Sang Mursyid: Syekh H. Sulaiman dan Ingatan yang Tersisa dari Jorong Padang Rantang

Di Jorong Padang Rantang, Kenagarian Koto Tuo, Kec. Harau, nama Syekh H. Sulaiman dulu disebut dengan penuh takzim. Kini, hanya sedikit yang mengingatnya. Tetapi bagi sebagian orang yang pernah mengenal wajahnya, keraguan tak pernah menemukan tempat: ia adalah ulama besar Tarekat Naqsyabandiyah, seorang mursyid dengan tuah keilmuan yang hampir melegenda.

Putra beliau yang ditemui penulis beberapa waktu lalu menyebutkan, Syekh H. Sulaiman wafat dalam usia 120 tahun, pada 1963. Dan selama hidupnya, cerita mengenai “karamah” atau setidaknya sesuatu yang diyakini masyarakat sebagai itu mengiringi jejaknya dari masa ke masa. Informasi lisan itu terus diwariskan lewat tutur bersanad, bukan lewat manuskrip atau arsip pemerintah.

Dalam fragmen sejarah lokal, setiap kali nama Syekh H. Sulaiman disebut, Belanda tak pernah jauh dari ceritanya. Penduduk tua di Koto Tuo kerap mengulang satu peristiwa: ketika tentara kolonial menangkap dan memenjarakannya, menjadikannya target operasi. Namun tak lama setelah penahanan itu, masyarakat kembali melihat sang syekh berada di kediamannya tanpa ada penjelasan yang pasti. Bagi masyarakat, kisah itu menjadi simbol bahwa ulama tarekat bukan hanya mengajarkan zikir, tetapi ikut berada di garis depan perlawanan kultural terhadap kolonialisme.

Syekh H. Sulaiman juga disebut sebagai mamak dari Syekh Nurullah Dt. Anso. Meski tak terlalu masyhur di kalangan ulama di Luhak Limo Puluah, tapi posisi nya turut menegaskan posisi pentingnya dalam jaringan genealogis ulama Minangkabau. Sementara itu, pengaruh ajaran dan sanad keilmuannya diyakini menyebar sampai ke sejumlah surau di Talawi, Payakumbuh Utara, bahkan meluas hingga ke Lipat Kain, Riau dan beberapa wilayah di luar Sumatra Barat. Belum ada penelitian tekstual yang memetakan seluruh jejak sanad ini. Namun narasumber bersanad menyebutkan jaringan murid-muridnya masih bertahan, meski sebagian guru tuo telah wafat.

Dalam percakapan sejarah Minangkabau, ulama tarekat sering kali absen dari narasi arus utama. Padahal, seperti ditegaskan banyak peneliti dan diamini oleh masyarakat penghapusan tindakan kejahatan kolonial di Minangkabau mustahil dilepaskan dari peran para ulama tarekat. Syekh H. Sulaiman hanya satu dari sekian nama besar. Ada pula Syekh Angku Lakuang Karamaik Simpang Sugiran; dan dalam konteks yang lebih luas, sejarah mencatat kedekatan Tan Malaka dengan Syekh Abdul Wahid Asy-Syadzily bukti ruang perjumpaan pemikiran antara aktivisme politik dan spiritualitas sufi.

Kini, fisik surau tempat Syekh H. Sulaiman mengajar sudah tiada; yang tersisa hanya puing-puing kecil dan makam sederhana. Tidak ada nama besar yang terpahat di atas batu granit hanya sunyi yang bekerja. Namun sejarah tak selalu hidup dari tugu dan prasasti. Ia bertahan selama masih ada yang menceritakan.

Mungkin itulah satu-satunya cara agar jejak seorang mursyid tak hilang ditelan waktu: mewariskan kisahnya pada anak cucu sebelum nama itu padam di ingatan terakhir manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *