Yo Sabana Mada Ang, Ibrahim: Anak Nakal Rangkayo Sinah yang Kemudian Dikenal dengan Sebutan Tan Malaka

“Yo Sabana Mada Ang, Ibrahim.”
Mungkin begitu gumam ibunya dengan dialek Luhak Limo Puluah yang lembut namun getir, sembari memutar pusar anaknya yang bandel itu. Sejak kecil, Ibrahim kelak dikenal sebagai Tan Malaka memang lebih mirip anak harimau yang tak betah diam. Ia berlari, melompat, suka mandi di tang aie, tapi di sebalik itu anak Rasad Chaniago itu menantang dunia yang baginya terlalu kecil untuk menampung rasa ingin tahu. Dalam dirinya, keberanian dan kenakalan tumbuh bersisian seperti dua sulur yang saling lilit.

Sebagaimana anak-anak Minangkabau lainnya, Tan kecil dibesarkan dalam suasana yang sarat dengan nilai agama dan tradisi bela diri. Namun baginya, silat bukan jalan utama, hanya permainan palengah-lengah hari kalau kata orang Minang.

Ia lebih sering berlumur lumpur sawah ketimbang keringat gelanggang. Tapi justru permainan itulah yang menempanya: dari tiap luka dan teguran, dari tiap hukuman yang menampar harga diri. Pernah, karena berenang atau orang Minang menyebutnya ”Mandi-Mandi” ia menyeberangi Sungai Ombilin, ia hampir hanyut terbawa arus. Diselamatkan seorang teman, Tan harus menanggung malu. Ayahnya menghukumnya di tepi jalan, mulutnya disumpal kekang kuda agar belajar menahan diri.

“Sesudah melihat saya dengan kekang kuda di mulut itu, dan banyak anak-anak berkerumun, ibu tidak merasa puas,” kenangnya. Atas desakan sang ibu, Guru Gadang menjatuhkan hukuman pilin pusar sebuah pelajaran yang mencubit tubuh dan jiwa sekaligus.

Tapi bukannya jera, Tan justru terus bermain-main dengan bahaya. Ia pernah dikurung di kandang ayam karena melempar batu bersama anak kampung lain. Pernah pula menantang maut menyelam di bawah perahu yang melintas di sungai. Ia selalu kembali menertawakan rasa sakit yang dihadiahkan oleh kenakalan.

Suatu hari, saat bermain perang sembur di tepi kali, nasib kembali mengujinya. Saat teman-temannya kabur, Tan tetap bertahan, menyembur lawan hingga menyerah. Ia tak sadar bahwa Guru Gadang sudah menunggu di tepi, tangan terangkat, lima jari siap menghukum. “Jika aku naik ke tepian untuk berpakaian, lima jari Guru Gadang sudah menantiku,” tulisnya. Dalam hidupnya, kemenangan sering datang bersama hukuman; keberanian berjalan berdampingan dengan luka.

Tahun-tahun kemudian, keberanian itu menjelma dalam bentuk lain: keteguhan. Saat menempuh studi di Belanda, dua bersaudara indo, OS dan HS, menguji kesabarannya. OS, yang sombong dan suka berkuasa, tiba-tiba mencekik lehernya. “Rupanya bukan secara main-main, sebab saya rasa leher saya tertekan dan susah untuk bernafas,” tulis Tan dalam Dari Penjara ke Penjara. Tapi darah harimau di tubuhnya tak diam. Ia membalas, dan OS pun menyerah. “Yang kena sepit kepiting bukannya saya!” candanya ringan, humor khas perantau yang menertawakan bahaya.

Namun ujian tak berhenti di situ. HS, adik OS, terus mencaci maki ibu kos mereka seorang perempuan tua yang ramah dan sabar. Bagi Tan, penghinaan terhadap yang lemah adalah batas terakhir kesantunan. Maka ketika telinganya kembali mendengar kata-kata kotor dari mulut HS, ia pun meloncat tanpa pikir panjang. “Entah bagaimana mulanya, saya meloncat dan dia terpental menghantam dinding,” kenangnya. Sejak saat itu, HS menjulukinya De Tijger si Harimau. Julukan itu melekat seumur hidupnya.

Bertahun kemudian, saat ia jadi buronan di Hong Kong, naluri harimau itu kembali menyelamatkannya. Saat ditangkap polisi, ia melancarkan satu tendangan cepat ke belakang lutut petugas dan kabur dari jerat maut. “Eerste hulp bij Ongelukken,” ujarnya, seolah menertawakan hidup yang berkali-kali ia tipu. Bahkan ilmu silat sederhana yang dulu hanya selingan masa kecil, kini jadi penentu antara hidup dan mati.

Pada akhirnya kita mengerti, jika Tan Malaka tumbuh dari luka, tawa, dan keteguhan. Ia tak pernah memilih jalan mudah. Dari perkampungan di Kosiak Kuduang, Pandam Gadang, Tepian Ombilin hingga jalan-jalan sempit Hong Kong, dari pilin pusar sampai perburuan politik, anak kesayangan Horensma itu selalu hidup dengan satu naluri: bertahan, menyerang, lalu tertawa dalam sunyi, meski kadang melarat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *