Syekh Ibrahim Kumpulan ”Angguik Balinduang” dan Dedikasi Masa Lampau

Di Kumpulan, sebuah nagari yang tenang di Kab. Pasaman, sejarah intelektual tasawuf tumbuh jauh dari hiruk-pikuk polemik zaman. Surau Tinggi Kumpulan tercatat sebagai salah satu poros awal Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di ranah Minang, menyusul Barulak dan Batuhampar. Dari ruang sederhana inilah, transmisi ilmu batinsilsilah ruhaniyah dirawat lintas generasi.

Nama yang tak terpisahkan dari Kumpulan adalah Maulana Syekh Ibrahim, ulama kharismatik yang wafat pada 1914 dalam usia lebih dari satu abad. Di kalangan murid, ia lebih dikenal dengan gelar Angguik Balinduang. Dalam peta sejarah tasawuf Minangkabau, Syekh Ibrahim menempati posisi sentral sebagai mata rantai sanad Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah setelah Syekh Isma’il Al-Khalidi Al-Minangkabawi Al-Makki, tokoh besar yang wafat pertengahan abad ke-19.

Jejak keilmuannya berakar hingga ke Tanah Suci. Di Jabal Abi Qubaisy, Makkah, Syekh Ibrahim menerima ijazah irsyad langsung dari Sayyid Abdullah Afandi, figur penting pewaris Maulana Khalid Al-Baghdadi. Dengan ini, rasanya cukup untuk melegitimasi kapasitas spiritualnya dan juga menegaskan otoritasnya bukan hanya sebagai mursyid lokal, melainkan bagian dari jaringan transnasional sufisme Sunni.

Pasca wafatnya Syekh Ibrahim, Surau Kumpulan tidak surut. Ia justru beradaptasi dengan arus kelembagaan Islam modern. Surau ini kemudian berafiliasi dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), ditandai dengan berdirinya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Kumpulan. Khalifah utama Syekh Ibrahim, Syekh Muhammad Sa’id Bonjol wafat 1978 tercatat sebagai salah satu muassis dan tokoh sepuh PERTI, menjembatani dunia tasawuf dan pendidikan formal.

Menariknya, para pewaris Surau Tinggi Kumpulan secara turun-temurun menyandang gelar Tuanku Saidina Ibrahim. Gelar ini bukan gelar biasa tapi adalah simbol dan tafa’ul, ikhtiar spiritual mengambil berkah dari sosok sang pendiri.

Selanjutnya diketahui jika pengaruh Syekh Ibrahim menjalar luas, melampaui batas surau dan nagari. Ia berdiri sebagai poros dalam jejaring ulama generasi berikutnya, terutama dalam silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang bertaut rapi dari satu jiwa ke jiwa lain, seperti yang telah disinggung di atas.

Dari majelis ilmunya lahir nama-nama yang kelak dikenal sebagai ulama besar: Syekh Syahbuddin Tapanuli, Syekh Muhammad Nur dari Baruah Gunung Lima Puluh Kota, Syekh Muhammad Bashir Lubuk Landur, Syekh Yunus Tuanku Sasak, Syekh Daud Durian Gunjo, hingga Syekh Mudo Tibarau di Kinali. Mereka bukan sekadar murid, melainkan mata rantai spiritual yang meneruskan denyut zikir dan suluk gurunya.

Sebagaimana para arif billah lainnya, Syekh Ibrahim juga dikenal memiliki karamah, bukan untuk dipamerkan, melainkan sebagai isyarat kasih Tuhan kepada hamba pilihan-Nya. Masyarakat menuturkan kisah ketika banjir melanda negeri Talu, beliau hanya menggoreskan tongkatnya ke tanah, dan air perlahan surut seakan tunduk pada kehendak Ilahi. Ada pula cerita tentang lenyapnya catatan seorang sarjana Inggris yang berniat mendebatnya soal tasawuf—seolah ilmu rasional itu luluh di hadapan pengetahuan batin.

Hari kepergiannya pun diselimuti keanehan: Koto Tuo dipenuhi manusia asing berpakaian putih, kabut pucat menggantung di udara, dan kupu-kupu kuning beterbangan selama empat puluh hari, lalu lenyap seperti salam perpisahan dari alam.

Wasiat Syekh Ibrahim Kumpulan menjadi fondasi etis tradisi ini: berpegang teguh pada Al-Qur’an, istiqamah dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, memuliakan ulama, membersihkan hati dari hasad dan dengki, serta menolak merendahkan siapa pun. Di tengah perubahan zaman, pesan moral ini menjadikan Kumpulan bukan sekadar situs sejarah, melainkan laku hidup tasawuf yang terus bernapas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *