“Jalan” termasuk kata yang paling sering digunakan dalam berbagai perumpamaan, salah satunya, untuk menggambarkan perihal kehidupan ini. Jalan mendaki, jalan berlubang, jalan berliku, jalan menikung, jalan memutar, jalan penuh batu, dan jalan berlumpur adalah di antara dari perumpamaan yang lumrah digunakan untuk menunjukkan kehidupan yang katakanlah sedang berat ataupun penuh kendala. Sebaliknya, ungkapan seperti jalan menurun, jalan terang, jalan mendatar, dan jalan penuh bunga adalah beberapa contoh populer yang digunakan untuk menyampaikan kehidupan yang katakanlah lebih ringan, santai, dan penuh sukaria untuk dijalani.

Masalahnya, kehidupan ini memang tak sederhana seperti itu. Ia memang tidak bisa dilihat dalam pembagian terpisah antara senang atau susah, berat atau ringan, dan sejenisnya. Untuk menunjukkan kondisi  yang lebih dinamis, perumpamaan-perumpamaan di atas pun diolah-gunakan dalam bentuk lanjutannya, yang beririsan, bersilangan, ataupun bertentangan satu sama lain. Ungkapan “jalan berbunga dan penuh batu” misalnya digunakan untuk menggambarkan kondisi senang dan berat yang dirasakan secara bersamaan, yaitu dengan menyimbolkan “batu” sebagai kesukaran dan “bunga” sebagai keceriaan. Atau contoh lainnya, ada juga ungkapan “jalan mendatar dan berlumpur” yang digunakan untuk menunjukkan kondisi yang  tidak sepenuhnya mudah dan sekaligus tak sepenuhnya penuh resiko. Beda misalnya dengan ungkapan “jalan menurun dan berlumpur”. Dengan kata lain, berbagai perumpamaan itu bisa dibuat semakin bersilang satu sama lain untuk menunjukkan kondisi-kondisi yang lebih dinamis dan kompleks daripada apa yang sudah dicontohkan sebelumnya.

Lalu, bagaimana dengan perumpamaan “jalan lurus”? Perumpamaan ini seringkali dimaknai sebagai jalan yang sebenarnya-benarnya; jalan utama yang mesti ditapaki umat manusia; jalan hakiki yang membawa pada kebenaran. Tapi, karena kebenaran pun tidaklah tunggal belaka bagi beragam tendensi pengetahuan manusia, maka apa yang dimaksud dengan “jalan lurus” tersebut malah bercabang pula maksudnya. Meskipun pada prinsipnya umat manusia akan sama merasakan betapa kompleksnya persoalan hidup ini, tapi di saat yang sama mereka juga tidak akan selalu memaknai jalan lurus dengan cara yang sama. Bagi manusia A, bisa saja jalan lurus itu adalah kondisi X. Sedangkan bagi manusia B, kondisi Y adalah jalan lurus yang diharapkanya. Sesuatu yang disebut “jalan lurus” atau “kebenaran” bagi seseorang tentu tidaklah semerta-merta berarti jalan lurus bagi seseorang lainnya.

Sebuah perumpamaan Minangkabau, yakni jalan luruih labuah basimpang (jalan lurus lebuh bersimpang) turut memberikan pemaknaan tersendiri tentang jalan lurus. Di sini, jalan lurus dimaknai sebagai sesuatu yang mesti selalu diwaspadai. Berada di suatu kondisi yang dapat disebut jalan lurus justru bukanlah ujug-ujug berakhir pada suatu hal yang bahagia. Seberapa pun kita yakin bahwa jalan yang sedang kita tempuh itu adalah jalan lurus (kebenaran), maka jalan itu bukanlah jalan yang menjamin total bahwa kita akan selamat sampai ke tujuan.  Sebagaimana disuratkan dalam perumpamaan Minangkabau itu: setelah jalan lurus masih ada “lebuh bersimpang”. Dan inilah bagian krusialnya. Seberapa pun kita yakin bahwa yang kita tempuh adalah jalan lurus, maka pada gilirannya kita akan dihadapkan juga pada pertemuan dari dua arah yang berbeda (simpang).

Dalam perspektif Minangkabau, “jalan bersimpang” merupakan ungkapan yang merujuk ke simpang surga atau simpang neraka. Jadi, perumpamaan ini mengajak kita untuk tidak buru-buru terlalu yakin bahwa kita akan sampai pada surga. Sekalipun jalan yang kita tempuh adalah jalan lurus, dan semua orang pun percaya bahwa itulah jalan lurus yang sebenarnya, maka tetap saja harus diingat bahwa mau tidak mau di lebuh sana sudah menunggu dua simpang yang sama mungkinnya. Artinya, berjalan di jalan lurus pun tidak berarti “sudah aman”, melainkan tetap mengandung resiko besar. Apa pun lika-liku kebahagiaan hidup yang kita jalani dan apa pun makna jalan lurus bagi kita, tentu kita diharapkan senantiasa bersikap hati-hati. Bisa saja, dikarenakan sikap kita yang terlalu percaya diri dan angkuh, jalan lurus yang kita tempuh itu malah membawa kita ke salah satu simpang yang bernama neraka. Semoga kita tidak.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published.