Syaikhul Masyayikh dari Mungka: Jejak Intelektual dan Sanad Ruhani Syekh Sa’ad Al-Khalidi

Dahulu di daerah Koto Tuo, Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, ada sebuah hal besar yang menyisakan jejak cerita tentang seorang alim yang namanya melampaui batas nagari tempatnya lagir. Di surau bertingkat dua yang dikenal sebagai Surau Baru, jejak itu terasa hidup. Di sanalah Syekh Muhammad Sa’ad Al-Khalidi masyhur dengan sebutan Baliau Mungka, beliau menenun jaringan keilmuan yang kelak menjalar ke seantero Sumatra.

Kalangan murid dan sejawat menyematkan gelar Syaikhul Masyayikh Ulama Minangkabau kepadanya sebuah atribusi yang tak lahir dari retorika kosong. Sebagaimana dicatat Buya Sirajuddin Abbas dan diteruskan oleh Syekh Yunus Yahya Al-Khalidi Magek, reputasi itu bertumpu pada otoritas ilmiah dan kapasitas irsyad yang ia bangun sejak muda.

Lahir di lingkungan suku Kutianyia, ia tumbuh dalam tradisi surau yang menjadikan nagari sebagai laboratorium ilmu. Di samping itu, sejak remaja Sa’ad muda menyusuri halaqah demi halaqah. Ia berguru kepada ulama terkemuka di kampungnya, lalu memperluas cakrawala ke Tanah Suci.

Di Makkah yang ia datangi dua kali dan menetap sekitar enam tahun ia bersentuhan dengan jaringan ulama mazhab Syafi’i. Salah satu gurunya disebut sebagai Mufti mazhab Syafi’i di Makkah, figur yang memperkukuh fondasi fiqh dan ushul fiqh-nya. Tradisi talaqqi di Masjidil Haram membentuknya bukan hanya sebagai faqih, melainkan juga sebagai ahli mantiq dan mutakallim yang terlatih dalam dialektika.

Namun, jejak terpentingnya justru terpatri dalam dunia tasawuf dan tarekat. Di bawah bimbingan Syekh Abu Bakar Tobiang Pulai dan Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih, ia menempuh suluk dalam disiplin Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah sebuah cabang yang menekankan dzikir khafi, rabithah, serta kesinambungan sanad ruhani (silsilah).

Dari para guru itu ia menerima ijazah irsyad, tanda otoritas untuk membimbing murid dalam maqamat dan ahwal perjalanan spiritual. Yang mana jika dalam terminologi tasawuf, ia dipandang sebagai mursyid kamil mukammil pembimbing yang tak hanya sempurna secara pribadi, tetapi juga menyempurnakan muridnya.

Sekembalinya ke Mungka, ia mendirikan Surau Baru bersama masyarakat. Surau itu menjelma pusat transmisi ilmu. Di sana, ia mengajarkan fiqh, tauhid, ushul fiqh, hingga tasawuf. Yang membuat para penuntut ilmu tercekat adalah keberaniannya membuka kajian kitab berat mazhab Syafi’i, Tuhfah al-Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haytami delapan jilid tebal yang jarang disentuh halaqah Minangkabau kala itu. Mengurai teks berlapis-lapis argumentasi itu membutuhkan ketekunan dan otoritas metodologis; dua hal yang ia miliki.

Pada saat yang sama, ia menjadi benteng bagi praktik tarekat di tengah kritik kaum pembaharu yang menuduhnya bid’ah. Bagi Sa’ad, tarekat adalah jalan tazkiyatun nafs yang bersandar pada sanad sahih, bukan sekadar ritual. Ia menegaskan bahwa ortodoksi syariat dan kedalaman hakikat bukan dua kutub berlawanan, melainkan satu tarikan napas dalam tradisi Ahlussunnah.

Jejaring muridnya meluas. Dari Canduang hingga Bukittinggi, dari Magek hingga Solok, nama-nama besar pernah bersimpuh di hadapannya. Di antaranya Syekh Sulaiman Arrasuli dan Syekh Abdul Wahid Asshalihi tokoh penting kelahiran Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Ada pula Syekh Yahya al-Khalidi Magek, Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, hingga Syekh Makhudum Solok yang pernah mengajar di Masjidil Haram. Melalui mereka, sanad intelektual dan spiritual Sa’ad menjelma arus besar dalam lanskap Islam tradisional Sumatra.

Tak hanya mengajar, ia juga menulis. Sejumlah risalah dan nazham lahir dari tangannya. Kemahirannya menggubah syair Arab secara spontan menjadi buah bibir; kemampuan yang bahkan tak mudah bagi penutur asli. Salah satu nazham silsilahnya masih dilantunkan dalam halaqah tawajuh, mengikat ingatan kolektif murid pada rantai transmisi ruhani.

Sosok lawan sekaligus teman dari Syekh ahmad Khatib al-Minangkabawi itupun wafat pada Rabu, 23 Rabiul Awwal 1340 Hijriah sekitar 1922 Masehi. Ia dimakamkan di samping Surau Baru, surau yang menjadi saksi denyut hidupnya. Di kompleks itu pula bersemayam putranya dan sejumlah murid dekatnya, seakan silsilah ilmu tak pernah benar-benar putus.

Perlu diketahui juga, bahwasanya ia satu generasi dengan ulama-ulama terkemuka, di antaranya ada Syekh Mahfuzh Tremas dan Syekh Khalil Bangkalan, mahaguru para pendiri Nahdlatul Ulama. Sebuah penanda bahwa jaringan ulama Nusantara awal abad ke-20 terhubung dalam lanskap yang sama: menjaga sanad, merawat tradisi, dan meneguhkan ortodoksi.

Di Mungka, nama Syekh Sa’ad masih disebut dengan takzim. Bukan semata sebagai tokoh lokal, tapi ia merupakan simpul penting dalam sejarah intelektual Islam Minangkabau, dan penjaga silsilah yang memastikan ilmu tak tercerabut dari akarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *