Senjata Bernama Pikiran: Menggugat Hegemoni Hardiknas dan Reclaiming Tan Malaka sebagai Guru Bangsa

Setiap tanggal 2 Mei, kalender nasional kita memberi tanda merah yang khidmat. Di sekolah-sekolah, instansi pemerintah, hingga lini masa media sosial, narasi tunggal tentang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) meledak secara serentak.

Kita melihat blangkon, mendengar kutipan “Ing Ngarsa Sung Tuladha”, dan melakukan glorifikasi tahunan terhadap sosok agung Ki Hadjar Dewantara (KHD). Tentu, KHD adalah fondasi, seorang arsitek kultural yang meletakkan dasar humanisme dalam pendidikan kita. Namun, ada sebuah ironi yang terus berulang dalam perayaan ini: kita seolah melakukan gatekeeping sejarah, membiarkan satu jendela terbuka lebar sementara jendela lainnya, yang mungkin menawarkan pemandangan lebih liar dan membebaskan tetap tertutup rapat.

Nama itu adalah Tan Malaka.

Sudah saatnya kita bertanya dengan nada analitik yang tajam: Mengapa dalam setiap diskursus “Merdeka Belajar”, nama pria asal Pandam Gadang ini jarang sekali bergema di ruang gema (echo chamber) kebijakan publik? Padahal, jika kita membedah anatomi pemikirannya, anak Rangkayo Sinah Simabur itu bukan sekadar “revolusioner profesional”, dirinya juga seorang pedagog ulung yang menawarkan metodologi dekolonisasi nalar yang jauh melampaui zamannya. Tan Malaka layak, bahkan wajib, duduk di singgasana yang sama sebagai Tokoh Pendidikan Indonesia.

Melampaui “Pabrik” Kepatuhan

Mari kita mulai dengan melakukan unpacking terhadap kondisi pendidikan kita hari ini. Di era di mana pendidikan sering kali tereduksi menjadi sekadar “pabrik” untuk mencetak sekrup-sekrup industri, kritik pria yang sangat mencintai Syarifah Nawawi itu, ternyata hampir seabad lalu terasa sangat related.

Baginya, pendidikan kolonial bukan dirancang untuk memanusiakan manusia, tapi untuk menciptakan tenaga kerja yang patuh (docile labor). Manusia dalam sistem ini hanyalah objek yang fungsinya disamakan dengan mesin; jago mengeksekusi instruksi, namun lumpuh dalam inisiatif, sepertinya kita juga melihat hal tersebut hari ini.

Tan Malaka melihat bahwa pendidikan tanpa semangat pembebasan hanyalah bentuk penjajahan gaya baru yang lebih halus. Jika KHD melawan dengan pendekatan kultural-humanistik melalui Taman Siswa, Tan Malaka menghantam dengan pendekatan struktural-intelektual melalui sekolah-sekolah Sarekat Islam (SI) di Semarang yang ia bangun, walau sebenarnya peran guru dan aksi itu telah ia ambil di Sanembah.

Di sana, ia tidak hanya mengajarkan baca-tulis, tapi mengajarkan cara membongkar hierarki. Ia ingin murid-muridnya memiliki growth mindset meminjam istilah modern, yang berbasis pada kesadaran kelas dan harga diri sebagai bangsa yang merdeka.

Antidote untuk Logika Mistika: Framework Madilog

Pencapaian intelektual terbesar pria yang sering dipilin pusar oleh ibundanya ini, dan yang sekiranya bisa membuatnya layak disebut Bapak Logika Indonesia adalah Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika).

Pun dalam konteks pendidikan, Madilog juga harusnya tidak dipahami sekadar jargon kiri saja, tapi mestilah dipahami layaknya sebuah framework berpikir kritis yang sangat esensial untuk menghadapi tantangan zaman.

Tan Malaka mengidentifikasi sebuah patologi mental yang ia sebut sebagai “Logika Mistika”. Ini adalah mentalitas pasrah, percaya pada takhayul, menunggu “Ratu Adil”, dan menerima kemiskinan sebagai takdir ilahi yang tak terelakkan. Dalam bahasa anak muda sekarang, ini adalah bentuk toxic positivity atau kepasrahan buta yang mematikan daya kritis. Logika mistika membuat rakyat hanya bertanya “Siapa yang akan menyelamatkan kita?”, bukan “Bagaimana kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri?”.

Pendidikan ala Tan Malaka menawarkan antidote atau penawar racun melalui tiga pilar:

Materialisme (Ilmu Bukti): Mengajarkan kita untuk berpijak pada fakta dan data nyata (evidence-based), bukan katanya atau asumsi kosong.

Dialektika: Memahami bahwa dunia ini dinamis, penuh kontradiksi, dan perubahan lahir dari pertentangan ide. Ini adalah dasar dari problem-solving yang kompleks.

Logika: Alat untuk merangkai argumen yang valid dan menghindari logical fallacy yang kini marak di kolom komentar media sosial kita.

Tanpa Madilog, pendidikan kita hanya akan menghasilkan “sarjana penghafal” yang gagap saat dihadapkan pada disrupsi informasi dan tsunami hoaks. Tan Malaka adalah orang pertama yang secara tegas mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memerdekakan nalar dari belenggu klenik dan dogma.

Pendidikan sebagai Tindakan Politik

Satu hal yang membuat Tan Malaka tampak “berbeda” dan mungkin “menakutkan” bagi kemapanan adalah keberaniannya menyatakan bahwa pendidikan adalah tindakan politik. Baginya, tidak ada pendidikan yang netral. Pendidikan selalu memihak: apakah ia memihak pada status quo yang menindas, atau ia memihak pada pembebasan rakyat.

Estetika pemikiran pria dengan nama lahir Ibrahim ini sebenarnya terletak pada konsistensinya. Ia tidak hanya berteori di atas menara gading. Ia adalah guru yang turun ke akar rumput, menulis buku dalam pelarian, dan membangun sistem sekolah yang mandiri secara finansial dan ideologis. Inilah yang kita sebut sebagai pendidikan yang membumi atau contextual learning. Ia mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar pajangan di kepala untuk meraih gelar prestisius, melainkan bahan bakar untuk aksi nyata di lapangan.

Di tengah maraknya fenomena diploma mill (pabrik ijazah) dan komersialisasi pendidikan, gagasan Tan Malaka tentang kemandirian (self-reliance) menjadi sangat krusial. Ia menginginkan manusia Indonesia yang tidak hanya jago secara teknis, tapi juga memiliki integritas ideologis untuk tidak menjadi “kompas berjalan” yang hanya mengikuti arus kepentingan otoritas.

Menjembatani KHD dan Tan Malaka: Sebuah Sintesis

Menempatkan Tan Malaka dalam narasi Hardiknas bukan berarti kita ingin menegasikan peran Ki Hadjar Dewantara. Justru, kita membutuhkan sebuah sintesis yang estetis di antara keduanya. Jika KHD memberikan kita “jiwa” dan “karakter” (etika), maka Tan Malaka memberikan kita “tulang punggung” dan “pedang” (logika dan dialektika). Keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama dari dekolonisasi Indonesia.

Kita tidak bisa hanya memiliki karakter yang santun tapi nalarnya tumpul. Sebaliknya, kita juga tidak bisa memiliki nalar yang tajam tapi kehilangan akar kemanusiaan. Hardiknas seharusnya menjadi perayaan atas keberagaman metodologi pembebasan ini. Mengabaikan Tan Malaka dalam kurikulum sejarah pendidikan kita adalah sebuah kerugian intelektual yang besar bagi generasi mendatang.

Penutup: Meretas Rantai Belenggu

Saat ini, kita hidup di era algoritma yang sering kali menciptakan penjara mental baru berupa filter bubble. Kita dibombardir informasi, namun sering kali kehilangan kemampuan untuk melakukan analisis dialektis. Dalam situasi ini, Tan Malaka hadir kembali dengan pesan yang sangat bold: “Pendidikan itu menyulut api, bukan mengisi ember.”

Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan reclaiming terhadap warisan intelektual Tan Malaka. Kita butuh sosoknya untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kemerdekaan berpikir. Kita butuh metode Madilog-nya agar siswa-siswi kita tidak menjadi konsumen informasi yang pasif, tapi menjadi subjek yang aktif.

Mari kita rayakan Hardiknas dengan lebih berani. Mari kita perdengarkan kembali kutipan-kutipan tajam dari Madilog di samping wejangan-wejangan dari Taman Siswa. Karena pada akhirnya, pertempuran terbesar bangsa ini bukan lagi melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan rantai kebodohan, logika mistika, dan ketidakadilan sistemik yang masih membelenggu pikiran kita.

Jika pendidikan adalah senjata, maka Tan Malaka adalah orang yang paling fasih mengajarkan kita cara mengasah dan menggunakannya. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari merdeka sejati, dari nalar hingga aksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *