Josrizal Zain: Dari Geladak Pelayaran ke Pusat Kendali Kota Payakumbuh

Nama Josrizal Zain menempati satu bab penting dalam sejarah pemerintahan Kota Payakumbuh awal abad ke-21. Lahir di Bukittinggi, 10 Januari 1951, Josrizal bukan tipikal politikus yang tumbuh dari rahim partai sejak muda. Jalurnya berliku, berangkat dari dunia teknis, melewati koridor korporasi energi, sebelum akhirnya berlabuh di kursi wali kota selama satu dekade penuh.

Pendidikan awalnya ditempa di Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta. Disiplin pelaut, ketelitian navigasi, dan manajemen armada menjadi bekal awal yang kelak membentuk gaya kepemimpinannya: terukur, teknokratis, dan berbasis data. Ia kemudian melengkapi dirinya dengan gelar sarjana ekonomi dari Universitas Sriwijaya, sebuah kombinasi yang menjembatani kemampuan teknis dan manajerial. Karier profesionalnya mencapai titik penting saat ia dipercaya menjadi Manajer Armada Pertamina pada awal 1990-an, posisi yang menuntut ketegasan sekaligus kecermatan pengambilan keputusan.

Ketika Josrizal memasuki gelanggang politik lokal, pendekatannya berbeda. Ia membaca kota seperti membaca peta pelayaran. Menjabat Wali Kota Payakumbuh sejak 2002 hingga 2012, ia mengarahkan kebijakan pada sektor yang sering luput dari sorotan politik elektoral: sanitasi, lingkungan hidup, dan kesehatan publik. Di tangan Josrizal, isu-isu teknis itu diangkat menjadi agenda strategis pembangunan kota.

Hasilnya perlahan tampak. Payakumbuh mulai sering disebut dalam forum nasional. Tahun 2011, Josrizal menerima Indonesia Green Region Award, sebuah penghargaan yang kala itu hanya diberikan kepada sepuluh kepala daerah di Indonesia. Setahun kemudian, menjelang akhir masa jabatannya, Payakumbuh mencatatkan deretan capaian simbolik: Adipura, Kalpataru, SLHD, Adiwiyata, hingga MDGs Award. Penghargaan-penghargaan itu menandai keberhasilan tata kelola lingkungan dan keberpihakan pada kualitas hidup warga.

Selepas meninggalkan Balai Kota, Josrizal tak benar-benar pensiun dari urusan publik. Ia dipercaya menjadi Direktur Eksekutif Sekretariat Nasional AKKOPSI (2012–2016), memperluas pengaruhnya dari level kota ke jejaring nasional kebijakan sanitasi. Di ranah politik, ia juga memimpin DPD Partai Demokrat Sumatera Barat.

Hari ini, Josrizal Zain dikenang sebagai figur yang membawa pendekatan teknokratis ke politik lokal. Kepemimpinannya dahulu memberitahu kita bahwa pembangunan kota tak selalu ditentukan oleh retorika, tapi juga oleh kerja sunyi mengurus hal-hal paling mendasar, seperti air bersih, lingkungan, dan martabat hidup warganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *