Di Sungai Batang, sebuah nagari tenang di lereng Agam, Sumatra Barat, jejak pembaruan Islam Indonesia pernah disulut dengan nada keras dan tak jarang menyulut polemik. Dari sana lahir Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah (1879–1945), sosok yang lebih dikenal sebagai Inyiak Deer ulama, pendidik, polemikus, sekaligus arsitek penting transformasi pendidikan Islam modern di Nusantara.
Dirinya lahir dengan nama Muhammad Rasul, putra Syekh Muhammad Amrullah, seorang ulama Naqsyabandiyah yang disegani. Sejak awal, jalan hidupnya sudah diarahkan ke dunia keilmuan Islam. Pada 1894, ayahnya mengirim Muhammad Rasul ke Mekkah, pusat produksi otoritas keilmuan Islam dunia saat itu. Di Tanah Suci, ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Imam Besar Masjidil Haram, tokoh sentral ulama Jawi yang melahirkan banyak pembaru dari Nusantara.
Di Mekkah, pemikiran Inyiak Deer mulai berbelok dari tradisi tasawuf-tarekat menuju purifikasi akidah dan rasionalisasi pemahaman agama. Ia menyerap manhaj tajdid pembaruan yang menekankan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan ushul fiqh dan ilmu kalam. Bersama tokoh Minangkabau lain seperti Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Ibrahim Musa Parabek, ia menjadi bagian dari jaringan intelektual yang kelak dikenal sebagai Kaum Muda, kelompok ulama yang menggugat stagnasi tradisi dan otoritas keagamaan lama.
Sekembalinya ke tanah air, Inyiak Deer tidak memilih jalur aman. Ia justru masuk ke jantung perdebatan umat. Di Padang Panjang dan sekitarnya, ia ikut merintis Sumatra Thawalib, lembaga pendidikan Islam yang mengubah lanskap pedagogi Islam tradisional. Sistem halaqah yang pasif digeser ke sistem kelas, kurikulum diperluas, dan nalar kritis didorong. Pendidikan Islam tidak lagi sekadar transmisi hafalan, tetapi arena dialektika ilmu.
Bagi Inyiak Deer, ilmu agama harus berkelindan dengan kesadaran sosial dan rasionalitas modern. Inilah yang membuat Sumatra Thawalib sering disebut sebagai embrio sekolah Islam modern di Indonesia. Lembaga ini juga menjadi ruang lahirnya kader-kader intelektual Muslim yang kelak terjun ke dunia pergerakan, pers, dan politik kebangsaan.
Pada 1925, sepulangnya dari Jawa, Inyiak Deer membawa gagasan Muhammadiyah ke Sungai Batang. Langkah ini menandai fase penting ekspansi Muhammadiyah di luar Jawa. Gerakan ini sejalan dengan pandangannya tentang Islam yang berkemajuan, anti tahayul, dan berorientasi pada amal sosial serta pendidikan.
Pengakuan internasional atas otoritas keilmuannya datang dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Bersama Abdullah Ahmad, ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menerima gelar Doktor Honoris Causa dari institusi tertua dunia Islam itu. Sebuah pengakuan simbolik bahwa ulama Nusantara bukan sekadar murid, tetapi produsen gagasan.
Namun watak Inyiak Deer jauh dari kompromistis. Ia dikenal sebagai ulama polemis dengan lisan tajam. Dalam catatan Apria Putra, ia bahkan dianggap ekstrem pada masanya. Ia berdebat keras dengan banyak tokoh: Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Hasan Ma’shum Medan, Syekh As’ad Bugis, Mahmud Yunus, bahkan gurunya sendiri, Syekh Ahmad Khatib. Polemik bukan baginya sekadar adu pendapat, melainkan metode purifikasi pemikiran.
Risalahnya Qathi‘ Riqab Mulhidin menjadi contoh paling terang. Di sana ia mengkritik keras ajaran Nur Muhammad dan Martabat Tujuh, sekaligus menyindir para ulama tarekat dengan kalimat pedas tentang “pembual bersorban besar yang menjual tarekat kosong.” Di zamannya, hampir tak ada ulama yang berani berkata sejauh itu. Konsekuensinya jelas: ia dicap kasar, keras, bahkan arogan.
Sikap kritisnya juga membuat pemerintah kolonial Belanda waspada. Ia diawasi, hingga akhirnya diasingkan ke Sukabumi pada 1941. Tapi pengasingan tak mematikan pengaruhnya. Gagasan-gagasannya sudah telanjur menyebar, hidup di sekolah, mimbar, dan tulisan-tulisan muridnya.
Inyiak Deer wafat di Jakarta pada 2 Juni 1945, beberapa bulan sebelum Indonesia merdeka. Ia dimakamkan di Sungai Batang, kampung yang menjadi titik awal letupan gagasannya. Warisan intelektualnya bukan hanya lembaga dan buku, tetapi juga seorang anak: Abdul Malik Karim Amrullah—Buya Hamka—yang kelak menjadi ulama besar, sastrawan, dan Ketua Umum MUI pertama.
Dalam sejarah Islam Indonesia, Inyiak Deer berdiri sebagai figur pengganggu kenyamanan. Ia bukan pemelihara tradisi, melainkan pengguncangnya. Dari Sungai Batang, ia membuktikan bahwa pembaruan sering lahir dari keberanian berselisih.
