Tan Malaka Menampakkan Diri di Solo

Februari 1946, setelah lama bergerak dalam bayang-bayang, Tan Malaka akhirnya kembali memperlihatkan dirinya di depan publik. Ia meninggalkan rumah Ismail dan menumpang di kediaman Soekarni di Jalan Merapi 12. Beberapa hari kemudian, tepat pada 10 Februari, sosok yang selama bertahun-tahun menjadi legenda gerakan kiri itu muncul di Solo, di tengah keramaian Kongres Persatoean Wartawan Indonesia (PWI) yang digelar di lingkungan Sositet Mangkunegaran. Kehadirannya segera menyedot perhatian.

Hari itu adalah hari kedua kongres. Soemantoro, pemimpin sidang, datang membawa Tan Malaka dengan mobil kuning yang mencolok. Sekitar pukul setengah sebelas siang, Tan Malaka mendapat giliran berbicara. Banyak mata tertuju ke arahnya. Bagi sebagian hadirin, ini adalah perjumpaan pertama dengan tokoh yang selama bertahun-tahun hanya dikenal lewat pamflet, tulisan, dan bisik-bisik politik.

Rosihan Anwar, yang hadir di sana, mencatat kesan fisiknya dengan teliti. “Ia sudah berusia 52 tahun. Hidungnya pesek, sorot matanya tajam, perawakannya sedang. Ia berpakaian kemeja hitam dan celana dari bahan khaki, dan tatkala ia tiba dia memakai topi helem tropis berwarna hijau muda. Ia berbicara dengan suaranya agak parau.” Wartawan muda lain mengingatnya sebagai sosok yang “kekar, kulitnya kehitam-hitaman. Matanya cekung dalam tetapi wajahnya keren. Suaranya anteb.”

Rivai Marlaut, wartawan yang juga hadir, menegaskan kesan serupa: Tan Malaka berkulit gelap dan bermata tajam mencolok. Tentang matanya itu, Tan Malaka sendiri pernah berkata, “Mata saja seperti mata rusa, karena saja selalu berhati-hati di semua pelosok dunia ini, karena musuh saja ingin menangkap saja, ialah semua negara-negara kapitalis dunia.” Ada pula detail kecil yang membuatnya mudah dikenali: ia mengenakan arloji bukan di pergelangan tangan, melainkan hampir di sikunya. Para pengikut fanatiknya meniru kebiasaan itu, termasuk Chairul Saleh.

Tan Malaka berbicara tanpa teks. Bahasa yang digunakannya bernada Minangkabau, dengan diksi yang kerap terasa arkais. Ia menyelipkan istilah-istilah daerah seperti parewa, sebutan Minangkabau untuk preman. Menurut Rosihan Anwar, sebagai orator Tan Malaka “tidak terlalu mengesankan”; perhatian sebagian hadirin berkurang, bahkan ada yang tampak menguap. Namun kesan itu tidak sepenuhnya seragam.

Sjamsudin Tjan, yang pernah mendengarnya berbicara di kongres Partai Persatuan, justru melihat sosok yang berbeda. Ia menggambarkan Tan Malaka sebagai pribadi serius, berpandangan tajam, bertubuh tegap, dan berperilaku sederhana. “Sebagai orator ia mampu membikin orang-orang yang bimbang menjadi teguh, para pendengar yang ketakutan menjadi berani dan siap mengorbankan nyawa mereka untuk perjuangan. Ia bisa berbicara selama berjam-jam tanpa membuat pendengar menjadi jemu, dengan suaranya yang keras dan jernih, dan sebagai agitator pidatonya bisa membikin bulu kuduk anda berdiri.”

Pidato itu berlangsung sekitar dua setengah jam. Setelah selesai, Tan Malaka disambut tepuk tangan, diantar keluar ruangan, lalu segera pergi bersama Soemantoro dan Ida Sanawi, sekretaris harian Kedaulatan Rakjat yang kelak menjadi istri Rosihan Anwar. Ida Sanawi mengenangnya sebagai pribadi yang “pendiam, jentel, dan malu-malu”.

Dalam pidatonya, Tan Malaka memulai dengan kisah pengembaraan panjangnya, lalu beralih ke persoalan politik aktual. Ia menegaskan bahwa perjuangan tidak bisa dijalankan hanya dengan “logika dan analogi” dari satu haluan tetap. Yang dibutuhkan, katanya, adalah pola berpikir revolusioner-dialektis, “menggunakan segala kesempatan jang ada menurut waktu, tempat dan keadaan”. Politik, menurutnya, tak mengenal resep baku: “Jang sekarang mendjadi musuh, mungkin besok mendjadi kawan dan sebaliknja.”

Ia juga mengingatkan agar Indonesia tidak gentar menghadapi negara-negara adikuasa. Perselisihan di antara mereka justru harus dibaca sebagai peluang. Dasar perjuangan Indonesia, tegasnya, bukan sentimen ras, melainkan kepentingan ekonomi. Dari titik itulah haluan politik harus ditetapkan.

Tan Malaka kemudian merumuskan kontradiksi dunia dalam empat pasangan: antara negara imperialis dan tanah jajahan, antara kaum kapitalis dan kaum pekerja, antara sesama negara kapitalis-imperialis, serta antara pihak pemenang dan pihak kalah perang. Uraian ini membawa pendengarnya berkeliling peta dunia, dari satu konflik ke konflik lain.

Menutup pidatonya, ia berkata, “diplomasi bambu runcing Indonesia telah menarik perhatian dunia internasional, dan bahkan telah dijadikan sebagai tema diskusi di Dewan Keamanan. Tapi jangan diharapkan di PBB. Kemerdekaan bukanlah sebuah hadiah, tapi suatu hak mutlak.”

Bagi Tan Malaka, penampilan di Solo bukan sekadar selingan. Ia memanfaatkan forum itu untuk memengaruhi ratusan pembentuk opini publik para wartawan muda yang kelak berhadapan langsung dengan pemerintah. Seperti dicatat Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, kehadiran singkat itu memberi Tan Malaka modal penting dalam adu kekuatan politik yang akan segera menyusul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *