Para khalifah dan mursyid dari sejumlah surau di Kabupaten Lima Puluh Kota gelar pertemuan, Minggu, 17 April 2026 di Surau Buya Is Engku Tanjuang, Ketinggian, Sarilamak.
Acara ini merupakan agenda tahunan rumpun silsilah sanad keilmuan Surau Syekh Mahmud Abdullah Tarantang dan sekaligus merupakan pengukuhan gelar khalifah dan mursyid dari kegiatan suluk yang dilaksanakan pada bulan puasa lalu.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Bupati Lima Puluh Kota Safni Sikumbang, serta Kasi Humas Polres Lima Puluh Kota AKP Kurnia Adifa, S.H., dan tokoh penting lainnya.
Apria Putra, M.A. Hum, dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, bertindak sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, pria yang bergelar Angku Mudo Khalis itu menegaskan pentingnya keseimbangan antara syariat dan tarekat.
“Keduanya saling lazim melazimi. Jika Syari’at kuat, niscaya kuat pula tarekatnya. Bila tarekat kuat, maka niscaya kuat pula syari’atnya. Kalau kita bertarekat, namun syari’at melemah, tanda bahwa tarekat kita tidak sempurna pengamalannya,” kata Apria.
Saat ditanya Sudut Payakumbuh, Apria menjelaskan kehadirannya sebagai bentuk memenuhi undangan para guru untuk memberikan tausiyah.
“Pagi ini saya diminta memberi tausiyah sebelum tauliyah pengukuhan gelar mursyid khalifah di lingkungan Surau Suluk Silsilah Syekh Mahmud Abdullah Tarantang, di Surau Buya Is Engku Tanjuang Ketinggian, Sarilamak. Kegiatan ini adalah acara tahunan pertemuan mursyid dan khalifah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah beberapa surau dibawah silsilah Syekh Tarantang,” ujarnya.
Ia juga menegaskan peran historis tarekat di Limapuluh Kota, dimana Islam di Limapuluh Kota ini tonggak tuonya adalah Tarekat Naqsyabandiyah.
“Tokoh besar Tanah Air seperti Moh. Hatta dan Tan Malaka itu adalah dibawah asuhan ulama-ulama Tarekat Naqsyabandiyah belaka,” kata filolog Sumatera Barat itu.
