Si Lunak dan Kresna: Sepasang Legenda dari Gelanggang Pacuan Kuda Sumatra Barat

Nama itu pelan, lembut, hampir seperti bisikan. Si Lunak. Namun di gelanggang pacuan kuda Sumatra Barat pada dekade 1970 –1980, panggilan itu justru membuat pemilik kuda lain gemetar. Jika lelaki bertubuh kecil itu sudah menunggang kuda kesayangannya, Kresna, pasar taruhan langsung bergerak tak menunggu bendera start. Para petaruh buru-buru mengubah angka; para pemilik kuda gelisah, seperti menunggu kekalahan datang.

Popularitas Si Lunak bukan sekadar cerita nostalgia di tribun penonton. Di masa jayanya, dari Galanggang Payakumbuh hingga Bukit Gombak, dari Ampang Kualo di Solok sampai Bancah Laweh di Padang Panjang, namanya adalah jaminan kemenangan. Di setiap gelanggang pacuan Bukittinggi, Pariaman, Padang, Sijunjung bisik penonton hanya satu: “Kresna dipacu siapa hari ini?” Sebab semua orang tahu, bila yang memegang adalah orang lain, peluang Kresna ambruk terbuka. Tapi bila di punggung kuda itu ada Si Lunak, hasilnya hampir pasti: kemenangan.

Ironi menarik dari legenda ini justru terletak pada kesederhanaannya. Ketika ditemui di usia senjanya delapan puluh tahunan jelas terlihat bahwa hidup tak mengubah apa pun dari dirinya. Tubuhnya masih kecil, wajah tenang, mata bening, pendengaran masih tajam, hanya gigi yang tak lagi lengkap. Namun sorot percaya diri itu masih sama seperti ketika ia muda, saat mengasingkan dentum tribun dengan fokus pada detak jantung kudanya.

Rahasia menangnya dulu sempat jadi teka-teki. Apakah soal jamu? Latihan keras? Atau trik? Jawabannya jauh lebih sederhana. “Kresna saya pacu tanpa cambuk,” ujarnya ringan dalam satu percakapan. Ia memilih berbicara kepada kudanya, bukan menghukumnya. Di tengah lawan yang tangguh, ia menunduk dan berbisik ke telinga Kresna. Seakan meminta kesetiaan, bukan memerintah. Dan kuda itu menjawab dengan tenaga penuh, tanpa paksaan.

Penyuka pacuan kuda Sumatra Barat mengenang sosok itu dengan penuh hormat. Dalam sebuah unggahan Facebook, Ronald Azis menulis:

“Beliau bisa di katakan seniornya Mak Kanciah di Galanggang pacu kudo… Joki Lunak di bagian punggung plana. Joki Lunak & Joki Barat dua nama yg melegenda di gelanggang pacuan kuda sumbar.”

Akun lain, Nedri Sisi Basa, menyampaikan kenangan dalam bahasa Minang:

“Ndee Mak Lunak komah… joki legendaris dengan trik babisiak ka talinggo kudonyo… lihai manju gkekkan kaki joki pesaing lainnyo bisa-bisa jatuah joki tu.”

Tengok pula kisah yang beredar dari gelanggang Bukit Ambacang di Bukittinggi. Seseorang datang menawarkan satu set bendi baru berikut kuda jika ia bersedia membuat Kresna kalah. Ia menolaknya tanpa diplomasi. Tak ada ruang untuk jual beli harga diri. Di gelanggang, ia hanya tunduk pada sportivitas.

Maka tak aneh bila sampai akhir hidup, tubuh renta Si Lunak tetap sehat dan pikiran tetap jernih. Orang dekatnya percaya, itu buah dari jalan hidup yang lurus: kehalalan makanan, kesetiaan pada profesi, dan menolak tipu daya sekecil apa pun iming-imingnya.

Barangkali itulah pelajaran paling penting dari legenda ini: kemenangan sejati bukan hasil dari cambukan, tapi dari hubungan kepercayaan. Dan sejarah membuktikan, selama Si Lunak memegang kendali, Kresna berlari bukan karena takut melainkan karena dicintai.

Di antara gegap gempita tribun yang kini tak seramai dulu, nama Si Lunak tetap bergaung. Ia bukan hanya joki. Ia adalah simbol semurninya olahraga: kesederhanaan, kejujuran, dan kesetiaan pada kuda yang menjadi separuh jiwanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *