Setiap 15 Januari, Nagari Situjuah Batua di kaki Gunung Sago kembali sunyi oleh ingatan. Di sanalah, pada subuh yang berdarah tahun 1949, puluhan pemimpin dan pejuang Republik gugur dalam sebuah operasi militer Belanda yang rapi, cepat, dan mematikan. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah sebagai Peristiwa Situjuah. Namun di balik tragedi kolektif itu, ada satu nama yang tak pernah selesai diperdebatkan: Kamaluddin atau yang lebih dikenal sebagai Tambiluak.
Dalam memori sosial masyarakat Sumatra Barat, Tambiluak kerap disebut sebagai pengkhianat. Sebuah label yang diwariskan lintas generasi, diulang dari mulut ke mulut, dan seolah mengendap sebagai kebenaran tunggal. Tapi sejarah, seperti kata E.H. Carr, bukan sekadar kumpulan fakta, tapi juga tafsir atas fakta. Di situlah posisi Tambiluak menjadi problematis hingga hari ini.
Tambiluak bukan tokoh anonim. Ia lahir di Padang Panjang dan tumbuh sebagai layaknya anak Minangkabau biasa. Bertubuh pendek dan gempal dalam istilah lokal disebut ’sabuku’ ia menjalani hidup sebagai tukang pangkas rambut di Payakumbuh sejak masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang. Pangkas rambut Sutan Kerajaan Barbier di Jalan Gajah Mada menjadi ruang sosialnya, tempat bertemunya berbagai kalangan, dari rakyat biasa hingga elite terdidik.
Salah satu pelanggan setianya adalah Dr. Anas, bekas Kepala Rumah Sakit Payakumbuh, seorang intelektual pribumi dengan orientasi politik yang belakangan kontroversial. Dari relasi sosial inilah Tambiluak dikenal luas. Ia juga aktif di dunia olahraga dan menjadi sayap kanan andalan klub sepak bola Horizon, kesebelasan tangguh Payakumbuh. Julukan “Tambiluak” sendiri disematkan karena larinya yang gesit, menyerupai serangga hitam kekuningan yang hidup di pohon aren.
Jejak Tambiluak dalam sejarah nasional mulai tampak setelah Proklamasi. Ia termasuk tiga pemuda Payakumbuh yang dikirim menghadiri Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta, 10 November 1945. Sepulang dari kongres itu, ia menikahi Nur Cahaya, gadis sekampung halaman. Tak lama kemudian, Tambiluak bergabung dengan Batalyon Singa Harau di bawah Mayor Makinuddin HS, bertugas di bagian Perlengkapan dan Pengangkutan sebuah posisi strategis dalam perang gerilya.
Di sinilah kisahnya memasuki wilayah abu-abu sejarah.
Menjelang Januari 1949, Sumatra Barat berada dalam tekanan militer hebat. Agresi Militer Belanda II telah menduduki Payakumbuh dan Bukittinggi. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) terdesak, bergerak dari satu nagari ke nagari lain. Dalam situasi itu, diputuskan sebuah rapat gabungan besar di Situjuah Batua untuk menyusun strategi pertahanan menyeluruh.
Rapat rahasia itu dihadiri sekitar 50 tokoh sipil dan militer: dari Khatib Sulaeman, Letkol Dahlan Ibrahim, Mayor Makinuddin HS, hingga perwira lapangan. Rapat berlangsung malam 14 Januari 1949 hingga dini hari, menghasilkan keputusan ofensif: menyerang dari berbagai jurusan, menyempurnakan logistik, dan mengobarkan kembali semangat perang rakyat.
Namun subuh belum sempat merekah, pasukan Belanda sudah mengepung lembah Situjuah dari empat arah. Operasi itu presisi. Seolah-olah lokasi rapat telah diketahui sebelumnya. Serangan mendadak itu menewaskan 69 orang termasuk pemimpin militer dan pejabat sipil. Sebagian kecil lolos dengan melompat tebing atau bersembunyi di semak dan kincir padi.
Di titik inilah nama Tambiluak mulai dipersoalkan.
Kesaksian Syamsul Bahar, anggota Badan Penerangan, kerap dikutip. Ia mengaku bertemu Tambiluak sebelum rapat dan merasakan perubahan sikap yang mencolok. Tambiluak terlihat murung, tertutup, bahkan dalam kesaksian lanjutan sempat melontarkan cerita bernada kemenangan Belanda di tengah para pejuang yang kelelahan. Sebuah sikap yang, dalam konteks revolusi, mudah ditafsirkan sebagai simpati pada musuh jika hanya bersandar pada keterangan Syamsul Bahar tersebut.
Setelah tragedi itu, kecurigaan mengeras menjadi tuduhan. Dalam sebuah pertemuan di Aia Randah, laporan-laporan lapangan menyimpulkan bahwa Tambiluak patut dicurigai. Letkol Dahlan Ibrahim mengeluarkan perintah: Tangkap Tambiluak hidup atau mati.
Apa yang terjadi berikutnya mencerminkan wajah keras hukum revolusi. Tambiluak dijemput dengan dalih rapat lanjutan. Ia diserang secara spontan oleh seorang bernama Tobing. Golok melayang, mengenai kepala namun tak mematikan. Tambiluak lolos, terluka parah, dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain Gaduik, Padang Mengatas, hingga Kamang.
Beberapa hari kemudian, kabar itu datang: Tambiluak tewas disergap pasukan Panah Beracun bekas anak buahnya sendiri di kawasan Padang Tarok. Tak ada pengadilan. Tak ada berita acara. Sejarah menutup kisahnya dengan darah.
Namun penilaian tunggal tak pernah benar-benar mapan.
Haji Khairuddin Makinuddin, putra Mayor Makinuddin HS, menolak menyebut Tambiluak sebagai pengkhianat. Menurutnya, pesawat intai Belanda sudah berputar-putar di kawasan Situjuah jauh sebelum rapat. Artinya, kebocoran informasi bisa datang dari banyak kanal bukan satu orang.
Namun, ada yang menarik datang dari seorang sejarawan terkemuka, Mestika Zed, dalam harian Singgalang edisi 15 Januari 1996, menegaskan bahwa Tambiluak tidak dapat dikategorikan sebagai pengkhianat.
Menurut Mestika Zed, tidak tersedia bukti empiris yang memadai untuk mendukung tuduhan bahwa Tambiluak berperan sebagai pengkhianat dalam Peristiwa Situjuh Batua pada 15 Januari 1949.
Oleh sebab itu, anggapan tersebut lebih tepat dipahami sebagai konstruksi isu yang kemudian diperluas secara berlebihan. Untuk memperkuat posisinya, Mestika mengajukan penalaran berbasis teori serta logika historis.
Sejarawan yang juga berasal dari Kab. Lima Puluh Kota, tepatnya Batuhampar itu mencoba menguraikan, bahwa pada pagi hari terjadinya Peristiwa Situjuah, Tambiluak berupaya melarikan diri guna mencari Dahlan Jambek di Kamang, yang saat itu dikenal sebagai figur pimpinan militer Sumatra Barat paling berpengaruh. Situasi ini dipicu oleh kenyataan bahwa istri dan anak Tambiluak telah dibunuh oleh pasukan bersenjata. Dalam kondisi demikian, pelariannya merupakan tindakan rasional demi mempertahankan hidup, sebab secara logis, setelah keluarganya dieksekusi, dirinya berada dalam ancaman langsung. Namun, ketika tiba di wilayah Baso, tembakan pasukan Belanda justru mengakhiri hidupnya.
Sejarah, pada akhirnya, bukan pengadilan yang menjatuhkan vonis final. Ia adalah ruang tafsir yang terus terbuka. Tambiluak boleh jadi bersalah. Bisa pula tidak. Yang pasti, ia hidup dan mati dalam pusaran revolusi yang kejam, di mana garis antara pahlawan dan pengkhianat sering kali ditentukan bukan oleh bukti, tapi oleh siapa yang selamat untuk bercerita (penutur).
Dan Situjuah, setiap Januari, tetap menjadi penanda: bahwa sejarah tak pernah sesederhana hitam dan putih.
