Buya Imam Nasir, Penjaga Warisan Keilmuan Syekh Sa’ad Mungka

Lebih seabad setelah wafatnya Syekh Muhammad Sa’ad Al-Khalidi Mungka pada 1920, denyut ajaran ulama besar Minangkabau itu belum juga padam. Di Surau Baru Mungka, sebuah kampung yang tenang di pedalaman Lima Puluh Kota, warisan keilmuan dan spiritual Syekh Sa’ad terus dirawat kini oleh Buya Imam Nasir Koto Tuo, penerus utama jalur Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang ditinggalkannya.

Syekh Sa’ad Mungka, yang digelari Syaikhul Masyaikh Ulama Minangkabau, adalah figur sentral dalam jaringan ulama surau awal abad ke-20. Nama-nama besar seperti Inyiak Canduang, Inyiak Jaho, Syekh Yahya Al-Khalidi Magek, hingga Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh tercatat sebagai murid-muridnya. Di halaqah Surau Baru, kitab-kitab tingkat lanjut dari Tuhfah hingga Ithaf Sa’adat al-Muttaqin dikaji secara mendalam. Ia bukan hanya faqih, tetapi juga sufi Naqsyabandiyah Khalidiyah yang disegani, bahkan dikenal sebagai pembela ajaran tarekat dari kritik keras Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Hari ini, tongkat estafet spiritual itu berada di tangan Buya Imam Nasir. Ia menerima ijazah irsyad melalui mata rantai yang jelas: dari almarhum Buya Imam Agus Datuk Monti, yang menerima dari Syekh Ahmad Tobiang Pulai, hingga bersambung kepada Syekh Sa’ad Mungka sendiri. Jalur transmisi ini menegaskan legitimasi keilmuan dan tasawuf yang tidak putus sebuah prinsip penting dalam tradisi tarekat.

Buya Imam Nasir bukan figur yang lahir dari ruang hampa. Ia menamatkan pendidikan awal di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Tuo Mungka, lalu berguru kepada Syekh Muhammad Jamil Sa’adi putra Syekh Sa’ad sebelum melanjutkan studi ke IAIN Imam Bonjol Padang hingga meraih gelar Drs. Latar akademik ini memberi warna tersendiri pada cara Buya Imam merawat tradisi: teguh pada sanad, namun terbuka pada konteks zaman.

Filolog Apria Putra, yang pernah menetap di Mungka selama enam tahun, menuturkan kedekatannya dengan Buya Imam Nasir. “Saya berulang ke Surau Baru Mungka, bahkan sesekali menyapu makam Syekh Sa’ad Mungka. Dari Buya Imam Nasir saya menerima riwayat-riwayat kebesaran Syekh Sa’ad Mungka dan Surau Baru. Semoga suatu saat kisah-kisah itu bisa saya tulis, agar menjadi pengingat kepada generasi muda.”

Di tangan Buya Imam Nasir, Surau Baru Mungka mungkin tak lagi mengajarkan kitab-kitab “kelas berat” seperti dahulu. Namun, bimbingan amaliyah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tetap hidup sunyi, konsisten, dan berakar kuat. Di situlah kebesaran Syekh Sa’ad Mungka terus bernapas, melalui seorang murid zaman ini yang memilih setia menjaga api, bukan menyalakan kembang api.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *