Musim panas Berlin, Juli 1922, tak hanya menghadirkan angin hangat yang melintas di boulevard-boulevard Eropa, tetapi juga sebuah getaran sejarah yang sunyi. Dari sebuah kamar sederhana, Darsono menulis surat bukan sekadar kabar, tapi mencoba memberikan isyarat zaman kepada seorang pemuda Minangkabau yang sedang menimba ilmu di tanah Belanda, ia menorehkan kalimat yang kelak menjadi simpul ingatan: Tan Malaka berada di Berlin.
Mohammad Hatta tak menunda. Ada naluri sesama ”urang awak” yang bekerja di balik langkahnya naluri bertemu, berdiskusi, dan menimbang zaman. Keesokan harinya ia tiba di kediaman Darsono. Di sanalah tiga watak bertemu: Darsono yang tegas dan politis, Hatta yang tenang dan tertib, serta Tan Malaka yang menyala seperti api tak mau padam. Ruangan itu kecil, pertemuannya singkat, tetapi gema percakapannya menjangkau dekade-dekade berikutnya.
Mereka duduk berhadapan, saling membaca sorot mata. Cucu dari Maulana Syekh Abdurrahman Batuhampar itu, dengan gaya khas Minang yang halus tapi lurus, membuka tanya: apakah Tan Malaka hendak menetap di Moskow? Tan menjelaskan tanpa berputar: ia memang ke Moskow, sebab di sanalah denyut komunisme dunia berpusat. Namun ia menegaskan, Moskow bukan rumah. Ia hanyalah persinggahan. Tujuan Tan tetap satu: Timur, tanah jajahan, dan kemerdekaan bangsanya.
Pemuda bernama Ibrahim itu berbicara dengan keyakinan yang keras namun jujur. Ia sadar, Moskow kini berada di bawah Stalin, seorang diktator. Tapi Tan tak pernah mengenal tunduk. Ia menyebut dengan terang, punggungnya tak akan membungkuk kepada siapa pun bahkan kepada Stalin. Watak ini bukan semata hasil bacaan Marxis, tapi barangkali juga warisan tanah asalnya: berdiri tegak, “indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh” atau ”duduak samo randah, tagak samo tinggi”.
Tan menjelaskan keyakinannya tentang komunisme tentang dunia yang sama-rata, sama-rasa, dan demokratis. Dalam benaknya, teori Marx adalah janji pembebasan, bukan legitimasi tirani. Namun kenyataan Soviet justru memamerkan ironi: satu orang berkuasa mutlak, sementara yang lain menjadi barisan patuh. Di titik inilah percakapan memanas.
Bung Hatta, menyela dengan tenang: “Bukankah diktator memang bagian dari sistem komunisme?” Ia menyebut istilah Marx, diktator proletariat. Tan Malaka menanggapi dengan sorot mata yang menyala: diktator proletariat, menurut Marx, hanyalah fase peralihan saat alat produksi berpindah dari borjuis ke tangan rakyat, menuju sosialisme sejati. Produksi dilakukan oleh banyak orang untuk banyak orang, dipimpin badan musyawarah. “Ini bertentangan dengan diktator orang-seorang,” tegas anak Rasad Chaniago itu.
Hatta terdiam sejenak. Dalam batinnya, ia menangkap satu hal: Tan Malaka, dengan tulang punggung sekeras itu, pasti akan berbenturan dengan Stalin. Ujungnya bisa ditebak pengasingan, atau pengusiran dari lingkaran Komintern.
Lima hari mereka di Berlin, berbagi ide di bawah langit Eropa. Setelah itu, jalan mereka berpisah. Hatta menuju Hamburg, Tan Malaka melangkah ke Moskow, sendirian. Tiga tahun kemudian, 1925, sebuah paket tiba di tangan Hatta. Sebuah risalah tipis namun bernyali besar: Naar de ‘Republiek Indonesia. Buku kecil itu menjadi bukti bahwa percakapan di Berlin tak pernah benar-benar usai.
Waktu berlari jauh. Baru setelah Proklamasi, 23 September 1945, dua anak muda berdarah Luhak Limo Puluah itu kembali bersua di rumah Ahmad Subardjo. Kini Sukarno dan para pemimpin Republik turut hadir. Pertemuan itu seperti jembatan yang menyeberangi dua zaman: dari pemuda perantau menjadi arsitek republik.
Ada satu sisi lain Tan Malaka yang sering luput: cintanya pada buku. Seperti Trotsky atau Hatta, ia bermimpi mengangkut peti-peti bacaan ke mana pun ia diasingkan. Tapi hidup tak memberinya kemewahan itu. Dalam Madilog, ia menulis kecemburuan nya soal Hatta yang bisa bersama buku terus: “Saya menyesal karena tak bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu.” Kalimat itu menutup kisah seorang pemuda Pandam Gadang yang hidupnya dihabiskan di jalan, di antara ide, pengasingan, dan mimpi tentang kemerdekaan.
