Di Jorong Belubus, Nagari Sungai Talang, Kec. Guguak, Kab. Lima Puluh Kota, perubahan itu tumbuh perlahan di lereng bukit. Jika selama ini kebun-kebun warga akrab dengan jagung, terong, cabe, umbi-umbian, cokelat, hingga jahe, dalam beberapa bulan terakhir satu komoditas baru mulai mencuri perhatian: kopi. Sesuatu yang dulu nyaris tak masuk dalam horizon pertanian masyarakat Jorong Belubus, kini mulai ditanam berbaris di lereng-lereng perbukitan.
Gejala itu paling kentara di Bukit Sindiah, sebuah bukit yang menonjol di kawasan Belubus. Dari pengamatan di lapangan, hampir separuh kawasan bukit itu kini ditumbuhi kopi robusta. Tanaman-tanaman muda telah merimbun menutup lereng, meski belum memasuki masa panen. Pergeseran ini menandai upaya diversifikasi komoditas warga, sekaligus eksperimen baru dalam memanfaatkan lahan yang selama ini kurang produktif.
Sebetulnya kultur kopi bukan sama sekali asing di kawasan ini. Di balik perbukitan Belubus, Jorong Taratak, Nagari Kubang, sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra kopi rakyat. Dari sana lahir Kopi Yunizar, merek lokal yang telah bertahan lebih dari dua dekade. Kini jejak itu seperti merambat ke Belubus.

Salah seorang yang ikut membuka babak baru itu adalah Muhammad Reki (24 tahun). Di lahan sekitar satu hektare, alumnus UIN Bukittinggi itu mulai menanam seribu batang kopi robusta sejak Februari lalu. Namun ikhtiar itu tak ringan. Cuaca panas berkepanjangan dan jauhnya sumber air menjadi ujian utama.
“Untuk menanamnya lebih kurang 2 bulan yang lalu, tepatnya bulan Februari, ada 1000 batang yang saya tanam, dan kini tingginya lebih kurang baru 40-50 centimeter,” ucapnya.Ia mengaku, sebagian bibit tak mampu bertahan. “Tantangan akhir-akhir ini ya cuaca yang selalu panas dan ada beberapa yang baru ditanam ini mati, kurang lebih 200 an batang, tantangan berikutnya jauh dari suplai atau sumber air,” tuturnya.
Baginya, kopi adalah kerja sabar. Panen baru bisa dinikmati setelah tiga tahun. “Untuk panen ya kita mesti nunggu 3 tahun dulu,” katanya.
Ketika ditanya alasan memilih robusta, ia menyebut itu rekomendasi banyak orang.Di tengah kebun mudanya, Reki menyimpan harapan sederhana.
“Semoga kopi ini lebih tumbuh bagus, begitu pun juga cuaca mendukung,” tutup Reki ketika ditanya di kebun kopinya.
Kepala Jorong Belubus, Fauzan Azima, melihat geliat ini sebagai tanda kesadaran baru warga terhadap produktivitas lahan.
“Mengenai hal ini, saya cukup kagum dengan masyarakat terkait yang berusaha meningkatkan lahan agar produktif dari sebuah ladang maupun lereng perbukitan, karena saat ini banyak lahan yang bisa dibilang kurang produktif, dan karena ini alhamdulilah lahan semakin banyak yang produktif,” ucap Fauzan kepada Sudut Payakumbuh, Minggu (26/04/26).
