Categories Warta

Karhutla Kembali Terjadi di Harau, Pemkab Lima Puluh Kota Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

LIMA PULUH KOTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Peristiwa tersebut terjadi di Jorong Taratak, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Rabu (9/9/2026) dini hari.

Kebakaran menghanguskan area hutan sekitar 500 meter persegi. Api pertama kali diketahui masyarakat sekitar pukul 00.15 WIB.Informasi mengenai kebakaran kemudian disampaikan kepada pihak nagari untuk segera mendapatkan penanganan. Laporan tersebut ditindaklanjuti dengan pengerahan personel dan peralatan ke lokasi kejadian.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota bersama Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, dan masyarakat setempat melakukan upaya pemadaman.

Petugas bersama warga berjibaku mengendalikan api hingga kebakaran berhasil dipadamkan.BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di kawasan rawan.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan sumber api secara sembarangan, khususnya pada kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.

Peristiwa karhutla tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa ancaman bencana masih perlu diantisipasi, terutama dengan kesiapan personel, peralatan, serta koordinasi lintas instansi.

Pemkab gelar apel kesiapsiagaan

Beberapa hari setelah kejadian karhutla di Harau, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota menggelar Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026 di GOR Singa Harau, Sarilamak, Selasa (15/9/2026).

Wakil Bupati Lima Puluh Kota Ahlul Badrito Resha bertindak sebagai pembina apel yang diikuti unsur TNI, Polri, Basarnas, organisasi perangkat daerah (OPD), instansi terkait, organisasi sosial, dan relawan.

Apel tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

“Kesiapan personel, sarana prasarana, peralatan, komunikasi dan koordinasi dalam menghadapi bencana merupakan bentuk nyata Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota,” kata Ahlul Badrito Resha.

Menurut Ahlul, Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki berbagai potensi bencana. Ancaman tersebut antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, serta berbagai bencana hidrometeorologi lainnya.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika bencana telah terjadi, tetapi harus dipersiapkan sejak sebelum bencana datang.

“Karena itu kita harus mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi, bukan menunggu setelah bencana datang,” ujarnya.

Personel dan peralatan disiagakan

Dalam apel tersebut, kekuatan personel dari berbagai unsur sekaligus sarana dan prasarana penanggulangan bencana turut disiapkan.

Unsur yang terlibat antara lain TNI, Polri, Basarnas, OPD, instansi terkait, organisasi sosial, dan relawan.

Sementara itu, berbagai kendaraan dan peralatan pendukung disiapkan untuk menghadapi kondisi darurat.

Peralatan tersebut meliputi mobil pemadam kebakaran, ambulans, dapur umum, tangki air, crane, dozer, kendaraan pikap, kendaraan rescue, ekskavator, skylift, perahu karet, chainsaw, dan light tower portable.

Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan tenda pengungsi, perangkat komunikasi, termasuk HT dan Starlink, serta berbagai perlengkapan SAR.

Kesiapan tersebut diperlukan karena karakteristik bencana di Lima Puluh Kota cukup beragam. Penanganan bencana, kata Ahlul, membutuhkan kecepatan sekaligus ketepatan tindakan di lapangan.

“Dalam menghadapi bencana kecepatan dan ketepatan tindakan sangat diperlukan,” katanya.

Penanggulangan bencana tanggung jawab bersamaAhlul menegaskan penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tugas BPBD.

Menurut dia, seluruh unsur pemerintahan hingga masyarakat memiliki peran dalam mengurangi risiko dan menangani bencana.

“Penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama, pemerintah daerah, TNI, Polri, OPD, kecamatan, nagari dan masyarakat,” ujarnya.

Ia meminta seluruh personel yang terlibat menjaga disiplin dan profesionalitas selama menjalankan tugas.

Selain itu, kesiapan fisik dan peralatan harus terus diperhatikan. Koordinasi dan komunikasi antarlembaga juga perlu diperkuat agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat ketika sewaktu-waktu terjadi.

“Kepada personel yang terlibat, jaga disiplin, profesionalitas, kesiapan fisik dan peralatan serta memperkuat koordinasi dan komunikasi antarinstansi,” kata Ahlul.

Camat dan wali nagari diminta perkuat edukasi

Selain kesiapan personel dan peralatan, pemerintah daerah juga menilai edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana.Ahlul meminta camat dan wali nagari terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai potensi bencana di wilayah masing-masing.

Masyarakat perlu mengetahui karakteristik ancaman bencana di lingkungannya sekaligus memahami langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

“Kepada camat dan wali nagari untuk terus meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat agar mampu mengenali potensi bencana serta mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” tambahnya.

Menurut dia, masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesiapan menghadapi bencana akan membantu mempercepat proses evakuasi serta mengurangi risiko korban maupun kerugian.

Apel kesiapsiagaan tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Batalyon Infanteri 131/Braja Sakti, Denzipur, kepala perangkat daerah, serta unsur terkait lainnya.

Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota berharap kesiapsiagaan yang dibangun melalui kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat kemampuan daerah dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.

Kejadian karhutla di Jorong Taratak, Nagari Sarilamak, yang berhasil dikendalikan melalui kerja bersama BPBD, Damkar, TNI, dan masyarakat menunjukkan pentingnya respons cepat ketika laporan bencana diterima.

Upaya tersebut diharapkan terus diperkuat melalui kesiapan personel, peralatan, komunikasi, koordinasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat.

Semangat kesiapsiagaan itu dirangkum Pemkab Lima Puluh Kota melalui pesan agar daerah mampu tanggap menghadapi ancaman, tangkas dalam bertindak, dan tangguh dalam menghadapi bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *