PAYAKUMBUH — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia mendorong pemulihan ekonomi pelaku ekonomi kreatif di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, melalui pengembangan produk kriya sulam dan anyam.
Upaya tersebut dilakukan melalui Kegiatan Akselerasi Produk Kriya (KRIYASI) Sulam dan Anyam Visitasi II Tahun 2026 yang digelar di Hotel Mangkuto, Kota Payakumbuh, 22-24 September 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Ekraf Peduli yang ditujukan untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana alam di wilayah Sumatera.

Melalui program ini, pemerintah tidak hanya mendorong pemulihan kondisi masyarakat terdampak bencana, tetapi juga berupaya menghidupkan kembali aktivitas ekonomi pelaku ekonomi kreatif.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Ekraf Peduli dalam rangka percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana alam di wilayah Sumatera,” demikian keterangan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam rilisnya, Kamis (24/9/2026).
Sebanyak 50 pelaku kriya di Kota Payakumbuh mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 25 pelaku kriya anyaman dan 25 pelaku kriya sulam.
Dalam Visitasi II, para peserta mendapatkan pendampingan intensif selama tiga hari. Para mentor memantau perkembangan peserta sekaligus membantu mereka mengeksplorasi pengembangan produk agar memiliki kualitas dan daya saing yang lebih baik.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari Visitasi I yang telah digelar pada 26-27 Agustus 2026.

Pada tahap pertama, peserta mendapatkan pemetaan mengenai arah pengembangan produk, penyampaian konsep pengembangan, hingga persiapan pembuatan purwarupa.
Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman mengapresiasi Kementerian Ekonomi Kreatif yang memilih Kota Payakumbuh sebagai salah satu lokasi pelaksanaan KRIYASI.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif.
“Kegiatan yang memacu kreativitas seperti KRIYASI menjadi momentum yang penting dikembangkan bersama, terlebih dalam kondisi pemulihan ekonomi seperti sekarang,” kata Elzadaswarman.

Ia meminta para peserta tetap menjaga kualitas produk meskipun rangkaian pendampingan telah selesai.
Elzadaswarman juga mendorong agar produk sulam dan anyam yang dihasilkan pelaku kriya Payakumbuh terus dikembangkan dengan mengangkat budaya lokal.
Di sisi lain, produk tersebut juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar sehingga memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas, termasuk ke tingkat nasional dan global.
Menurut dia, pengembangan produk kriya tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan produksi. Pelaku usaha juga perlu memahami kebutuhan pasar dan menjaga kualitas agar produk mampu bersaing.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu, mengapresiasi antusiasme 50 peserta dalam mengikuti rangkaian Visitasi II KRIYASI.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Payakumbuh atas dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Yuke berharap pendampingan pengembangan produk dapat mendorong para pelaku kriya tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga mulai membangun identitas usaha masing-masing.
Ia mendorong peserta untuk mengembangkan merek atau brand sendiri sehingga produk kriya Payakumbuh memiliki identitas dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan KRIYASI diharapkan menjadi bagian dari proses pemulihan ekonomi sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk terus berkembang dengan memanfaatkan potensi kreatif yang mereka miliki.
Salah seorang peserta kriya sulam, Indah, mengatakan kegiatan KRIYASI memberikan kesempatan bagi pelaku kriya untuk memperoleh pengetahuan baru sekaligus memperluas jaringan.

Ia mengatakan sebelumnya sebagian pelaku kriya sulam di Payakumbuh lebih banyak bergerak pada jasa sulam.
Melalui program KRIYASI, peserta didorong untuk tidak hanya menerima jasa, tetapi juga mengembangkan produk sulam sendiri.
“Kami berterima kasih telah diberikan kesempatan untuk belajar serta mengembangkan relasi baru melalui kegiatan KRIYASI,” ujar Indah.
Menurut dia, keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelaku kriya dalam menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Ia juga berharap pengembangan produk tersebut pada akhirnya dapat membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat Kota Payakumbuh.
Dalam pelaksanaan KRIYASI, Kementerian Ekonomi Kreatif menggandeng dua lembaga untuk menghadirkan mentor yang memberikan pendampingan kepada peserta.
Mentor kriya anyam, Nova Retnawati dan Savira Chrissentya, berasal dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian.

Sementara itu, pendamping untuk kriya sulam, Aprina Murwanti dan Yusmini Murdiyah, berasal dari Rumpun Consulting yang bergerak dalam penguatan sektor ekonomi kreatif.
Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu peserta mengembangkan produk, mulai dari eksplorasi gagasan hingga menghasilkan produk kriya yang lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kementerian Ekonomi Kreatif berharap pengembangan sektor kriya melalui KRIYASI dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan ekonomi pascabencana yang berbasis pemberdayaan masyarakat.
Dengan kembali menghidupkan aktivitas produktif pelaku ekonomi kreatif, pemulihan pascabencana diharapkan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Penguatan kreativitas, keterampilan, serta kemampuan menghasilkan produk baru diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku kriya di Kota Payakumbuh.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dalam mendorong rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana melalui pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

