Syair yang Tak Pernah Usai: Cinta Seorang Inyiak Canduang kepada Ibunya
Di Minangkabau awal abad ke-20, ketika debat antara Kaum Tua dan Kaum Muda menyalakan bara intelektual di surau-surau, sebagian ulama masih memilih pena dan syair sebagai senjata. Mereka tidak mengangkat suara dalam podium, tetapi menorehkannya dalam bait-bait berirama yang menyentuh…
Read More