naqsyabandiyah, kitab khusus bagi guru mursyid yang telah mencapai derajat khalifah. Isinya sarat dengan rahasia amalan tarekat yang tak boleh disebarkan secara umum. Cetakan kedua kitab ini dilakukan oleh Syarikah Tapanuli, Medan, tahun 1950.

Pada 1936, beliau menyelesaikan karya lain dengan judul serupa, As-Sa’adatul Abdiyah fima ja’a bihin Naqsyabandiyah, yang berisi wirid-wirid dan amalan khusus. Pada sampulnya tercetak peringatan tegas: “Tidak dijual dan tidak dipakai bagi orang yang belum mengamalkan wirid tersebut.” Peringatan itu bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk kehati-hatian ulama sufi agar ilmu tarekat tak jatuh ke tangan yang belum siap secara batin.

Filolog Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Apria Putra, menyebut Syekh Mudo sebagai figur yang menembus batas antara teks dan ruh. Dalam satu naskah bertarikh 1925, ia menemukan bukti kuat atas kapasitas Syekh Mudo sebagai seorang mujtahid tarekat. “Teks ini membuktikan bahwa Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus adalah mujtahid dalam bidang Tarekat,” ujar Apria. “Beliau memformulasikan khatam pendek dalam amal Naqsyabandiyah. Tertib azkar dan kaifiyat yang beliau susun bukan hasil rekaan belaka. Ulama-ulama yang tergolong wali menjemputnya ke alam Jabarut. Bagian ini yang tak akan pernah dimengerti oleh mereka yang hanya mengkritisi tasawuf dari luar.”

Kini, jejak spiritual Syekh Mudo Abdul Qadim masih berdenyut di Surau Belubus. Di depan mihrab tempatnya dimakamkan, para peziarah sering bersimpuh dalam diam, memohon keberkahan dari seorang guru yang telah menautkan langit dan bumi melalui zikir. Warisan ilmunya tetap hidup bukan sekadar dalam teks, tetapi dalam napas panjang tradisi sufistik Minangkabau yang terus berlanjut hingga hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *