Dari Payakumbuh ke Eropa: Chamelia Greeve, Perempuan Minang yang Menaklukkan Benua dengan Jamu dan Nasi Padang

Di sebuah dapur sederhana di Payakumbuh, aroma rempah pernah menjadi bagian dari keseharian seorang perempuan Minang bernama Chamelia Greeve. Ia lahir di Tiakar, tumbuh besar di Batam, lalu hidupnya berbelok jauh ke Eropa mengikuti sang suami yang berpindah kerja ke Belanda. Namun, siapa sangka, perpindahan itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang membawa cita rasa Indonesia ke panggung internasional.

Awalnya sederhana. Di tengah waktu luang sebagai diaspora, Chamelia memilih berkutat dengan sesuatu yang akrab sejak kecil: jamu. Minuman herbal khas Indonesia itu ia racik bukan sekadar untuk konsumsi pribadi, tetapi sebagai cara memperkenalkan identitas budaya kepada masyarakat Eropa. Dari dapur rumahnya di Belanda, jamu itu pelan-pelan menemukan jalannya sendiri—hingga akhirnya menarik perhatian kalangan diplomat.

“Saya hanya ingin mengisi waktu dengan hal yang saya suka, sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia,” ujar Chamelia via pesan WhatsApp, Senin 27 April 2026.

Undangan pun datang, bahkan dari Kedutaan Besar Indonesia di Belanda dan Belgia. Dalam berbagai kesempatan, jamu racikan Chamelia disajikan kepada tamu-tamu internasional, termasuk diplomat Eropa. Apa yang ia lakukan bukan sekadar usaha kecil, melainkan diplomasi budaya dalam bentuk yang paling sederhana: rasa. Pada 2018, langkahnya mendapat pengakuan ketika Retno Marsudi menyebutnya sebagai perempuan Indonesia pertama di Belanda yang secara konsisten memperkenalkan jamu sebagai warisan khas Nusantara.

Kesuksesan itu tak membuatnya berhenti. Chamelia justru memperluas langkahnya dengan menghadirkan cita rasa Minangkabau melalui usaha kuliner bernama Kayo Raso Indonesian Cuisine. Dari sinilah kisah lain dimulai kisah tentang rendang yang menyeberangi benua.

“Saya ingin orang Eropa tidak hanya mengenal jamu, tapi juga merasakan langsung masakan Minang,” kata Chamelia.

Dengan mobil sederhana, ia menjelajah kota-kota di Eropa dari Belanda, Belgia, hingga Paris di Prancis dan beberapa wilayah di Jerman. Ia mengantarkan langsung pesanan pelanggan, sekaligus mengirimkannya melalui jasa pos ke berbagai negara lain. Nasi Padang yang biasanya disantap di sudut-sudut Sumatera Barat, kini hadir di meja makan warga Eropa.

Menu yang ia bawa bukan sekadar rendang. Ada dendeng, gulai tunjang, gulai hijau itiak, hingga beragam masakan khas Minangkabau lainnya. Menariknya, pelanggan Chamelia tak hanya berasal dari diaspora Indonesia. Banyak warga lokal Eropa yang jatuh hati, terutama pada rendangnya yang kaya rempah dan rasa.

Nama Kayo Raso pun semakin dikenal. Setiap kali bazar digelar baik bazar musim panas, perayaan Independence Day of Indonesia, maupun acara yang diinisiasi KBRI stand milik Chamelia selalu dinanti. Bahkan, di Pasar Kecil Alkmaar, Belanda, masakannya pernah meraih juara pertama sebagai makanan Indonesia terenak.

Bagi Chamelia, perjalanan ini bukan sekadar tentang bisnis. Ia membawa identitas tentang tanah kelahiran, tentang tradisi, dan tentang rasa yang tak lekang oleh jarak. Dari jamu hingga rendang, dari dapur kecil hingga meja diplomat, ia menjahit kisah Indonesia di Eropa dengan caranya sendiri.

“Saya ingin membawa nama Indonesia lewat rasa,” ujarnya.

Kini, langkahnya belum berhenti. Dalam sebuah perbincangan di program Meet Nite Live Metro TV pada 23 April 2026 lalu, Chamelia mengungkapkan rencananya untuk membuka usaha di Indonesia. Sebuah pulang yang bukan sekadar kembali, tetapi juga membawa pulang pengalaman, jaringan, dan cerita panjang tentang bagaimana rasa bisa menjadi bahasa yang dimengerti dunia.

Dari Payakumbuh ke Eropa, dari jamu ke rendang dan Nasi Padang, Chamelia Greeve membuktikan satu hal: bahwa identitas budaya bisa hidup di mana saja, selama ada yang merawatnya dengan sepenuh hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *