Di ketinggian Malalo, angin Danau Singkarak berembus pelan menyentuh kompleks gubah makam tua yang berada di sebuah bukit. Di sanalah bersemayam seorang ulama yang namanya beredar luas dalam sanad Syathariyah Minangkabau: Syekh Tuanku Limo Puluah Malalo, dikenal pula sebagai Uwai Limo Puluah. Ia hidup dalam rentang panjang 1730 hingga 1930 sebuah usia yang, bila mengikuti inskripsi marmer pada sebuah besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda, mencapai dua abad. Di balik angka yang mengundang takjub itu, terbentang kisah pergulatan intelektual, polemik teologis, dan kerja sunyi membina surau-surau tarekat di pesisir dan darek.
Nama kecilnya Djinang. Pada masa muda ia dipanggil Pakiah Majolelo, lalu ketika reputasinya matang ia masyhur sebagai Syekh Tuanku Limo Puluah Malalo. Gelar “Limo Puluah” menyimpan dua kisah. Versi pertama bertolak dari sebuah muzakarah terbuka di Luhak Limo Puluah wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Lima Puluh Kota. Di sana, sejumlah ulama darek mempertanyakan pengajaran “Martabat Tujuh” dalam tradisi Syathariyah. Diskursus ini bukan perkara sepele. “Martabat Tujuh” menyentuh wilayah metafisika konsep tajalli, a‘yan tsabitah, hingga relasi wujud antara al-Haqq dan makhluk yang kerap dituduh melampaui batas ortodoksi bila tak dibimbing muhaqqiq sejati.
Polemik memuncak karena sebagian kalangan menilai pengajaran itu terlalu filosofis dan berpotensi menyeret pada zindik. Tradisi intelektual Minangkabau kala itu memang menyaksikan tarik-menarik antara ulama pesisir yang mewarisi jejaring Syathariyah dari Ulakan dan ulama darek yang lebih kritis terhadap spekulasi metafisika. Dalam forum itu, Tuanku Limo Puluah tampil sebagai pembanding. Satu demi satu hujjah diajukan; satu demi satu pula ia jawab dengan istidlal yang runtut, menautkan syariat dan hakikat tanpa memutus sanad pemikiran kepada para pendahulu seperti Abdurrauf As-Singkili. Hingga akhir muzakarah, argumentasinya tak tergoyahkan. Sejak itu, ia disebut “Tuanku Limo Puluah” sebuah pengakuan atas kapasitasnya mempertahankan ajaran di hadapan ulama Luhak.
Versi kedua lebih sederhana: ia lama menetap dan mengajar di Luhak Limo Puluah, sehingga nisbah itu melekat padanya. Apa pun asal-usulnya, gelar tersebut menandai pengaruhnya melampaui Malalo. Ia menjadi simpul penting dalam sirkulasi ilmu Syathariyah, ketika Ulakan tak lagi menjadi satu-satunya poros, dan surau-surau darek mulai menguat sebagai pusat transmisi.
Jejak gurunya tak sepenuhnya terdokumentasi sebagian manuskrip peninggalannya raib ditelan waktu. Namun tradisi lisan dan beberapa catatan menyebut ia berguru kepada Tuan Syekh Abdullah Surau Gadang Padang Japang (w. 1901), figur penting pendidikan tradisional abad ke-19 yang memiliki sanad keilmuan dari Surau Taram dan Tuanku Syekh Sungai Durian. Dari jalur ini, ia menyerap disiplin fikih Syafi’i dan adab pengajaran surau. Ia juga menimba ilmu pada Tuanku Syekh Abdurrahman Lubuak Ipuah Pariaman, seorang ulama Syathariyah dengan silsilah yang bersambung ke Burhanuddin Ulakan. Di Lubuak Ipuah, ia tak hanya belajar, tetapi dipercaya mengajar indikasi bahwa ia telah mencapai maqam keilmuan yang diakui.
Sekembali ke Malalo, ia mendirikan surau di kaki bukit kelak dikenal sebagai Surau Uwai Limo Puluah. Sistem pengajarannya mengikuti pola halaqah: murid duduk melingkari guru, menyimak, mencatat, dan menyalin teks dari naskah induk. Kurikulum mencakup fikih antara lain Minhaj al-Talibin karya Yahya bin Sharaf an-Nawawi tauhid, tasawuf, serta ilmu alat seperti nahwu melalui Awamil dan Fawakih Janiyyah. Tradisi penyalinan tangan menjadikan setiap murid turut menjadi penjaga transmisi teks.
Namun denyut utama surau itu adalah pengajaran Syathariyah. Di sana, konsep berkelindan, riyadhah, dan zikir disampaikan dalam bingkai tazkiyatun nafs. Kitab-kitab karya Abdurrauf Singkel seperti Tanbih al-Masyi diduga menjadi rujukan. Dalam ruang-ruang kayu surau itu, diskursus “Martabat Tujuh” tak lagi sekadar polemik, melainkan laku spiritual yang terjaga adabnya.
Menariknya, Uwai Limo Puluah tak berhenti pada pengajaran tekstual. Ia juga dikabarkan turut dalam mengembangkan Salawat Dulang atau Salawat Talam sebagai medium pedagogis. Syair-syair Minang yang sarat metafisika dilantunkan dengan irama, menjembatani abstraksi wujudiyah dengan bahasa rakyat. Bait-bait seperti “Nyawa jo tubuah lah nyato sakabek” menyiratkan ajaran tentang kesatuan eksistensial dalam kerangka tauhid, tanpa terlepas dari pagar syariat. Di tangan sang syekh, seni menjadi instrumen dakwah, bukan sekadar hiburan.
Rentang hidupnya yang panjang membuatnya sezaman dengan ulama besar Nusantara seperti Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdus Samad al-Falimbani, dan Muhammad Nafis al-Banjari. Ia berada dalam satu horizon intelektual yang ditandai konsolidasi tarekat dan pembentukan ortodoksi Ahlussunnah di kepulauan Melayu.
Pada 28 Agustus 1930, ia wafat. Prosesi pemandiannya dikenang sebagai peristiwa haru: masyarakat berebut air bekas mandinya, mencari berkah dari sosok yang selama dua abad menjadi rujukan. Ia dimakamkan tak jauh dari suraunya, di ketinggian bukit Malalo seakan tetap mengawasi jalur transmisi ilmu dari atas.
Silsilah keilmuan yang bersandar kepadanya melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh. Di antaranya Syekh Angku Aluma Koto Tuo (w. 1961), yang menguatkan posisi Syathariyah di darek hingga disebut menyaingi Ulakan. Ada pula figur yang dikenal sebagai Pakiah Majolelo yang diidentifikasi sebagian sebagai H. Abdul Latief Tuanku Imam Gapuak serta Syekh Mato Aie Pakandangan (Muhammad Aminullah bin Abdullah), ulama kharismatik yang menjadi rujukan banyak surau. Nama lain seperti Syekh Balinduang Pilubang menambah panjang jejaring itu.
Dari Malalo, jejaring itu menyebar. Bukan melalui pamflet atau surat kabar, melainkan lewat sanad, ijazah, dan reputasi. Dalam lanskap Minangkabau yang dinamis di mana tarekat, adat, dan pembaruan saling bertaut. Uwai Limo Puluah berdiri sebagai penjaga keseimbangan: mempertahankan kedalaman metafisika tanpa melepaskan disiplin syariat.
Hari ini, Uwai mungkin masih diperbincangkan dari mulut ke mulut. Dan juga dalam setiap silsilah Syathariyah yang dibacakan di Minangkabau, namanya masih disebut. Sebuah penanda bahwa di balik polemik dan perdebatan, sejarah keilmuan Nusantara dibangun oleh figur-figur yang bekerja dalam kesunyian mengikat generasi lewat ilmu, adab, dan keteguhan menjaga martabat ajaran.
