Nagari Maek, Kec. Bukit Barisan berada di antara deretan menhir yang tegak di perbukitan dan rimbunnya hutan Maek dan tentunya banyak primadona lainnya yang mengitari Maek: Bukik Pao Ruso, dan yang paling fenomenal yakni Bukik Posuak.
Kaluak Paku Maek Festival 2025 digelar pada 14–15 November. Gelaran budaya yang memasuki edisi terbarunya ini dibuka pada Jumat malam, pukul 21.00 WIB, di lapangan bola yang terletak di Jorong Koto Gadang, Nagari Maek.
Sejak sore, warga mulai berdatangan, bersamaan dengan para pelajar yang tergabung dalam Pramuka di berbagai daerah di Sumatra Barat. Lampu-lampu panggung memantulkan cahaya ke arah bukit, menciptakan siluet yang seolah menjadi penonton pertama festival itu.
Begitu musik pembuka dimainkan, suasana berubah menjadi lebih hangat. Tari Pasambahan membuka acara, disusul pemutaran thriller festival dan penampilan kesenian Sampelong. Arief dan Isra didaulat sebagai pembawa acara sepanjang malam pembukaan.
Ketua panitia, Rafki berharap kegiatan yang dilaksanakannya ini dapat menggali kembali potensi yang sudah lama dan mulai menghilang serta tidak diketahui oleh generasi muda.
“Terima kasih kepada warga dan semua pihak yang telah mendukung acara ini dan kami berharap kegiatan ini ke depannya dapat berjalan dengan aman dan lancar,” katanya.
Wali Nagari Maek, Efrizal Hendri, Dt. Patiah, yang baru saja menerima Peacemaker Justice Award Sumbar 2025 mengatakan festival tahun sebelumnya berlangsung dengan megah, internasional dengan narasumber empat atau lima negara yang diadakan di Nagari Maek.
“Sebelumnya kami cukup cemas kalau acara in tidak berlanjut, namun alhamdulillah, dahaga kami Nagari Maek lepas sudah oleh Bapak Martias. Bapak Kepala BPK wilayah tiga provinsi Sumatra Barat yang hadir saat ini. Alhamdulillah, Pak, terima kasih,” kata Efrizal.
Ia berharap ke depannya tetap dilaksanakan acara ini agar Pandora dan tabir rahasia ini tetap terbongkar di Nagari Maek ini.
“Kami berharap, pak, jangan tinggalkan kami, tetap bina kami dalam mewujudkan Maek adalah salah satu peradaban tua di dunia,” ujarnya.
Kemudian, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III (BPK III), Nurmatias menjelaskan bahwa kedalaman nilai arkeologis dan historis kawasan Maek merupakan sebuah peradaban yang sudah lama yang harus disampaikan dan harus disebarkan ke masyarakat seluruh dunia.
“Karena di Lima Puluh Kota ini juga ada sebuah peradaban yang cukup tinggi di Gua Lidah Ajer yang ada di Situjuah dan berharap Maek kelak dapat menjadi pusat pencarian ilmu peradaban dan terkenal sehingga Lima Puluh Kota atau Maek tetap eksis dan kemudian diakui oleh peradaban dunia bahwa di Lima Puluh Kota ini adalah sebuah peradaban yang tertua di Indonesia,” katanya
Perwakilan Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Alfian, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan, menambahkan dan menyoroti dukungan penuh BPK III sebagai penyelenggara sangat peduli terhadap Maek.
“Bahwasanya segitu perhatiannya membuat acara yang semegah ini, pembiayaan ditanggung semua. Ini luar biasa, Pak. Luar biasa. Dan kita berharap ke depannya seperti Pak Wali, kami akan dukung dan support,” ujarnya.
Usai sesi formal, panggung utama kembali hidup. Atraksi silek, pengenalan peserta jelajah budaya, hingga pemberian cenderamata berlangsung bergantian. Sanggar Lubuk Batang kemudian tampil membawa Sijobang tradisi Minangkabau yang sarat petuah disusul Rabab anak Maek. Beberapa tamu undangan menyempatkan diri meninjau stan-stan pameran malam itu.
Pada hari penutupan, Sabtu, 15 November 2025, festival dibuka dengan musik pembuka dan pemimpin acara yang tetap dipegang Arief dan Isra. Perwakilan lembaga adat memberikan sepatah kata, dilanjutkan sambutan dari Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan/BPK Wilayah III yang sekaligus menutup festival. Pengarahan dewan juri serta pengumuman lomba mulai dari jelajah budaya, mewarnai, menggambar, hingga kategori lainnya mewarnai rangkaian penutupan sebelum penyerahan hadiah.
Malam puncak kembali menghadirkan musik tradisi Katumbak. Sejumlah talenta lokal tampil bergantian sebelum panggung akhirnya dihidupkan suara Elsa Pitaloka, yang menutup festival dengan repertoar terbaiknya.
Di Maek, festival ini bukan sekadar pesta budaya, tapi juga merupakan upaya sebagai cara merawat masa depan melalui jejak peradaban tua yang tak henti dibaca ulang. Festival usai, tetapi gema upaya menjaga warisan tetap terasa di antara menhir-menhir yang berdiri di tanah tua itu.
