Student Center UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi tampak lebih ramai dari biasanya, pada Jumat (9/1/2026) kemarin. Ratusan mahasiswa, dosen, dan pimpinan kampus berkumpul dalam satu peristiwa yang menandai babak baru sejarah kemahasiswaan. Hari itu, Keni Savina resmi dilantik sebagai Presiden Mahasiswa Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) periode 2026 perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut sejak kampus ini berdiri.
Pelantikan berlangsung khidmat. Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si., hadir bersama Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan, jajaran pimpinan fakultas, dan sivitas akademika. Di tengah suasana seremonial, momen itu terasa lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan organisasi mahasiswa. Ia menjadi simbol pergeseran lanskap kepemimpinan kampus yang semakin inklusif.
Keni Savina bukan figur yang datang tiba-tiba. Mahasiswi Program Studi Manajamen Bisnis Syariah, Angkatan 2022 ini lahir pada 13 Februari 2003, dan berasal dari Jorong Bungo Tanjuang, Nagari Maek, Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota ini menapaki jalur organisasi secara bertahap. Pendidikan menengahnya ditempuh di MTsN 1 Payakumbuh, lalu dilanjutkan ke SMKN 1 Payakumbuh. Di lingkungan kampus, ia pernah mengemban amanah sebagai Bendahara Umum DEMA UIN SMDD Bukittinggi sebuah posisi yang menempanya dalam dinamika manajerial dan politik mahasiswa.
Namanya kemudian mencuat dalam Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) yang digelar 11 Desember 2025. Keni keluar sebagai pemenang, sekaligus mematahkan stigma lama soal dominasi gender dalam kepemimpinan organisasi mahasiswa. Kepada Sudut Payakumbuh, ia menegaskan motivasi awal pencalonannya, ” Saya mencoba untuk mengupayakan pengubahan paradigma serta mematahkan batasan gender yang sering kali menjadi penghambat partisipasi perempuan dalam dunia organisasi dan kepemimpinan mahasiswa. Bagi saya perempuan itu bisa juga menjadi pemimpin dan tentunya akan menjadi inspirasi bagi semua mahasiswa,” ucap perempuan yang berasal dari Negeri Seribu Menhir itu.
Dalam pidato perdananya sebagai Presiden Mahasiswa, Keni memilih nada reflektif. Di hadapan peserta pelantikan Ormawa, ia menekankan makna kepemimpinan sebagai kerja kolektif, “Kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, tetapi tentang kepedulian dan tanggung jawab terhadap mereka yang kita pimpin” ujarnya. Ia menyebut amanah ini sebagai kontrak sosial dengan seluruh mahasiswa, ”Ini adalah kontrak sosial antara saya dengan seluruh mahasiswa. Saya mengajak kita semua untuk menjadi agen perubahan yang nyata,” lanjutnya.
Dukungan institusional datang dari pimpinan kampus. Rektor Silfia Hanani dalam sambutannya menyampaikan kepercayaan kepada seluruh pengurus organisasi mahasiswa yang baru dilantik. “Selamat kepada Saudara semua yang telah dilantik hari ini. Kami titipkan UIN Bukittinggi kepada Saudara semua sebagai perpanjangan tangan pimpinan dan garda terdepan dalam memajukan kampus. Kami yakin Saudara semua adalah tonggak estafet UIN Bukittinggi yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan,” ujar Silfia.
Usai pelantikan, Keni kembali menegaskan orientasi kepemimpinannya. Kepada Sudut Payakumbuh, ia menyampaikan, ”Harapan terbesar saya adalah menjadi pimpinan perempuan yang dapat menciptakan perubahan sistemik yang berkelanjutan. Bagi saya Bukan tentang aktivisme simbolik, tetapi solusi nyata yang berdampak positif bagi kehidupan kampus dengan memberdayakan kemampuan mahasiswa yang menjadi agen perubahan.” Ia menutup dengan harapan jangka panjang, ”Saya berharap dapat meninggalkan warisan berupa sistem dan kultur organisasi yang lebih demokratis dan memberdayakan untuk generasi selanjutnya,” tutup Keni.
Dari Nagari Maek ke panggung kepemimpinan organisasi mahasiswa UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Keni Savina kini memikul ekspektasi besar. Bukan hanya sebagai presiden mahasiswa, tetapi sebagai penanda bahwa batas-batas lama di kampus mulai bergeser.
