Asal Muasal Lima Puluh Kota: Menyusuri Ulang Tapak Rombongan dari Pariangan

Tersebut dalam ingatan kolektif budayawan ataupun pemangku adat di Lima Puluh Kota bahwa dahulu ada puluhan lelaki dan perempuan mengemasi hidupnya. Dari Pariangan, Padang Panjang nagari yang oleh banyak peneliti kebudayaan disebut sebagai salah satu titik mula peradaban Minangkabau rombongan kecil ini melangkah keluar. Tak ada peta, tak ada penunjuk jalan. Yang mereka bawa hanya keyakinan akan tanah baru yang lebih lapang, lebih subur, lebih menjanjikan bagi anak cucu mereka.

Konon, perjalanan itu terjadi berabad-abad lalu, ketika kawasan sekitar Gunung Sago masih berupa belantara rapat, lembah yang dalam, dan aliran sungai yang belum pernah diukur kedalamannya oleh satu pun tangan manusia pendatang. Dari perjalanan panjang itulah kelak lahir sebuah wilayah yang kita kenal hari ini dengan nama Lima Puluh Kota, sebuah luhak penting dalam lanskap adat dan sejarah Minangkabau.

Kisah itu terus hidup, berputar dari lidah ke lidah, dari surau ke balai adat, bahkan memasuki ruang-ruang pemerintah lewat dokumentasi akademik dan arsip kebudayaan. Tetapi ia bukan sekadar kisah migrasi. Ia adalah narasi identitas memori kolektif yang membentuk sebuah luhak dan mematri struktur sosial yang masih terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, perjalanan rombongan itu dimulai dari tanah subur Pariangan, yang kini berada dalam wilayah administratif Kab.Tanah Datar. Mereka berjalan melewati jalur yang kini kita kenal sebagai Tabek Patah, Tanjuang Alam, Tungka, Bukik Junjuang Siriah, lalu turun lagi ke kawasan Bawah Burai dan Padang Kubuang. Setiap persinggahan meninggalkan jejak toponimi yang bertahan hingga sekarang.

Banyak kisah lisan menceritakan bagaimana lima puluh kelompok kecil itu berhenti di satu padang rumput yang luas. Rerumputan ribu-ribu bergoyang oleh angin, langit terbuka tanpa halangan. Mereka memutuskan bermalam. Lokasi itu diyakini berada di sekitar batas Piladang dan Situjuah hari ini tak jauh dari pasar ternak terbesar di kawasan tersebut.

Namun keesokan harinya, ketika matahari baru naik dan kabut mulai terangkat dari rumput basah, terjadi keanehan yang kelak menjadi legenda. Lima rombongan hilang tanpa jejak. Ketika orang-orang bertanya satu sama lain, jawaban yang muncul hanya:

“Antahlah.”

Dari kata itu ‘antah’, ‘entahlah’ jadilah nama Padang Siantah, tempat para leluhur kehilangan separuh dari teka-teki perjalanan mereka.

Belakangan, narasi kolektif masyarakat mengungkap bahwa lima rombongan yang hilang itu bukan musnah di telan hutan, melainkan memilih jalur berbeda. Mereka turun ke arah timur, memasuki wilayah yang kini menjadi bagian dari Kuok, Bangkinang, Salo, Air Tiris, dan Rumbio bagian dari Provinsi Riau hari ini.

Sementara itu, 45 rombongan lain terus bergerak menuju barat, mengikuti aliran Batang Agam yang jernih dan berhenti di kawasan yang kini dikenal sebagai Titian Aka dan Kumbuah Nan Bapayau. Di sana mereka bertemu tiga tokoh awal Payakumbuh: Rajo Panawa, Barabin Nasi, dan Jhino Katik. Pertemuan ini menjadi salah satu fondasi penting terbentuknya komunitas adat di wilayah tersebut.

Begitulah, dari kisah perjalanan itulah nama Lima Puluh Kota memperoleh maknanya. Bukan sekadar angka, tetapi simbol kebersamaan lima puluh kelompok pendatang yang menyebarkan cikal bakal nagari di seluruh Luhak Limo Puluah Koto.

Tak kalah lebih penting untuk dicatat yaitu, Sejarawan lokal H.C. Israr, sebagaimana dikutip oleh Bupati Lima Puluh Kota Alis Marajo Dt. Sori Marajo, mempreservasi daftar panjang rombongan yang keluar dari Pariangan. Kutipan itu berbunyi:

“Rombongan yang menuju arah Batu Hampar adalah:

1). Datuak Pangulu Basa ke Tambun Ijuak,
2). Datuak Rajo Malano Ke Batu Hampa,
3). Datuak Munsaid ke Koto Tangah dan
4). Datuak Permato Dirajo ke Durian Gadang.”

Daftar itu kemudian berlanjut, membentang seperti peta migrasi:

Rombongan ke arah Tiaka, Air Tabit, Anak Koto Air Tabit, Halaban, Situjuah, Talago Gantiang, Gunuang Bungsu, Sarilamak, hingga Taram dan Batu Balang semuanya didaftar secara rinci oleh Israr dan dicatat ulang oleh Alis Marajo.

Yang mana lanjutannya sebagai berikut:

Rombongan yang menuju ke Air Tabit adalah :
1). Datuak Marajo Indo nan Mamangun,
2). Datuak Marajo Indo nan Rambayan,
3). Datuak Gindo Malano
4). Datuak Rajo Makhudum,
5). Datuak Damuanso dan
6). Datuak Bandaro Sati.

Kemudian rombongan yang menuju ke Anak Koto Air Tabit adalah :
1). Datuak Paduko Alam ke Limbukan,
2). Datuak Paduko Sinaro ke Aur Kuniang,
3). Datuak Rajo Malano ke Sei Kamuyang,
4). Datuak Rajo Malikan Nan Panjang ke Mungo
5). Datuak Pangulu Basa ke Andaleh.

Sementara itu rombongan menuju arah Halaban adalah :
1). Datuak Rajo Mudo ke Halaban,
2). Datuak Paduko Alam ke Ampalu,
3). Datuak Paduko Marajo ke Sitanang,
4). Datuak Munsoik ke Tebing Tinggi

Rombongan menuju Situjuah adalah :
1). Datuak Marajo Simagayua nan Mangiang ke Situjuah Banda Dalam ,
2). Datuak Rajo Malano ke Situjuah Ladang Laweh
3). Datuak Munsoid ke Situjuah Gadang, dan
4). Datuak Marajo Kayo ke Situjuah Batua.

Sementara itu rombongan yang menuju ke Talago Gantiang adalah :
1). Datuak Rajo Mangkuto nan Lujua ke Balai Talang,
2). Datuak Bandaro nan Hitam ke Talago, dan
3). Datuak Patiah Baringek ke Kubang

Sedangkan Rombongan yang menuju Gunuang Bungsu dan sekitarnya adalah :
1). Datuak Bandaro nan Balapiah ke Simalanggang,
2). Datuak Mangun Dirajo ke Sungai Beringin,
3). Datuak Rajo Baguno ke Piobang,
4). Datuak Bagindo Soik ke Taeh,
5). Datuak Sabatang ke Gurun, dan
6). Datuak Sinaro ke Lubuak Batingkok

Kemudian rombongan menuju Sarilamak adalah :
1). Datuak Sinaro nan Panjang ke Sarilamak,
2). Datuak Sinaro nan Garang ke Tarantang,
3). Datuak Bandaro/Sinaro ke Harau dan
4). Datuak Tan Gadang ke Solok Padang Laweh.

Dan rombongan arah Taram dan Batu Balang adalah :
1). Datuak Tumangguang ke Taram
2). Datuak Panghulu Basa ke Bukik Limbuku,
3). Datuak Marajo Basa ke Batu Balang.

Begitu pula lima rombongan yang menghilang, disebut secara langsung:

1). Datuak Permato Soid di Kuok
2). Datuak Bandaro Sati di Bangkinang
3). Datuak Tan Gadang di Salo
4). Datuak Baramban di Aie Tiris
5). Datuak Marajo Basa di Rumbio

Data-data ini menjadi tulang punggung ingatan kolektif mengenai siapa yang membuka wilayah mana, siapa yang menetap, siapa yang menurunkan suku-suku tertentu di nagari tertentu. Ia bukan sekadar daftar nama tetapi cetak biru awal pembentukan luhak.

Jika ditarik ke dalam Tambo, tentu bahwa jejak sejarah tidak hanya terekam dalam tradisi lisan. Dua tambo penting Tambo Alam Minangkabau (H. Datoek Toeah, 1934) dan tambo versi Bahar Dt. Nagari Basa (1966) menghasilkan dua gambaran berbeda tentang pembagian wilayah Luhak Limapuluh Kota.

Tambo pertama membagi wilayah ke dalam tiga kategori: Luhak, Ranah, dan Lareh. Di dalamnya dicantumkan daftar panjang nagari, batas wilayah, serta struktur administratif tradisional yang menjadi dasar tata kelola adat setempat.

Sementara tambo kedua memperkenalkan gagasan tentang lima ulayat Hulu, Luhak, Lareh, Ranah, dan Sandi dengan masing-masing dipimpin seorang rajo. Kutipannya berbunyi:

“Datuak Marajo Simagayur dari Pitapang Situjuah Banda Dalam adalah Rajo di Hulu
Datuak Rajo Indo nan Mamangun dari Aia Tabik adalah Rajo di Luhak
Datuak Paduko Marajo dari Sitanang Muaro Lakin adalah Rajo di Lareh
Datuak Bandaro Hitam dari Payobada Talago Gantiang adalah Rajo di Ranah
Datuak Permato Alam Nan Putiah dari Si Pisang Koto Nan Gadang adalah Rajo di Sandi”

Di Balai Tinggi Sitanang Muaro Lakin, para ninik mamak tidak hanya mengatur batas wilayah, tetapi juga membuat sistem pengamanan adat yang disebut kunci pasak. Fungsinya: menjaga keutuhan luhak dari berbagai ancaman luar.

Misalnya, Pasak Ampang Baramban Basa:

“Berfungsi untuk menghambat kalau ada yang hanyut dari hulu, kalau ada ‘rando’ berjalan sendiri supaya dipintasi… Dagang yang datang dari hilir… dihambat agar tidak masuk ke Luhak Limopuluah.”

Kekuatan dokumentasi ini terasa seperti rekaman administratif sebuah kerajaan kuno. Ia bukan sekadar kisah, tapi bisa di artikan sebagai mekanisme sosial lengkap dengan sistem hukum dan hierarki adatnya.

Yang membuat kisah Lima Puluh Kota unik bukan hanya detail nama-nama, jalur perpindahan, atau pembagian wilayah adatnya. Lebih dari itu, ia adalah gambaran dinamika sosial masyarakat Minangkabau pada masa awal pembentukan luhak: perpindahan penduduk, ekspansi keluarga, pembukaan lahan baru, dan usaha menetapkan struktur sosial di tengah keterbatasan informasi dan ancaman alam.

Peneliti-peneliti sejarah seperti Prof. Mestika Zed dari UNP dan Prof. Gusti Asnan dari UNAND kerap menekankan bahwa mobilitas penduduk Minangkabau bukan hanya didorong oleh kebutuhan ekonomi, tetapi juga budaya merantau yang telah melekat dalam sistem nilai mereka. Kalau kita jeli dalam konteks itu, perjalanan lima puluh rombongan dari Pariangan bisa dibaca sebagai salah satu gelombang ekspansi awal masyarakat Minang menuju utara.

Dinas Kebudayaan Sumatra Barat bahkan menyebut kisah ini sebagai “narasi identitas” yang tak bisa dipisahkan dari konstruksi budaya Minangkabau.

Dan apabila jika kita pergi ke daerah Piladang hari ini, lalu menuruni jalan kecil menuju Situjuah, rumput yang tumbuh tak lagi ribu-ribu seperti dalam cerita, tetapi hamparan yang sunyi itu membuat orang mudah membayangkan rombongan yang bermalam ratusan tahun lalu. Pasar ternak berdiri di sisi jalan, hiruk-pikuknya terasa kontras dengan ketenangan yang digambarkan dalam kisah Padang Siantah.

Di Koto Nan Gadang, jejak para rajo ulayat masih hidup dalam garis keturunan penghulu. Di Simalanggang, sungai Batang Agam tak banyak berubah: airnya tetap dingin, mengalir dari hulu Gunung Sago dengan cara yang sama ketika rombongan itu menyeberanginya. Bahkan di Harau, tebing-tebing megah seperti menyimpan gema langkah para pendatang awal yang membuka nagari-nagari itu.

Keterangan lapangan dari banyak niniak mamak menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat tetap sejalan dengan yang ditulis dalam tambo. “Sejarah kami disimpan di lidah,” kata seorang penghulu yang tidak ingin disebutkan namanya. “Tambo hanya menuliskannya lagi.”

Dan hari ini apabila ditilik Lima Puluh Kota hari ini bukan sekadar wilayah administratif dengan nagari-nagari yang membentang dari Sarilamak hingga Suliki, dari Harau hingga Halaban. Daerah ini juga adalah mozaik sejarah: potongan-potongan ingatan, kisah lisan, tambo, dan daftar rombongan dari Pariangan yang dirangkai menjadi identitas regional.

Di banyak nagari, adat masih menjadi tulang punggung kehidupan sosial. Struktur ulayat, posisi penghulu, bahkan batas wilayah adat masih merujuk pada penetapan musyawarah di Balai Tinggi Sitanang Muaro Lakin. Kehadiran kunci pasak meski tak lagi berfungsi dalam konteks pertahanan fisik masih dihormati sebagai simbol penjaga adat.

Kisah rombongan lima puluh itu mungkin terdengar seperti dongeng pada pendengar modern. Namun bagi masyarakat setempat terutama para pemangku adat, ia adalah fondasi. Ia menjelaskan mengapa seseorang berasal dari suku tertentu, mengapa sebuah nagari berada di lokasi tertentu, mengapa hubungan antarwilayah berlangsung secara tertentu.

Setiap kali seseorang berjalan di ruas jalan Payakumbuh – Piladang, atau menikmati matahari tenggelam di balik tebing Lembah Harau, mereka sebenarnya sedang menyusuri ulang langkah-langkah panjang para leluhur dari Pariangan. Langkah-langkah yang menenun tahun-tahun menjadi sejarah, dan sejarah menjadi identitas.

Dan seperti semua identitas yang hidup, kisah ini tidak selesai. Ia terus diceritakan, dihidupkan, dan dibaca ulang oleh generasi demi generasi sebuah perjalanan panjang lain yang masih berlangsung hingga hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *