sudutpayakumbuh- Muhammadiyah mengadakan Pengajian Daerah Muhammadiyah Payakumbuh, Sumatera Barat, di Masjid Ansharullah Muhammadiyah Payakumbuh.Minggu (11/10/2026)
Dalam tausiyah utamanya, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Padangpanjang-Batipuh X Koto, Ustadz Zulkifli Idrus, mengingatkan kembali hakikat penciptaan manusia yang pada dasarnya berorientasi pada penghambaan dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Ia menjelaskan bahwa konsep manusia paripurna dalam Al-Qur’an direpresentasikan melalui julukan Ulul Albab, yaitu orang-orang yang senantiasa mengaitkan segala bentuk aktivitasnya dengan peringatan kepada Sang Pencipta sebagaimana tersirat jelas dalam firman Allah Ta’ala surah Ali ‘Imran ayat 190–191.
“Sifat Ulul Albab tidak terbatas pada ruang ibadah ritual semata, melainkan tercermin dalam seluruh keadaan hidup—baik saat berdiri, duduk, maupun berbaring. Dzikir menjadi fondasi yang menggerakkan akal dan pikiran untuk memikirkan keagungan ciptaan-Nya,” ujar Ustadz Zulkifli.
Lebih lanjut, Ia menerangkan bahwa pondasi utama dalam beragama adalah Dzikir (mengingat Allah) dan Syukur (menghargai serta memanfaatkan nikmat Allah sesuai petunjuk-Nya). Seluruh bentuk ibadah dalam Islam, mulai dari shalat, puasa, zakat, hingga haji, pada intinya bermuara pada dzikrullah.
Menurutnya, pemahaman dzikir dalam Muhammadiyah tidak boleh disempitkan hanya sebatas lafaz lisan di atas sajadah, melainkan harus mencakup tiga dimensi terpadu: lisan, hati, dan perbuatan.
“Dzikir lisan melalui pengagungan nama Allah melalui puji-pujian, doa, dan bacaan Al-Qur’an. Dzikir hati menjaga kesadaran batin, keikhlasan, serta ketundukan penuh kepada Allah dalam setiap jengkal niat. Dzikir perbuatan adalah pembuktian kesadaran mengingat Allah Ta’ala ke dalam akhlak mulia, kepedulian sosial, dan etika berorganisasi,” ujarnya
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir, menekankan urgensi membaca dan memahami ayat-ayat Allah Ta’ala sebagai bagian dari Dzikrullah dalam mempengaruhi cara seorang muslim menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam konteks gerakan Muhammadiyah,l ayat-ayat Allah Ta’ala adalah pendorong untuk melahirkan berbagai bentuk Amal Usaha Muhammadiyah.
“Amal usaha Muhammadiyah tak boleh jadi mesin organisasi yang kering nilai spiritual. Setiap aktivitas baik memelihara anak yatim, melayani masyarakat, mengajar, merawat orang sakit, dan mengelola persyarikatan adalah bagian terpadu dari pengamalan ayat-ayat Allah Ta’ala dan dzikir kita kepada Allah Ta’ala,” tutupnya
