Di Jorong Kuranji, Kenagarian Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, berdiri sebuah bangunan yang kerap membuat orang berhenti dan menoleh dua kali. Warnanya putih bersih, gayanya Eropa, dan skalanya mencolok di antara rumah-rumah warga. Orang-orang kemudian memberinya nama yang tak lazim untuk lanskap pedesaan Minangkabau: Rumah Barbie.
Sebutan itu tidak lahir dari papan nama resmi, melainkan dari para pengunjung luar daerah. Mereka menilai rumah bergaya Belanda tersebut “imut” dan tidak biasa, meski sama sekali tidak berwarna merah muda seperti rumah Barbie versi mainan. Dari mulut ke mulut dan unggahan media sosial, nama Rumah Barbie melekat, lalu menyaingi sebutan lain yang lebih netral: Rumah Putih atau Rumah Belanda.
Bangunan ini didirikan sekitar 2006 dan hingga kini masih menjadi milik pribadi salah seorang warga setempat. Usianya memang belum tua dalam ukuran sejarah arsitektur, namun kehadirannya sudah cukup lama untuk menjadi penanda ruang yang berbeda. Dengan ukuran yang besar dan halaman luas berlapis rumput hijau, rumah ini tampak berdiri sendiri, nyaris terpisah dari ritme kampung di sekitarnya.
Di dalamnya, rumah itu menyimpan enam kamar. Jumlah yang terbilang sedikit jika dibandingkan dengan luas bangunan. Kesan lapang justru menjadi ciri utama, seolah rumah ini lebih dirancang untuk menghadirkan pengalaman visual ketimbang efisiensi ruang. Tak heran, banyak orang datang bukan untuk menginap atau masuk ke dalam, melainkan sekadar melihat dari dekat dan berfoto di bagian luarnya.
Lokasinya sekitar 25-30 menit perjalanan darat dari Kota Payakumbuh. Jalannya tidak selalu lurus dan rumah itu berada di area yang relatif terpencil. Namun, warga sekitar dikenal ramah menunjukkan arah kepada siapa pun yang bertanya. Rumah Barbie pelan-pelan menjadi semacam penanda geografis lokal bukan lewat peta resmi, melainkan ingatan kolektif.
Popularitasnya melonjak seiring media sosial, terutama Instagram. Foto-foto rumah putih bergaya Eropa di tengah lanskap hijau Lima Puluh Kota menghadirkan kontras yang memikat. Namun daya tariknya tak berhenti pada visual. Rumah Barbie juga menyimpan cerita tentang bagaimana imajinasi, arsitektur, dan ruang lokal bisa berjumpa tanpa harus sepenuhnya seragam.
Bagi sebagian orang, rumah ini hanyalah bangunan unik. Bagi yang lain, ia adalah destinasi singkat sebuah jeda visual di tengah perjalanan. Untuk benar-benar memahami pesonanya, satu cara tetap tak tergantikan: datang dan melihat sendiri.
