Syekh Isma’il Al-Khalidi bin Natan, Ulama Besar Naqsyabandiyah dari Padang Jopang

Di Jorong Padang Jopang, Kenagarian VII Koto Talago, Kabupaten Lima Puluh Kota, sebuah makam berdiri di atas tebing curam yang seolah setiap saat hendak runtuh. Di sanalah Syekh Isma’il Al-Khalidi bin Natan dimakamkan. Masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Baliau Tobiang Runtuah. Ia wafat pada Sabtu, 18 April 1953, sebagaimana tertera dalam inskripsi Arab di nisannya. Bagi orang-orang surau, sebutan “Syaikhuna” yang tertulis di sana menandakan satu hal penting: ia bukan sekadar alim, melainkan mursyid.

Nisbah al-Khalidi di ujung namanya mengarahkan kita pada Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, sebuah jalur tasawuf yang menekankan zikir khafi, disiplin batin, dan kesadaran tauhid yang ketat. Dalam tradisi keilmuan Minangkabau awal abad ke-20, hanya sedikit ulama yang mencapai maqam ini. Catatan hidup Syekh Isma’il memang tidak utuh terdokumentasi. Sejarawan lokal Apria Putra mencatat, generasi sesudahnya lebih banyak mengingat kisah-kisah karamah ketimbang biografi intelektual sang syekh secara lengkap.

Namun, potongan-potongan data menunjukkan pola umum ulama besar Minangkabau: pendidikan surau, rihlah ke Haramain, lalu kembali ke kampung halaman untuk membangun pusat transmisi ilmu. Syekh Isma’il diyakini pernah menimba ilmu di Makkah dan Madinah, sebelum memperoleh ijazah Naqsyabandiyah Khalidiyah. Sepulangnya, ia mendirikan Surau Tobiang Runtuah dinamai sesuai letaknya, tepat di bawah tebing batu yang curam. Di surau itulah ia mengajar fikih, hadis, serta ilmu alat seperti nahwu, sharaf, mantiq, balaghah, dan ushul fikih. Ia juga memimpin suluk, laku asketik yang menjadi jantung praktik tasawuf.

Nama Baliau Tobiang Runtuah kian masyhur bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga cerita-cerita simbolik yang hidup di ingatan kolektif. Salah satunya berkisah tentang sorban yang “berpindah” ke pucuk kelapa saat ia berwudu pada malam Lailatul Qadar sebuah narasi yang oleh antropolog agama sering dibaca sebagai bahasa simbolik karamah, bukan sekadar peristiwa magis.

Jejaring intelektualnya juga menarik. Ia disebut pernah menaubatkan Syekh Abdul Hamid Baliau Tanjuang Ipuah, ulama sezaman yang semula kritis terhadap praktik tarekat. Bahkan, Syekh Ibrahim Musa Parabek tokoh besar pembaharu pendidikan Islam di Sumatra Barat disebut sebagai salah satu murid Syekh Abdul Hamid. Melalui lisan dari Buya Amrialis, guru senior MTI Tobek Gadang, dirinya menyebutkan bahwa pernah terjadi pertemuan antara Syekh Isma’il dan Syekh Abdurrahman Al-Khalidi Kumango di Surau Tobiang Runtuah. Dialog itu, menurut cerita, menandai pertukaran pandangan yang mendalam antar dua figur penting tasawuf Minangkabau.

Hari ini, makam di atas tebing runtuh itu menjadi penanda sunyi sebuah tradisi keilmuan. Di sana, tasawuf tidak hadir sebagai romantisme spiritual, melainkan sebagai disiplin intelektual dan etika hidup. Syekh Isma’il Al-Khalidi mungkin telah wafat lebih dari tujuh dekade lalu, tetapi jejaknya tetap hidup dalam surau, silsilah tarekat, dan ingatan kolektif yang menolak runtuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *