Mengenang Yusril Djalinus: Pendiri Majalah Tempo dan Otak di Balik Sistem Redaksi Tempo

Yusril Djalinus atau yang lebih dikenal dengan sebutan YD adalah salah satu nama yang tak pernah tampil di halaman depan majalah Tempo, tetapi justru menentukan bagaimana halaman-halaman itu disusun, diolah, dan dipertanggungjawabkan. Lahir di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada 12 Agustus 1944, Yusril membawa dua dunia dalam dirinya: denyut kota besar tempat ia dilahirkan dan watak Minangkabau yang diwariskan keluarganya dari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Darah Minang itu tampak dalam disiplin, keteguhan, dan etos kerja yang kelak menjadi ciri khasnya di Tempo. Ketika bersama Goenawan Mohamad dan Christianto Wibisono mendirikan majalah tersebut pada 1971, Yusril bukan sekadar ikut menyalakan mesin redaksi. Ia merancang fondasi yang membuat Tempo bekerja sebagai sebuah institusi jurnalistik modern. Dari tangannya lahir sistem organisasi redaksi, tata kelola ruang berita, hingga mekanisme arus informasi yang rapi sesuatu yang pada masa itu nyaris belum memiliki rujukan di Indonesia.

Pada 1976, Yusril mengemban peran yang terbilang revolusioner: koordinator reportase. Posisi ini menjadi jantung kerja jurnalistik Tempo, mengatur ritme liputan, memastikan kedalaman laporan, sekaligus menjaga standar verifikasi. Awal 1983, ia dipercaya sebagai redaktur pelaksana, mempertegas posisinya sebagai pengendali kerja redaksi di balik layar. Goenawan Mohamad, dalam buku Wars Within karya Janet Steele, menyebut Yusril sebagai “arsitek sistem organisasi Tempo”—sebuah pengakuan atas peran strategis yang jarang disorot publik.

Tak berhenti di media cetak, Yusril juga membaca arah zaman. Ia mendirikan Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) dan meluncurkan Tempo Interaktif, yang kemudian dikenang sebagai pionir jurnalisme daring di Indonesia, terutama pada akhir masa Orde Baru ketika kebutuhan akan informasi cepat dan independen kian mendesak.

Setelah Tempo terbit kembali pasca-pembredelan dan reformasi 1998, Yusril beralih ke ranah bisnis media sebagai direktur pemasaran. Energinya tak surut. Ia dikenal gemar menyuntikkan semangat ke tim iklan, hingga dijuluki “Kick YD” sebuah metafora bagi dorongan tanpa lelah yang ia berikan.

Yusril Djalinus wafat pada 2 Februari 2009 di RS Mitra Keluarga, Jatinegara, sebelumnya ia disebut terkena stroke. Ia meninggalkan seorang istri, Enung Nurjanah, tiga anak, serta empat cucu. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Pasar Senen, Purwakarta. Dalam sejarah Tempo, Yusril adalah bukti bahwa kerja jurnalistik bukan hanya soal tulisan, melainkan juga tentang sistem, ketekunan, dan warisan etos yang sebagian mengalir dari darah Minangkabau yang ia bawa sejak awal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *