sudutpayakumbuh- Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota secara resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari ke depan menyusul intensitas hujan tinggi yang memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah.
Penetapan status tersebut dilakukan sebagai langkah percepatan penanganan bencana agar bantuan dan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera disalurkan tanpa terkendala proses birokrasi.
Sekretaris Daerah Limapuluh Kota, Herman Azmar, bersama unsur pimpinan daerah menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Keselamatan warga adalah prioritas mutlak,” tegas Herman Azmar saat rapat penanganan bencana di Aula Dinas Kesehatan Limapuluh Kota, Sabtu (16/5/2026).
Dengan diberlakukannya status tanggap darurat, pemerintah daerah segera mengalokasikan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp2,5 miliar untuk mendukung penanganan bencana. Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pengungsi, penyediaan logistik, layanan kesehatan, hingga operasional alat berat guna membuka akses jalan yang tertutup material longsor.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat yang berada di kawasan bantaran sungai dan daerah perbukitan agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.
Dalam rapat koordinasi tersebut, sejumlah wali nagari menyampaikan kondisi kerusakan infrastruktur di wilayah masing-masing, mulai dari irigasi rusak, jalan amblas, hingga akses transportasi yang terputus akibat banjir dan longsor.
Wali Nagari Situjuah Ladang Laweh, Mawardi Dt Sinaro Nan Paneh, menyebut kapasitas keuangan nagari sangat terbatas untuk menangani dampak bencana yang cukup besar.
“Kami berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar penanganan dapat dilakukan secara maksimal,” ujarnya.
Saat ini, BPBD, TNI, Polri, Damkar, serta para relawan bergerak dalam satu koordinasi untuk mempercepat proses evakuasi, pembersihan lokasi terdampak, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Anggota DPRD Limapuluh Kota, Fajar Rillah Vesky, meminta agar seluruh proses penanganan dilakukan secara cepat dan terukur agar masyarakat tidak semakin terbebani.
“Jangan sampai masyarakat yang sudah tertimpa bencana justru semakin menderita karena lambatnya penanganan,” tegasnya.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Limapuluh Kota, Zaimar Hakim, mengatakan pihaknya terus memantau sejumlah titik rawan, terutama di sepanjang aliran Batang Agam dan kawasan perbukitan di jalur lintas Sumbar-Riau yang berpotensi longsor.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera mengungsi secara mandiri apabila melihat debit air meningkat drastis atau muncul retakan tanah di sekitar lereng.
“Tim Reaksi Cepat telah disiagakan selama 24 jam di sejumlah posko strategis lengkap dengan peralatan evakuasi dan dukungan logistik,” tutupnya
