Di Nagari Aie Tabik, Payakumbuh, nama H. Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie dikenang bukan sekadar sebagai tokoh adat, melainkan sebagai penjaga ingatan kolektif.
Ia lahir pada 13 Maret 1933 di sebuah lingkungan yang akrab dengan kepemimpinan tradisional. Ayahnya, Rais Dt. Maudun, menjabat Wali Nagari Aie Tabik figur yang membentuk lanskap awal kehidupan Kamardi kecil: disiplin adat, tanggung jawab sosial, dan kesadaran bahwa sejarah tak boleh terputus dari generasinya.
Masa mudanya berkelindan dengan dunia tulis-menulis. Tahun 1954 menjadi titik mula ketika ia menapaki profesi wartawan di Harian Penerangan. Di ruang redaksi, ia belajar bahwa fakta bukan sekadar data, tapi juga yang tak kalah penting yaitu fondasi kepercayaan publik. Ketekunannya mengantar ia ke kursi Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang.
Tak berhenti di situ, ia dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumatra Barat. Dunia pers membentuk wataknya: tajam membaca peristiwa, cermat menyimpan arsip, dan tak mudah tergoda oleh gemuruh sensasi.
Namun Kamardi tak ingin berhenti sebagai pencatat. Pada 1987, ia melangkah ke gelanggang politik sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatra Barat. Bagi sebagian orang, politik dan adat kerap berjalan berseberangan. Pada dirinya, keduanya justru bertaut.
Ia membawa kepekaan budayawan ke dalam ruang kebijakan, memastikan bahwa arah pembangunan tak tercerabut dari akar Minangkabau. Puncak kiprah adatnya hadir ketika ia memimpin Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau sejak 1999 hingga akhir hayatnya. Di lembaga itu, ia berdiri sebagai penghubung antara tradisi dan perubahan zaman.
Mereka yang mengenalnya kerap menyebutnya “ensiklopedi berjalan”. Julukan itu bukan basa-basi. Kamardi memiliki kebiasaan mencatat hampir setiap peristiwa penting yang ia temui nama, tanggal, konteks, hingga serpihan cerita di baliknya. Baginya, mencatat adalah bentuk perlawanan terhadap lupa.
Di tengah arus modernitas yang deras, ia memilih menjaga detail-detail kecil yang kelak menjadi rujukan sejarah.Warisan intelektualnya menemukan bentuk paling nyata dalam buku Mesin Ketik Tua. Melalui karya itu, ia merajut kembali potongan-potongan sejarah yang tercecer di koran lama, arsip pribadi, dan ingatan para pelaku zaman.
Gaya bahasanya jernih, tidak berjarak, tetapi tetap berpijak pada data. Buku tersebut kemudian menjadi rujukan penting bagi pembaca yang ingin memahami dinamika Sumatera Barat dan Minangkabau dari sudut pandang yang lebih intim dan reflektif.
Hingga akhir hayatnya pada Sabtu, 25 Oktober 2008, dalam usia 75 tahun, dedikasinya tak surut. Ia dimakamkan di kampung halamannya di Padang Alai, Aie Tabik, tanah yang sejak awal membentuk kesadarannya tentang marwah dan martabat adat.
Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie menunjukkan bahwa menjadi wartawan, politikus, dan tokoh adat bukanlah peran yang saling meniadakan. Pada dirinya, ketiganya bertemu dalam satu garis: menjaga memori dan meneguhkan identitas. Ia pergi, tetapi catatan-catatan yang ditinggalkannya tetap menjadi suluh bagi generasi yang ingin memahami dari mana mereka berasal dan ke mana hendak melangkah.
